Semula, kukira tanggal 3 Mei merupakan hari ulang tahun salah satu kawan SMP-ku semata. Isenglah aku googling dan baru menyadari bahwa tanggal 3 Mei selalu diperingati sebagai Hari Kebebasan Pers Sedunia.
Melansir laman United Nations, menurut laporan tren dunia Unesco 2022-2025 terjadi penurunan kebebasan pers yang dirasakan sejak tahun 2012. Perubahan ini sebanding dengan yang terlihat selama periode paling tidak stabil di abad 20, yakni dua Perang Dunia dan Perang Dingin.
Dibarengi dengan manipulasi informasi hingga penggunaan AI yang turut melemahkan kepercayaan dan keamanan nasional. Media independen juga harus menghadapi kerapuhan ekonomi. Sementara itu, sensor diri juga meningkat lebih dari 60%, didorong oleh ketakutan akan pembalasan, pelecehan daring, intimidasi peradilan, dan tekanan ekonomi.
Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026
Hari Kebebasan Pers Sedunia atau World Press Freedom Day (WPFD) menawarkan momen penting untuk menegaskan kembali kebebasan berekspresi dan menyelaraskan jurnalisme, teknologi (termasuk AI), dan aktor hak asasi manusia seputar cara praktis untuk memperkuat ekosistem informasi di masa depan.
Konferensi ini bakal diselenggarakan di Lusaka, Zambia pada 4 Mei 2026 dan bakal mempertemukan para pendukung kebebasan pers serta komunitas hak digital saat batasan jurnalisme, teknologi, ruang sipil, dan hak asasi manusia kian terkait.
Sejarah Singkat
Hari Kebebasan Pers Sedunia diproklamasikan oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1993, menyusul rekomendasi Konferensi Umum Unesco. Sejak saat itu, setiap tanggal 3 Mei selalu diperingati sebagai momen refleksi bagi profesional media tentang isu kebebasan pers dan etika profesional. Ini adalah kesempatan untuk:
- Merayakan prinsip-prinsip dasar kebebasan pers,
- Menilai keadaan kebebasan pers di dunia,
- Membela media dari serangan terhadap independensi mereka, dan
- Memberi penghormatan kepada jurnalis-jurnalis yang gugur sewaktu menjalankan pekerjaan mereka.
Kebebasan Pers yang Selalu Dibungkam
Sayangnya, kebebasan pers di era saat ini selalu diredam hingga dibungkam kebenarannya. Nggak jarang, hal ini dibuktikan dengan teror nyata yang sampai bisa merenggut keselamatan dan nyawa seseorang.
Kawan-kawan tentunya masih ingat perihal teror kepala babi dan tikus mati yang dikirimkan ke kantor media Tempo pada Maret 2025. Paket tersebut rupanya ditujukan kepada jurnalis politik bernama Fransiska Christy Rosana sebagai intimidasi jurnalis kritis, terutama mengenai siniar Bocor Alus Politik. Pun kasus terbaru soal penyiraman air keras terhadap aktivis dan wakil koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus pada Maret 2026 lalu.
Segala bentuk jurnalisme yang sifatnya sangat kritis kerap dibungkam dengan cara sadis. Lalu, bagaimanakah kebenaran lewat pers bisa ditegakkan?
AI Juga Turut Memperkeruh Situasi
Zaman sekarang masyarakat harus lebih waspada dan dituntut jeli dalam menangkap berita. Sudahlah para jurnalis harus menghadapi tekanan dan bahkan teror saat bekerja, masyarakat awam pun juga diteror oleh berita-berita hoaks hingga kinerja AI yang masif.
Memang ya, AI itu cukup membantu kinerja sekarang. Namun, penggunaan yang salah justru menjadi momok dan monster yang bisa menjatuhkan bahkan membunuh seseorang. Lewat tangan-tangan jahil yang menolak kebebasan pers, AI dikomando sedemikian rupa sehingga melahirkan devide et impera, alias adu domba.
Bagiku, segala bentuk kebenaran haruslah diungkapkan, meski pahit. Bahwasanya kebenaran adalah mutlak meski berusaha dibungkam dan dikubur dalam-dalam. Kebebasan pers tidak hanya seputar jurnalisme dan penyampaian berita semata, melainkan kejujuran yang wajib disebarkan ke dunia. Sekian.
Baca Juga
-
Pernikahan Arwah: Setting Lokasi dan Tradisi Otentik dengan Nuansa Brutal
-
'Binatang Jalang', Noda Chairul Anwar dalam Skema Korupsi Pakan Binatang
-
Derita Selisih Stock Opname Toko, saat Karyawan Jadi Samsak Omelan Bos
-
Dedemit Kepala Putus yang Menyamar Menjadi Penjual Bakso Keliling
-
Saranjana: Kota Ghaib, Horor dengan Budaya Kalimantan yang Ambisius Namun Terganjal CGI Kasar?
Artikel Terkait
-
PM Lebanon: Israel Sengaja Incar Bunuh Wartawan Pakai Rudal
-
PM Lebanon Sebut Israel Lakukan Kejahatan Perang Usai Serangan Udara Tewaskan Jurnalis Al Akhbar
-
Tentara Zionis Israel Bombardir Lebanon, 5 Warga Sipil Tewas Termasuk Seorang Jurnalis
-
Sisi Humanis Warga Iran, Tawarkan Buah ke Jurnalis Padahal Rumahnya Hancur Lebur Habis Diserang
-
AMSI Minta Dewan Pers Lindungi Magdalene dari Pembatasan Akses Konten
Kolom
-
Ketika Orang Hilang Tak Segera Dicari, Siapa yang Bertanggung Jawab?
-
Di Balik Kemudahan AI: Ancaman Krisis Listrik, Air Bersih, dan E-Waste Data Center di Indonesia
-
Perempuan dan Kebiasaan Overthinking: Sesulit Itukah Memerdekakan Pikiran?
-
HUT RI Milik Siapa? Ketika Negara Merayakan dengan APBN, Warga dengan Iuran
-
MBG-Kopdes dalam APBN: Benarkah Negara Sedang Menciptakan Lapangan Kerja?
Terkini
-
4 Low pH Cleanser Beta Glucan, Kunci Kelembapan Maksimal pada Kulit Kering
-
Menyaksikan Lahirnya Sebuah Peradaban dari Buku Bara di Atas Demak Bintara
-
4 Ide OOTD Eclectic Retro-Chic ala Momo TWICE untuk yang Suka Eksplor Gaya!
-
Gagal di Pasaran, Sony Pictures Kapok Bikin Film Spin-off Spider-Man?
-
Vivo S2 5G Resmi Hadir, Usung Baterai 7.050 mAh dan Bodi Tangguh untuk Aktivitas Ekstrem