Terkadang suara paling jujur justru lahir dari ruang yang selama ini dianggap paling sunyi, seperti ruang kelas, tempat kita belajar bukan hanya tentang pelajaran, tetapi juga tentang ketimpangan yang tak selalu diajarkan.
Buku Sayup Sunyi Suara Kata merupakan karya Maria Rona Ayu Sekar Melati dkk., dengan suntingan A. Harimurti. Ia adalah kumpulan refleksi yang menggugah tentang wajah pendidikan dari sudut yang jarang disorot.
Buku ini tidak sekadar menghadirkan cerita, melainkan potret pengalaman yang lahir dari keberanian menempatkan diri di tepian, di wilayah marginal yang sering luput dari perhatian arus utama.
Sejak pertama kali membaca buku ini, kesan yang muncul begitu kuat, terdapat semacam keheningan yang justru berisik di dalam kepala.
Tulisan-tulisan di dalamnya terasa jujur, bahkan terkadang menohok, seolah membuka kembali ingatan tentang ruang kelas yang pernah saya alami, seperti harapan yang tak selalu terpenuhi, dan tentang pengalaman-pengalaman kecil yang ternyata menyimpan luka.
Secara garis besar, buku ini berisi kumpulan esai dari berbagai penulis seperti Agatha Okta Hardani, Agry Gading Larasati, hingga Erlangga Ananda Seto, yang masing-masing menyajikan perspektif personal tentang pendidikan.
Mereka mengangkat isu-isu seperti ketidakadilan, relasi kuasa antara guru dan murid, standar normatif yang mengekang, hingga pengalaman menjadi yang berbeda di dalam sistem yang seragam.
Setiap tulisan seperti serpihan cerita yang berdiri sendiri, tetapi ketika dirangkai, membentuk satu narasi besar tentang sesuatu yang hilang, yakni kemanusiaan dalam ruang kelas.
Kekuatan utama buku ini, salah satunya terletak pada keberaniannya mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap wajar. Sekolah, yang secara normatif dipahami sebagai ruang penuh harapan, dalam buku ini justru ditampilkan sebagai ruang yang bisa membatasi, bahkan melukai.
Dengan menempatkan diri di tepian, para penulis mampu melihat pengalaman mereka secara lebih jernih dan kritis. Mereka tidak sekadar bercerita, tetapi juga mengajak pembaca untuk ikut merefleksikan ulang makna pendidikan itu sendiri.
Relevansi buku ini dengan kehidupan saat ini terasa sangat nyata. Di tengah berbagai wacana tentang reformasi pendidikan dan merdeka belajar, buku ini menjadi pengingat bahwa perubahan tidak cukup hanya pada sistem atau kurikulum, tetapi juga pada cara kita memandang manusia di dalamnya.
Masih banyak suara yang terpinggirkan, baik itu siswa yang tidak sesuai standar, guru yang terjebak sistem, maupun individu yang mengalami ketidakadilan dalam diam.
Dari segi kelebihan, buku ini unggul dalam keberagaman perspektif dan kedalaman refleksi. Bahasa yang digunakan relatif ringan, tetapi sarat makna, sehingga mudah diikuti sekaligus meninggalkan kesan mendalam. Selain itu, pendekatan personal membuat pembaca merasa dekat dengan setiap cerita, seolah sedang mendengarkan pengakuan yang tulus.
Namun, buku ini juga memiliki beberapa kekurangan. Karena berupa kumpulan esai dengan banyak penulis, terdapat perbedaan gaya penulisan yang cukup terasa, sehingga ritme membaca kadang tidak konsisten.
Selain itu, beberapa tulisan terasa terlalu singkat untuk menggali isu yang sebenarnya sangat kompleks, sehingga pembaca mungkin merasa kurang puas.
Overall, buku ini bukan hanya bacaan, melainkan cermin yang memantulkan kembali pengalaman kita di ruang kelas, sekaligus mengajak kita bertanya, apa yang sebenarnya telah hilang dari pendidikan kita?
Identitas Buku
Judul: Sayup Sunyi Suara Kata
Penulis: Maria Rona Ayu Sekar Melati
Penerbit: Diandra Kreatif, Yogyakarta
Cetakan: I, Januari 2023
Tebal: 111 Halaman
ISBN: 978-623-240-611-7
Genre: Psikologi / Ilmu Pendidikan
Tag
Baca Juga
-
iQOO Pad Ultra Segera Rilis 29 September: BawaLayar OLED 8,8 Inci, Snapdragon Generasi Baru
-
Honor MagicOS 11 Resmi Hadir: Usung Liquid Glass, AI Agentik, dan Storage Space 2.0
-
Perjalanan ke Pantai Sidomuncul 2: Menikmati Laut, Menguatkan Kebersamaan
-
Oppo Find X10 Siap Debut 22 September: Flagship dengan Kamera 200 MP dan Baterai Jumbo 8.000 mAh
-
Oppo Find X10 Pro Max Siap Meluncur,Ponsel Flagship dengan Performa Dimensity 9600 Pro
Artikel Terkait
-
Membaca Perjalanan Mustahil Samiam: Sebuah Petualangan Mencari Akar yang Mengusik Logika
-
Pecandu Buku, Gerak Laku Penuntut Ilmu: Literasi untuk Membangun Peradaban
-
Kisah 13 Anak dan Dunia Penuh Kehangatan di Novel "Angin dari Tebing 1"
-
Saya Menemukan Teman Bicara di Balik Lembaran Kertas 'Self-Talk Journal'
-
Aku Mencintaimu, Maka Aku Melepasmu: Penutup dari Novel Rapture
Ulasan
-
Masjid Baiturrahman Alasmalang, Dirawat Seperlunya Tanpa Ubah Wajah Lama
-
Review Drama Start-Up: Drakor Lama dengan Pelajaran yang Tak Pernah Usang
-
Bisnis Kriminal yang Berujung Kekacauan di Serial The Gentlemen Season 2
-
Review Resident Evil 2026: Kurir Medis Melawan Chaos di Kiamat Zombie
-
365 Repeat The Year, Thriller Time Travel dengan Alur Penuh Plot Twist
Terkini
-
Tugas Guru Itu Mengajar, Bukan Menjadi Petugas Pemeriksa MBG
-
Mode Survival Rakyat: Ayah Antre BBM, Ibu Cari Sembako, Anak Keracunan MBG
-
Menelisik Pameran 'On Equal Grounds": Saat Hierarki di Dunia Seni Diruntuhkan
-
Cuaca Panas Terik? Ini 5 Mist Spray Aloe Vera untuk Menyegarkan Kulit Wajah
-
Dari Romcom hingga Aksi, 5 Drama Korea 2026 Ini Wajib Masuk Watchlist