Hayuning Ratri Hapsari | Miranda Nurislami Badarudin
Ilustrasi Orang Hidup Sederhana (Pexels/Los Muertos Crew)
Miranda Nurislami Badarudin

Pernah tidak merasa aneh melihat kehidupan media sosial hari ini? Hampir semua orang tampak sedang berlomba menunjukkan sesuatu. Ada yang memamerkan liburan, outfit mahal, tempat nongkrong estetik, kendaraan baru, pencapaian kerja, bahkan hubungan asmara. Semua terlihat mengilap. Semua tampak sempurna. Di tengah arus seperti itu, hidup sederhana perlahan terasa seperti sesuatu yang “kurang layak diperlihatkan”.

Orang yang hidup biasa-biasa saja sering dianggap tidak menarik. Mereka yang tidak mengikuti tren dianggap tertinggal. Bahkan ada orang yang sebenarnya baik-baik saja dengan hidup sederhana, tetapi mulai merasa malu karena terus-menerus membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain di internet.

Fenomena ini bukan sekadar perubahan gaya hidup. Ini berkaitan dengan cara masyarakat modern membangun nilai diri, identitas sosial, dan pengakuan publik. Di era digital, kesederhanaan perlahan kehilangan panggungnya.

Ketika Kehidupan Berubah Menjadi Etalase

Media sosial awalnya hadir untuk menghubungkan orang. Namun lama-kelamaan, platform digital berubah menjadi ruang pertunjukan sosial. Kehidupan pribadi tidak lagi sekadar dijalani, tetapi juga dipresentasikan.

Sosiolog Erving Goffman pernah menjelaskan bahwa kehidupan sosial mirip seperti panggung teater. Manusia cenderung menampilkan versi terbaik dirinya di depan publik. Teori ini terasa sangat relevan di zaman sekarang. Bedanya, jika dulu panggung sosial terbatas pada lingkungan sekitar, kini panggung itu berada di genggaman tangan dan bisa dilihat ribuan orang sekaligus.

Akibatnya, muncul budaya yang populer disebut flexing—kebiasaan memamerkan kekayaan, gaya hidup, atau pencapaian untuk memperoleh pengakuan sosial. Flexing sebenarnya bukan hal baru. Manusia sejak dulu memang ingin dihargai. Tetapi media sosial membuat proses itu menjadi jauh lebih intens, cepat, dan masif.

Hari ini, nilai seseorang sering kali dinilai dari apa yang tampak di layar. Bukan dari karakter, kedewasaan, atau ketenangan hidupnya. Yang lebih diperhatikan justru barang yang dipakai, tempat yang dikunjungi, atau gaya hidup yang ditampilkan.

Di titik ini, hidup sederhana mulai terlihat “kalah secara visual”.

Tekanan Sosial yang Tidak Selalu Disadari

Masalahnya, budaya flexing tidak hanya memengaruhi orang yang suka pamer. Ia juga memengaruhi orang-orang biasa yang terus-menerus menjadi penonton.

Ketika setiap hari melihat orang lain tampak sukses dan mewah, manusia cenderung melakukan social comparison atau perbandingan sosial. Psikolog Leon Festinger menjelaskan bahwa manusia memang punya kecenderungan alami membandingkan dirinya dengan orang lain untuk menilai posisi dirinya sendiri.

Media sosial memperparah proses ini karena yang terlihat hampir selalu potongan kehidupan terbaik. Orang jarang mengunggah kecemasan finansial, konflik keluarga, utang, rasa kesepian, atau kegagalan hidup. Yang muncul justru versi yang sudah dipoles.

Akibatnya, banyak orang mulai merasa hidupnya kurang menarik hanya karena tidak semewah yang mereka lihat di internet.

Padahal belum tentu kehidupan yang tampak glamor itu benar-benar stabil.

Ada orang yang memaksakan gaya hidup demi terlihat “naik kelas”. Ada yang rela berutang agar tetap terlihat mapan. Ada pula yang membeli barang bukan karena kebutuhan, tetapi demi menjaga citra sosial.

Fenomena ini menunjukkan bahwa konsumsi hari ini sering kali bukan lagi soal fungsi, melainkan simbol status.

Kesederhanaan yang Perlahan Kehilangan Harga Sosial

Dulu, hidup sederhana sering dikaitkan dengan kerendahan hati, kedewasaan, dan kebijaksanaan. Sekarang, kesederhanaan justru kadang diasosiasikan dengan ketidakmampuan.

Orang yang berpakaian sederhana dianggap kurang sukses. Orang yang jarang nongkrong di tempat mahal dianggap tidak gaul. Bahkan ada tekanan sosial tidak tertulis yang membuat sebagian orang merasa harus terus mengikuti tren agar tidak dianggap tertinggal.

