Coba ingat-ingat lagi, kapan terakhir kali kamu memilih jalan kaki untuk pergi ke tempat yang sebenarnya dekat?
Banyak dari kita mungkin langsung sadar bahwa sekarang berjalan kaki bukan lagi kebiasaan utama. Mau beli sesuatu di minimarket dekat rumah? Naik motor. Pergi ke tempat yang jaraknya cuma beberapa ratus meter? Pesan ojek online. Bahkan di gedung bertingkat, lift sering jadi pilihan meski cuma naik satu lantai.
Padahal dulu, jalan kaki adalah bagian biasa dari hidup manusia. Anak-anak berangkat sekolah dengan berjalan, orang pergi ke pasar sambil bercengkerama di jalan, tetangga saling menyapa di gang-gang kecil. Aktivitas sederhana itu perlahan mulai hilang, terutama di generasi sekarang.
Sekilas mungkin terdengar sepele. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, berkurangnya kebiasaan jalan kaki sebenarnya menunjukkan perubahan gaya hidup yang cukup besar. Bukan cuma soal tubuh yang makin jarang bergerak, tapi juga soal bagaimana manusia modern hidup, berpikir, dan berhubungan dengan lingkungan sekitarnya.
Menurut data dari World Health Organization, lebih dari 80% remaja di dunia kurang melakukan aktivitas fisik. Salah satu penyebabnya adalah gaya hidup sedentari—terlalu banyak duduk, terlalu lama menatap layar, dan makin bergantung pada teknologi maupun kendaraan. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki pun ikut berkurang.
Semua Harus Cepat
Generasi sekarang hidup di zaman yang serba cepat. Semuanya dibuat instan. Mau makan tinggal pesan lewat aplikasi. Mau belanja tidak perlu keluar rumah. Mau ngobrol tinggal video call. Bahkan kerja dan kuliah pun sekarang banyak dilakukan sambil duduk di depan layar.
Tanpa sadar, kita hidup dalam budaya yang menganggap cepat itu lebih baik. Semakin cepat sampai, semakin dianggap efisien. Akibatnya, jalan kaki mulai terlihat “tidak praktis”.
Padahal kadang jaraknya dekat sekali.
Lucunya, kita sering rela menghabiskan waktu scrolling media sosial berjam-jam, tapi berjalan kaki sepuluh menit terasa melelahkan. Bukan karena tubuh manusia tiba-tiba lemah, tapi karena kita sudah terlalu terbiasa hidup tanpa banyak bergerak.
Teknologi memang membantu manusia. Tapi di sisi lain, teknologi juga membuat tubuh makin jarang dipakai. Banyak aktivitas yang dulu membutuhkan gerakan fisik sekarang cukup dilakukan dengan jempol dan layar sentuh.
Kota yang Lebih Ramah Kendaraan daripada Manusia
Ada alasan lain yang sering tidak disadari yaitu banyak kota memang tidak nyaman untuk pejalan kaki.
Trotoar rusak, sempit, dipakai parkir kendaraan, atau bahkan tidak ada sama sekali. Cuaca panas, polusi, dan jalanan yang padat membuat berjalan kaki terasa melelahkan. Akhirnya orang lebih memilih kendaraan, bahkan untuk jarak dekat.
Kalau dipikir-pikir, banyak kota hari ini memang dibangun lebih untuk kendaraan daripada manusia. Jalan raya diperluas, flyover ditambah, parkiran dibuat besar, tapi ruang pejalan kaki sering jadi urusan belakangan.
Akibatnya, masyarakat tumbuh dengan kebiasaan bahwa kendaraan adalah kebutuhan utama. Jalan kaki hanya dianggap pilihan kalau benar-benar terpaksa.
Padahal kota yang ramah pejalan kaki biasanya punya kehidupan sosial yang lebih hidup. Orang lebih mudah berinteraksi, ruang publik terasa lebih ramai, dan suasana kota jadi lebih manusiawi.
Layar Mengambil Banyak Hal dari Kita
Dulu, orang keluar rumah untuk mencari hiburan atau bertemu teman. Sekarang semuanya bisa dilakukan dari tempat tidur.
Media sosial, game online, streaming film, dan berbagai aplikasi digital membuat manusia makin betah diam di satu tempat. Kita jadi sangat aktif secara digital, tapi pasif secara fisik.
