Hayuning Ratri Hapsari | Fauzah Hs
Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI 2026 (Bidik layar Youtube/MPRGOID)
Fauzah Hs

Pernahkah Sobat Yoursay merasa sudah memberikan yang terbaik, berbicara berdasarkan fakta yang nyata, namun justru dijawab dengan kalimat, "Ah, itu mungkin cuma perasaan kamu saja"? Rasanya sangat menyesakkan, bukan? Itulah yang baru-baru ini viral dan menjadi perbincangan hangat dalam polemik Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat. Sebuah ajang bergengsi yang seharusnya menjadi panggung integritas bagi para pelajar, justru menyisakan luka psikologis akibat praktik gaslighting yang terjadi di depan kamera.mmm

Kejadian ini bermula saat regu dari SMAN 1 Pontianak memberikan jawaban yang secara konstitusional benar mengenai mekanisme pemilihan anggota BPK. Namun, juri bersikukuh menyalahkan jawaban tersebut hanya karena alasan teknis "tidak terdengar," sementara sekolah lain yang memberikan jawaban identik justru dibenarkan.

Di tengah suasana yang penuh tekanan tersebut, respons dari pembawa acara atau MC yang menyebut protes peserta sebagai "mungkin hanya perasaan adik-adik saja" menjadi pemantik kemarahan publik. Kalimat singkat ini adalah bentuk peremehan terhadap kebenaran yang sedang diperjuangkan oleh anak muda.

Sobat Yoursay, mari kita bayangkan posisi para siswa tersebut. Mereka telah belajar berbulan-bulan, menghafal pasal-pasal, dan memahami filosofi negara dengan harapan mendapatkan keadilan dalam berkompetisi. Ketika mereka menyadari ada ketidakadilan dan mencoba bersuara secara sopan, mereka justru dihadapi dengan manipulasi psikologis yang meragukan persepsi mereka sendiri. Dalam dunia psikologi, inilah yang disebut sebagai gaslighting.

Alih-alih memberikan penjelasan objektif atau melakukan pengecekan ulang, penyelenggara justru membuat para siswa merasa bahwa kesalahan tersebut adalah kesalahan perasaan mereka, bukan kesalahan sistem penilaian juri.

Dampak dari pernyataan "cuma perasaan saja" ini tidak bisa dianggap sepele bagi mental remaja. Pada usia sekolah menengah, para siswa sedang membangun rasa percaya diri dan konsep keadilan dalam bernegara. Ketika figur otoritas seperti juri dan MC di ajang tingkat nasional justru menunjukkan perilaku tidak jujur, hal itu dapat merusak kepercayaan mereka terhadap institusi.

Mereka mungkin akan mulai berpikir bahwa kejujuran dan kerja keras tidak lagi berharga jika dibandingkan dengan subjektivitas penguasa panggung. Ini adalah pendidikan karakter yang sangat buruk yang justru terjadi di ajang bertajuk "Empat Pilar."

Tentu saja, reaksi netizen yang luar biasa menunjukkan bahwa masyarakat kita sudah semakin cerdas dalam melihat ketidakadilan. Syukurlah, pihak Sekretariat Jenderal MPR RI akhirnya mengambil langkah tegas dengan menonaktifkan MC dan juri yang terlibat per tanggal 12 Mei 2026.

MC yang bersangkutan pun telah menyampaikan permohonan maaf atas diksi yang tidak patut tersebut. Namun, permohonan maaf saja tidak cukup untuk menghapus memori tentang bagaimana suara mereka dibungkam di atas podium.

KPAI bahkan mengingatkan bahwa kejadian semacam ini dapat melukai kesehatan mental anak dan meminta agar kompetisi pendidikan masa depan harus lebih ramah anak dan transparan.

Sobat Yoursay, polemik di Kalimantan Barat ini memberikan pelajaran berharga bahwa dalam setiap kompetisi, teknis penilaian bukanlah satu-satunya hal yang penting. Cara kita memperlakukan peserta, cara kita menanggapi keberatan, dan cara kita berkomunikasi secara verbal memiliki dampak jangka panjang bagi mental generasi penerus.

Jangan sampai pilar-pilar kebangsaan yang kita ajarkan hanya menjadi hafalan di bibir, sementara di lapangan, kita justru menghancurkan kepercayaan anak-anak kita dengan kata-kata yang meremehkan. Mari kita kawal agar keadilan tidak lagi dianggap sebagai sekadar "perasaan," melainkan kenyataan yang harus ditegakkan.