Hikmawan Firdaus | Rizka Utami Rahmi
Josepha Alexandra, siswi SMAN 1 Pontianak, peserta Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 [YouTube/MPRGOID]
Rizka Utami Rahmi

Ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang digelar Sabtu (9/5/2026) viral di media sosial. Sikap juri yang dinilai merugikan siswa SMAN 1 Pontianak membuat publik geram.

Kejadian bermula saat MC melemparkan pertanyaan untuk dijawab oleh para perserta.

"DPR dalam memilih anggota BPK diwajibkan untuk memperhatikan pertimbangan dari lembaga mana?" tanya MC dilansir dari kanal YouTube MPRGOID, Selasa, 12 Mei 2026.

Saat itu, salah satu siswa perwakilan SMAN 1 Pontianak menekan bel untuk memberikan jawabannya.

"Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden," jawab siswa SMAN 1 Pontianak tersebut.

Dyastasita Widya Budi, juri Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI 2026

Dyastasita Widya Budi, juri Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 [YouTube/MPRGOID]

Setelah mendengar jawaban tersebut, Dyastasita Widya yang bertindak sebagai juri memberikan nilai minus 5 kepada grup tersebut karena jawaban tak sesuai.

Dari sini masalah mulai muncul. Saat MC kembali melempar pertanyaan yang sama kepada grup lainnya, salah satu peserta yang merupakan siswa SMAN 1 Sambas menekan bel dan memberikan jawabannya.

Siswa tersebut memberikan jawaban yang sama dengan jawaban yang diberikan oleh siswa SMAN 1 Pontianak sebelumnya.

Mendengar hal itu, siswa SMAN 1 Pontianak yang menjawab tadi melakukan interupsi kepada dewan juri

“Dewan juri, izin. Tadi kami menjawabnya sama seperti regu B, sama,” ujarnya.

Juri tersebut lalu memberikan alasannya menganulir jawaban dari siswa tersebut. Menurutnya, siswa tersebut tidak menyebutkan peran DPD dalam jawabannya.

Tak puas dengan alasan yang diberikan juri, siswi tersebut kembali menginterupsi dan meminta juri mendengarkan kesaksian dari penonton yang hadir.

Sayangnya, MC yang bertugas saat itu justru mengatakan kepada siswi tersebut agar menerima hasil yang diberikan oleh juri. Menurutnya, juri yang dipilih dalam ajang tersebut adalah orang-orang yang memang benar-benar kompeten di bidangnya.

Tak sampai di sutu, salah satu juri lainnya, Indri Wahyuni, justru terkesan menyudutkan siswa SMAN 1 Pontianak tersebut dengan beralasan bahwa artikulasi siswi tersebut kurang jelas saat menjawab pertanyaan sehingga wajar jika dewan juri memberikan nilai minus.

Sontak saja aksi juri cerdas cermat Empat Pilar MPR RI 2026 itu menuai sorotan tajam netizen.

Tak sedikit yang menilai bahwa keputusan yang diambil juri tersebut merugikan grup SMAN 1 Pontianak.

Keberanian Siswa SMAN 1 Pontianak Perjuangkan Sportivitas

Josepha Alexandra, siswi SMAN 1 Pontianak, peserta Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 [YouTube/MPRGOID]

Adalah Josepha Alexandra, siswa SMAN 1 Pontianak yang dengan berani dan tegas memperjuangkan sportivitas dalam Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026.

Usianya yang terpaut sangat jauh dari dewan juri tak membuatnya ciut melawan ketidakadilan.

Meskipun ia tahu sedang berdiri di hadapan orang-orang yang memiliki jabatan, kuasa, dan otoritas penuh atas jalannya perlombaan, Josepha tetap memilih bersuara. Di situlah letak kemenangan sesungguhnya.

Sebab, tak banyak orang yang berani menginterupsi dewan juri yang memang berkompeten dalam bidangnya dalam sebuah ajang besar semacam itu.

Ini bukan lagi perkara angka di papan skor. Ini tentang keberanian seorang pelajar yang masih berusia belasan tahun mempertahankan logika dan kebenaran di depan orang-orang dewasa yang justru terlihat enggan mengakui kemungkinan kesalahan.

Josepha tidak berteriak kasar. Ia tidak membanting meja. Ia tidak bersikap tidak sopan. Ia hanya melakukan satu hal sederhana yang justru mulai langka hari ini: mempertanyakan keputusan yang terasa janggal.

Dan ironisnya, keberanian itu malah dibalas dengan kalimat-kalimat defensif. Alih-alih mencoba menenangkan situasi dengan evaluasi terbuka atau memutar ulang rekaman jawaban peserta, pihak juri dan MC justru seolah sibuk menegaskan bahwa mereka “kompeten”. Seolah jabatan otomatis membuat seseorang mustahil keliru.

Padahal dalam kompetisi apapun, terutama yang membawa nama Empat Pilar MPR RI, sikap paling penting bukan sekadar pintar menjawab soal. Yang paling penting adalah menjunjung kejujuran, sportivitas, dan kesediaan menerima kritik.

Apa gunanya bicara demokrasi, keadilan, dan etika bernegara di atas panggung jika suara peserta justru dianggap tak memiliki andil?

Di titik inilah publik merasa marah. Karena yang dipertontonkan bukan hanya potensi kekeliruan penilaian, melainkan juga cara orang dewasa merespons kritik dari anak muda. Bukannya didengar, Josepha justru seperti diarahkan untuk segera menerima keadaan dan berhenti membantah.

Padahal anak-anak seperti Josepha inilah yang sebenarnya dibutuhkan negeri ini.

Anak muda yang berani bersuara ketika merasa dirugikan. Anak muda yang tidak gemetar menghadapi otoritas.

Anak muda yang paham bahwa menghormati juri bukan berarti harus mengiyakan semua keputusan tanpa boleh bertanya.

Keberanian Josepha membuktikan bahwa generasi muda tidak selalu apatis dan penakut seperti yang sering dituduhkan.

Di tengah pepatah “diam adalah emas”, ia justru menunjukkan keberanian moral yang bahkan belum tentu dimiliki banyak orang dewasa.

Dan jika ada satu hal yang paling diingat publik dari lomba itu, jawabannya bukan siapa juaranya. Melainkan seorang siswa SMAN 1 Pontianak yang berdiri tegak, lalu berkata dengan lantang bahwa ia meminta keadilan atas jawaban yang diyakininya.