Ironisnya, banyak orang sekarang lebih hafal tampilan aplikasi daripada jalan di sekitar rumahnya sendiri.
Kondisi ini pelan-pelan membuat manusia kehilangan hubungan dengan ruang nyata. Kita melewati hari dengan layar, layar, dan layar lagi. Tubuh diam, tapi pikiran terus sibuk.
Padahal menurut World Health Organization, aktivitas sederhana seperti berjalan kaki punya dampak besar untuk kesehatan fisik maupun mental. Jalan kaki bisa membantu menjaga kesehatan jantung, mengurangi stres, memperbaiki mood, bahkan membantu kualitas tidur.
Jalan Kaki Itu Bukan Sekadar Bergerak
Yang menarik, jalan kaki sebenarnya bukan cuma soal olahraga. Ada alasan kenapa banyak orang suka berjalan saat sedang banyak pikiran. Ada yang memilih jalan sore sendirian, ada yang sengaja mutar-mutar tanpa tujuan jelas, ada juga yang merasa pikirannya lebih tenang setelah berjalan kaki.
Karena kadang, langkah kaki membantu manusia memproses hidupnya sendiri.
Saat berjalan, kita lebih sadar dengan sekitar. Kita melihat langit, mendengar suara angin, memperhatikan orang-orang, atau sekadar menikmati suasana yang biasanya terlewat karena terlalu sibuk.
Hal-hal kecil seperti ini makin jarang dirasakan generasi sekarang. Kita terlalu fokus untuk cepat sampai, sampai lupa menikmati perjalanan.
Mungkin Kita Terlalu Sibuk untuk Pelan-Pelan
Modernitas membuat manusia terbiasa terburu-buru. Semua harus cepat, ringkas, dan efisien. Tapi di tengah hidup yang makin sibuk itu, banyak orang justru merasa mudah lelah, stres, dan kehilangan ketenangan.
Mungkin karena manusia memang tidak diciptakan untuk terus bergerak secepat mesin.
Dan mungkin, jalan kaki adalah salah satu cara paling sederhana untuk kembali merasa “hidup”.
Bukan soal olahraga berat atau gaya hidup mahal. Hanya berjalan. Mendengar langkah sendiri. Merasakan udara sore. Menyadari bahwa dunia nyata ternyata masih ada di luar layar ponsel.
Barangkali generasi sekarang bukan benar-benar malas jalan kaki. Mereka hanya hidup di dunia yang membuat segala sesuatu terasa lebih mudah tanpa harus melangkah.
Padahal bisa jadi, di tengah hidup yang terlalu cepat ini, manusia justru sedang rindu berjalan pelan-pelan lagi.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
7 Kebiasaan Gen X Sejak Kecil yang Berbeda dengan Gen Z
-
5 Daftar Kota di Dunia yang Paling Nyaman untuk Jalan Kaki 2026, Seoul di Urutan Pertama
-
Antara Gaya Hidup dan Kebiasaan Finansial: Tentang Harga untuk Menjadi Kaya
-
Rahasia The Power of Habit, Mengapa Niat Saja Tidak Cukup untuk Berubah Jadi Lebih Baik?
-
7 Manfaat Jalan Kaki 30 Menit di Pagi Hari yang Bisa Dirasakan dalam Hitungan Minggu
Kolom
-
Niatnya Go Green Pakai Wadah Sendiri, Eh Malah Kena 'Pajak' Tak Terduga
-
Siswa SMK Bukan Hanya Calon Tenaga Kerja, Tapi Juga Anak yang Perlu Dijaga
-
Di Era Flexing, Hidup Sederhana Malah Terlihat Memalukan
-
Stop Buang Sampah di Jalan, Kesadaran itu Perlu!
-
Loud Budgeting: Seni Jujur Soal Uang Tanpa Perlu Terlihat Miskin
Terkini
-
Cerita Lebih Ringkas, Remake Anime One Piece Garapan Wit Studio Tayang 2027
-
Menggantungkan Mimpi 5 cm: Mengokohkan Tekad Setinggi Mahameru
-
Buku 'Rumah Baru dan Hal-Hal Baru', Makna Besar tentang Rumah dan Masa Lalu
-
Buku Esai Sayup Sunyi Suara Kata: Catatan dari Pinggiran Ruang Kelas
-
Jebakan Industri Gula Manis: Saat Bahagia Dijual dalam Gelas Plastik