Inilah yang menarik dari masyarakat modern: citra sering kali lebih penting daripada kenyataan.

Filsuf Prancis Jean Baudrillard pernah membahas masyarakat konsumsi, yaitu kondisi ketika manusia membeli sesuatu bukan lagi karena kebutuhan utama, tetapi karena makna simbolik yang melekat pada barang tersebut. Barang menjadi alat untuk menunjukkan identitas sosial.

Karena itu, banyak orang hari ini sebenarnya tidak sedang membeli produk. Mereka sedang membeli “pengakuan”.

Tidak heran jika hidup sederhana perlahan terasa memalukan di tengah budaya yang sangat visual dan kompetitif. Kesederhanaan dianggap tidak cukup “menjual” untuk dipamerkan.

Padahal, tidak semua orang ingin hidup glamor. Tidak semua orang merasa perlu membuktikan dirinya kepada publik.

Generasi yang Diam-Diam Lelah

Menariknya, di balik budaya flexing yang terlihat ramai, sebenarnya banyak orang mulai merasa lelah.

Tekanan untuk selalu tampil menarik bisa memicu kecemasan sosial, insecurity, hingga kelelahan mental. Ada rasa takut tertinggal, takut dianggap gagal, atau takut hidupnya terlihat biasa saja.

Fenomena fear of missing out (FOMO) tumbuh sangat kuat di era digital. Orang merasa harus terus mengikuti tren agar tetap relevan secara sosial. Bahkan waktu istirahat pun kadang berubah menjadi ajang produktivitas dan pencitraan.

Ironisnya, semakin banyak yang dipamerkan, semakin banyak pula orang yang merasa kosong.

Karena itu, belakangan mulai muncul tren kebalikan seperti slow living, minimalism, dan quiet life. Banyak anak muda mulai mencari hidup yang lebih tenang, lebih sederhana, dan tidak terlalu sibuk mengejar validasi sosial.

Mereka mulai sadar bahwa hidup bukan perlombaan tanpa akhir. Bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dari barang baru, tempat mahal, atau pengakuan publik.

Tidak Semua Hal Harus Dipertontonkan

Ada sesuatu yang perlahan hilang di era sekarang: kemampuan menikmati hidup tanpa harus memperlihatkannya kepada orang lain.

Padahal, beberapa hal paling bermakna dalam hidup justru sering berlangsung diam-diam. Makan bersama keluarga, tidur dengan tenang, memiliki teman yang tulus, kesehatan yang stabil, atau hati yang tidak dipenuhi kecemasan—semua itu sering tidak terlihat mewah di media sosial, tetapi sangat berharga dalam kehidupan nyata.

Kesederhanaan sebenarnya bukan musuh kemajuan. Hidup sederhana juga bukan berarti tidak punya ambisi. Kesederhanaan lebih dekat dengan kemampuan mengenali batas kebutuhan dan tidak terus-menerus hidup demi penilaian orang lain.

Masalahnya, masyarakat modern terlalu sering menghubungkan nilai diri dengan tampilan luar. Kita hidup di zaman ketika orang bisa merasa minder hanya karena hidupnya tampak biasa. Padahal hidup biasa bukan sesuatu yang memalukan.

Tidak semua orang harus menjadi kaya raya untuk dianggap berhasil. Tidak semua orang harus terlihat sibuk, mewah, atau viral untuk memiliki hidup yang bermakna.

Kadang, kehidupan paling tenang justru dimiliki oleh mereka yang tidak terlalu sibuk membuktikan dirinya kepada dunia.

Mungkin Kita Perlu Mendefinisikan Ulang “Sukses”

Barangkali pertanyaan paling penting hari ini bukan lagi “apa yang berhasil kita miliki”, tetapi “apa yang sebenarnya membuat hidup terasa cukup”.

Sebab jika standar kebahagiaan terus dibangun dari pencitraan sosial, manusia akan terus merasa kurang. Selalu ada orang yang lebih kaya, lebih cantik, lebih sukses, atau lebih menarik di internet.

Perlombaan itu tidak akan pernah selesai. Karena itu, hidup sederhana seharusnya tidak dipandang sebagai kegagalan sosial. Justru di tengah dunia yang semakin bising dan kompetitif, kemampuan hidup secukupnya bisa menjadi bentuk kedewasaan yang langka.

Mungkin memang benar: di era flexing, hidup sederhana terlihat memalukan. Tetapi bisa jadi, justru orang-orang sederhanalah yang diam-diam hidup paling tenang.