Hayuning Ratri Hapsari | Inggrid Tiana
Ilustrasi Pekerja WFH (Pixabay)
Inggrid Tiana

Bekerja dari rumah atau work from home (WFH) memang sudah semakin umum, apalagi setelah pandemi membuat banyak perusahaan beradaptasi dengan sistem kerja fleksibel. Namun meski sudah sering dibahas dan dijalani banyak orang, nyatanya masih ada saja anggapan bahwa orang yang bekerja dari rumah itu sama dengan pengangguran. Tidak sedikit pekerja WFH yang mendapat komentar seperti, “Enak ya di rumah terus,” atau “Kapan cari kerja beneran?” Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.

Masih banyak orang yang menganggap pekerjaan harus selalu identik dengan bangun pagi, memakai seragam rapi, berangkat ke kantor, lalu pulang sore hari. Kalau seseorang lebih sering terlihat di rumah, dianggap santai, atau tidak pergi ke kantor setiap hari, langsung muncul asumsi bahwa orang tersebut tidak bekerja. Pola pikir seperti ini sebenarnya muncul karena sebagian masyarakat masih terbiasa dengan sistem kerja konvensional. Padahal dunia kerja sudah berubah cukup jauh.

Sekarang ada banyak profesi yang bisa dilakukan dari rumah, mulai dari penulis, desainer grafis, editor video, admin media sosial, programmer, penerjemah, customer service online, hingga pekerja digital marketing. Bahkan beberapa perusahaan besar juga menerapkan sistem kerja jarak jauh karena dinilai lebih efisien. Artinya, bekerja tidak lagi selalu harus dilakukan di kantor fisik.

Sayangnya, pekerja WFH sering menghadapi tantangan yang tidak terlihat oleh orang lain. Salah satunya adalah kurangnya pengakuan dari lingkungan sekitar. Ada yang dianggap hanya bermain laptop, rebahan sambil kerja, atau sekadar “sibuk online.” Padahal di balik layar, mereka juga punya target, deadline, revisi, rapat online, dan tekanan pekerjaan yang sama seperti pekerja kantor pada umumnya.

Ironisnya, kadang justru pekerja WFH memiliki jam kerja yang lebih panjang. Karena bekerja di rumah, batas antara waktu kerja dan waktu istirahat menjadi kabur. Banyak pekerja WFH yang masih membalas chat pekerjaan di malam hari, bekerja saat akhir pekan, atau sulit benar-benar menikmati waktu libur. Hal ini jarang disadari oleh orang-orang yang menganggap kerja dari rumah itu hanya santai-santai.

Selain itu, pekerja WFH juga sering kesulitan mendapat waktu fokus. Saat berada di rumah, mereka tetap dianggap “available” untuk membantu pekerjaan rumah, menjaga adik, menerima tamu, atau melakukan hal lain di luar pekerjaan utama. Ada semacam anggapan bahwa karena berada di rumah, berarti mereka bebas kapan saja. Padahal saat sedang bekerja, konsentrasi tetap dibutuhkan seperti halnya bekerja di kantor.

Komentar-komentar kecil seperti “kok di rumah terus?” mungkin terdengar sepele, tetapi bagi sebagian orang bisa cukup melelahkan. Apalagi jika komentar itu muncul berulang kali dari keluarga, tetangga, atau lingkungan sekitar. Lama-lama muncul perasaan bahwa pekerjaan mereka tidak dianggap serius hanya karena tidak terlihat sibuk secara fisik.

Padahal ukuran seseorang bekerja atau tidak seharusnya bukan dilihat dari seberapa sering mereka keluar rumah, melainkan dari tanggung jawab dan hasil pekerjaannya. Di era digital seperti sekarang, banyak pekerjaan yang memang hanya membutuhkan koneksi internet dan perangkat kerja. Bahkan tidak sedikit pekerja WFH yang penghasilannya stabil atau lebih besar dibanding pekerjaan kantoran biasa.

Fenomena ini juga menunjukkan bahwa masyarakat masih perlu beradaptasi dengan perubahan zaman. Dulu mungkin pekerjaan identik dengan kantor dan meja kerja formal. Namun sekarang, konsep kerja menjadi lebih fleksibel. Selama seseorang tetap produktif, menghasilkan karya, dan menjalankan tanggung jawabnya, maka itu tetap disebut bekerja.

Karena itu, penting untuk mulai menghargai berbagai jenis pekerjaan, termasuk pekerjaan jarak jauh. Tidak semua orang yang berada di rumah berarti menganggur. Bisa saja mereka sedang meeting online, mengerjakan proyek, menulis laporan, atau mengejar deadline yang bahkan lebih padat dibanding pekerja kantor.

Setiap pekerjaan memiliki tantangan masing-masing. Pekerja kantoran punya tekanan sendiri, begitu juga pekerja WFH. Tidak perlu membandingkan mana yang lebih berat, karena keduanya sama-sama membutuhkan usaha, disiplin, dan tanggung jawab. Yang paling penting adalah bagaimana seseorang menjalankan pekerjaannya dengan baik, bukan di mana mereka bekerja.