Sekar Anindyah Lamase | Athar Farha
Ghost in the Cell [Instagram]
Athar Farha

Horor biasanya datang dengan cara yang berisik yang bikin penonton kaget, scene darah berceceran, atau sosok menyeramkan yang jelas bentuknya. Namun, ‘Ghost in the Cell’ jauh lebih dingin dari yang kita perkirakan. Film ini ibarat lagi menyusun sesuatu yang lebih besar di balik setiap kematian tujuh karakter. 

Kematian para karakter polanya spesifik, total tujuh narapidana mati dengan cara yang sangat 'nyeni', dan semuanya mengarah pada satu benang merah: Tujuh Dosa Mematikan. 

Bukan sekadar konsep tempelan, tapi benar-benar diwujudkan lewat bagaimana mereka mati. Seolah-olah penjara itu berubah jadi teater seni, dan setiap korban adalah bagian dari instalasi seni yang kelam.

Tokek, jadi pembuka yang langsung bikin nggak nyaman. Karakternya digambarkan sebagai sosok yang dikendalikan oleh nafsu, terutama pada narapidana baru bernama Dimas. Cara kematiannya bukan cuma tragis, tapi juga simbolik. Dia ditemukan tergantung di kamar mandi, tubuhnya seperti ‘dibersihkan’ secara paksa. Mata yang ditusuk semacam simbolisme pesan yang keras, semua berawal dari apa yang dia lihat, dari hasrat yang nggak mampu dia kendalikan, berasal dari penglihatannya. Kematian ini seperti bentuk ‘penyucian’ yang dipaksakan.

Lalu ada Jeffre, kepala sipir yang dengan kesombongannya. Sosok yang merasa paling berkuasa itu mati dengan cara digantung tinggi. Ironisnya terasa jelas. Dia yang selalu ingin berada di atas, benar-benar ditempatkan di posisi tertinggi. Namun dalam kematiannya, bukan sebagai gambaran kekuasaan, melainkan bentuk ejekan. Kematiannya di ketinggian itu jadi penutup yang pahit.

Novilham, membawa energi yang berbeda: kemarahan. Dia bukan sekadar temperamental, tapi juga menyimpan tekanan yang terus menumpuk. Kematian yang menimpanya seperti refleksi dari itu semua. Tekanan, ledakan emosi yang akhirnya berbalik menghancurkan dirinya sendiri. Posisi tubuhnya jadi kayak kalajengking yang mati oleh racunnya sendiri. 

Anton, dengan dosa yang lebih sunyi tapi sama berbahayanya: iri hati. Seorang koki di penjara yang menyimpan luka setelah tahu istrinya berselingkuh. Cara sia mati brutal. Dicincang dan disiram minyak panas. Nah, di balik kekerasannya, ada pesan yang jelas. Api cemburu yang dia pendam selama ini akhirnya ‘dibalas’ dengan api yang nyata. Sesuatu yang selama ini membakar batinnya, kini menghancurkan tubuhnya.

Andy, dia mewakili ketamakan. Sosok yang lebih mementingkan kekuasaan dan materi dibandingkan keluarganya sendiri. Dia ditemukan tergantung di kipas angin yang terus berputar. Visual ini terasa kuat: hidup yang terus bergerak, terus mengejar, tapi nggak sampai ke mana-mana. Sebuah siklus yang melelahkan dan kosong. 

Buki, mungkin yang paling sunyi di antara semuanya. Dia mewakili kemalasan, tapi bukan sekadar malas fisik. Lebih ke ketidakpedulian terhadap dirinya sendiri. Dia nggak berusaha berubah, nggak mencoba keluar dari lingkaran negatifnya. Bahkan dalam kematiannya, nggak ada ‘pertunjukan’ besar. Cara dia mati ditampilkan sederhana, yup ibarat sebuah gambaran jiwa yang diabaikan. Kematiannya jelas merupakan sindiran dari hidup yang dijalani tanpa usaha bisa berakhir tanpa makna.

Nah, kali ini Prakasa. Sosok ini bukan sekadar narapidana biasa. Dia koruptor kaya yang hidup nyaman di dalam penjara. Fasilitas mewah, perlakuan istimewa. Tentu dia gambaran dari sistem yang timpang. Dan kematiannya pun jadi yang paling simbolik. Tubuhnya ditemukan dalam posisi menyerupai dewi keadilan, lengkap dengan timbangan. Namun, ada satu detail pesan yang disampaikan: harga dirinya diinjak. Seolah-olah film ini ingin bilang, seberapa tinggi pun seseorang berdiri, pada akhirnya semua akan ditimbang. Dan ketika waktunya tiba, nggak ada lagi yang bisa melindungi.

Lewat tujuh kematian ini, Joko Anwar nggak asal membuat film horor. Dia sudah menyusun peta dosa manusia, lalu menerjemahkannya ke dalam visual yang mengerikan tapi bermakna. Setiap kematian bukan cuma soal siapa yang mati, tapi kenapa mereka mati dengan cara seperti itu.

Yang menarik, semua nggak disampaikan dengan cara yang menggurui. Nggak ada ceramah panjang tentang moral. Penonton dibiarkan menyimpulkan sendiri. Efeknya jadi terasa lebih dalam. 

Kesimpulannya, Film Ghost in the Cell bukan horor yang cuma menakuti penonton, tapi punya pesan besar yang sengaja digaungkan pada para penonton untuk introspeksi diri. 

Sobat Yoursay makin penasaran dengan Film Ghost in the Cell, kan? Yuk, nonton sebelum turun layar!