Judul-judul tentang “generasi stroberi” belakangan ini rasanya gampang sekali kita temukan. Isinya kurang lebih sama: generasi yang katanya kelihatan segar di luar, tapi gampang “benyek” kalau kena tekanan. Istilah ini sering dilekatkan ke Generasi Z—mereka yang lahir di rentang akhir 90-an sampai awal 2010-an. Kedengarannya agak kejam, tapi ya begitulah label bekerja: sederhana, tapi sering menyederhanakan.
Padahal, kalau mau sedikit sabar melihat ke belakang, setiap generasi punya “julukan” dan bebannya masing-masing. Generasi yang hidup di masa perang, misalnya, sering dianggap lebih tangguh karena mereka literally bertahan hidup di tengah kekacauan. Lalu ada generasi setelahnya yang kerja keras setengah mati demi membangun ulang kehidupan. Dibandingkan itu, Generasi Z memang tidak hidup di tengah perang fisik, tapi bukan berarti hidup mereka tanpa tekanan.
Masalahnya, tekanan hari ini bentuknya beda. Bukan lagi soal bertahan dari peluru atau kelaparan, tapi soal ekspektasi, kecemasan, dan rasa tidak aman yang sering tidak kelihatan. Dan di sinilah label “stroberi” jadi terasa agak tidak adil—karena ia melihat hasil akhir tanpa benar-benar memahami prosesnya.
Kalau mau jujur, salah satu tempat paling awal membentuk “ketahanan mental” itu adalah keluarga. Bukan tempat kerja, bukan media sosial—tapi rumah. Di sanalah seseorang pertama kali belajar soal aman atau tidaknya dunia.
Masalahnya, bentuk keluarga hari ini tidak lagi sesederhana dulu. Tidak semua orang tumbuh di keluarga “paket lengkap” dengan ayah dan ibu yang selalu ada. Ada yang tumbuh dengan satu orang tua saja. Ada juga yang harus beradaptasi dengan orang tua sambung, saudara baru, dan dinamika yang kadang lebih rumit dari sinetron azab.
Di keluarga orang tua tunggal, misalnya, anak sering harus “ikut dewasa lebih cepat”. Bukan karena mereka mau, tapi karena keadaan. Orang tua yang harus membagi energi antara kerja, urusan rumah, dan tekanan hidup, tidak selalu punya ruang untuk hadir secara emosional. Bukan berarti mereka tidak sayang—justru sering kali mereka terlalu lelah untuk mengekspresikannya.
Akibatnya, anak bisa tumbuh dengan rasa kurang aman yang halus tapi nyata. Rasa yang mungkin tidak selalu terlihat, tapi diam-diam memengaruhi cara mereka melihat diri sendiri. Apalagi kalau ditambah faktor ekonomi, atau stigma sosial yang masih suka nyinyir soal status keluarga.
Di sisi lain, keluarga campuran juga punya tantangan sendiri. Kedengarannya memang seperti “kesempatan kedua” untuk membangun keluarga yang lebih baik. Dan dalam banyak kasus, memang bisa begitu. Tapi proses menuju ke sana jarang mulus.
Bayangkan harus tiba-tiba berbagi ruang dengan orang yang sebelumnya bukan siapa-siapa, lalu sekarang dipanggil “orang tua”. Belum lagi harus akrab dengan saudara sambung yang mungkin beda kebiasaan, beda cara dididik, bahkan beda cara mengekspresikan emosi. Adaptasi seperti ini tidak selalu nyaman, dan tidak semua orang punya kapasitas yang sama untuk menjalaninya.
Di titik ini, kita mulai bisa melihat bahwa cerita tentang generasi stroberi tidak sesederhana “mereka lemah”. Bisa jadi, mereka hanya tumbuh dalam kondisi yang lebih kompleks. Mereka tidak kekurangan potensi, tapi mungkin kekurangan ruang aman untuk mengolah tekanan.
Menariknya, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa Generasi Z sebenarnya punya motivasi dan daya juang yang tinggi. Mereka peduli pada banyak hal, lebih terbuka soal kesehatan mental, dan berani mempertanyakan hal-hal yang dulu dianggap tabu. Ini bukan ciri generasi yang lemah, tapi generasi yang sedang mencoba memahami dirinya sendiri di dunia yang juga tidak kalah membingungkan.
Jadi, mungkin yang perlu kita ubah bukan generasinya, tapi cara kita melihatnya. Alih-alih buru-buru memberi label “stroberi”, mungkin kita bisa mulai bertanya: mereka tumbuh di kondisi seperti apa?
Karena pada akhirnya, sekuat atau serapuh apa seseorang, sering kali itu bukan cuma soal pribadi. Tapi juga soal rumah tempat ia belajar pertama kali tentang dunia.
Baca Juga
-
Dilema WFH Sehari: Bukti Kita Masih Dinilai dari Absen Kehadiran, Bukan Hasil Kerja
-
Di Balik Bendera Besar pada Truk Bantuan: Murni Solidaritas atau Sekadar Pencitraan Global?
-
Kuota Hangus: Kita Beli, tapi Nggak Pernah Punya
-
Upgrade Instan ala Naturalisasi: Jalan Pintas yang Kadang Nggak Sesingkat Itu
-
Bukan Kurang Doa, Tapi Memang Sistemnya yang Gak Rata: Curhat Kelas Proletar
Artikel Terkait
Kolom
-
Apel Batu di Ujung Tanduk: Cerita Petani di Tengah Perubahan Kota Batu
-
Bukan Sekadar April Mop, Harga Plastik Melejit hingga 50 Persen: Sanggupkah UMKM Kita Bertahan?
-
Salatiga dan Seni Merawat Perbedaan di Tengah Dunia yang Bising
-
Ingin Otak Lebih Fokus? Sains Temukan Fakta Mengejutkan dari Kebiasaan Membaca Huruf Hijaiyah
-
Dilema WFH Sehari: Bukti Kita Masih Dinilai dari Absen Kehadiran, Bukan Hasil Kerja
Terkini
-
4 Tinted Sunscreen SPF 40 untuk Pudarkan Noda Hitam dan Proteksi Sinar UV
-
Aria the Scarlet Ammo Rayakan 15 Tahun Penayangan dengan Anime Pendek Baru
-
Wajah Bebas Kilap! Coba 5 Balm Powder Ini untuk Hasil Matte Seharian
-
Tambah Hari, Tiket Konser Hari Kedua EXO di Jakarta Resmi Sold Out
-
Sabrina Carpenter Klarifikasi: Minta Maaf Usai Sebut Tidak Suka Seruan Budaya Arab di Coachella