Hayuning Ratri Hapsari | Fauzah Hs
Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI 2026 (Bidik layar Youtube/MPRGOID)
Fauzah Hs

Pernahkah Sobat Yoursay membayangkan sebuah panggung yang didirikan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, justru menjadi tempat di mana nilai keadilan tampak begitu murah? Itulah yang baru-baru ini kita saksikan dalam polemik Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 di Kalimantan Barat.

Sebuah ajang yang seharusnya menjadi laboratorium karakter bagi generasi muda, mendadak berubah menjadi sorotan tajam netizen akibat insiden penilaian yang dianggap tidak masuk akal. Kejadian ini menjadi bukti bagaimana kepercayaan publik—terutama anak muda—terhadap institusi negara bisa terkikis hanya dalam hitungan menit di depan kamera siaran langsung.

Sobat Yoursay, dalam babak final yang mempertemukan SMAN 1 Pontianak, SMAN 1 Sambas, dan SMAN 1 Sanggau, terjadi sebuah momen yang memicu keraguan massal. Peserta dari SMAN 1 Pontianak menjawab pertanyaan dengan landasan hukum yang sangat tepat, namun juri justru memberikan poin minus dengan alasan tidak mendengar kata kunci tertentu.

Ironisnya, ketika pertanyaan serupa dijawab oleh sekolah lain dengan substansi yang identik, juri justru meloloskannya dengan poin penuh. Bayangkan betapa hancurnya perasaan para siswa yang telah belajar siang-malam demi menghafal konstitusi, hanya untuk melihat keadilan diukur secara subjektif oleh telinga yang mungkin sedang tidak fokus.

Kejadian ini terasa sangat menyakitkan karena label yang dibawa adalah "Empat Pilar", yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Ketika juri—yang merupakan perwakilan dari lembaga negara—gagal menunjukkan objektivitas, mereka sebenarnya sedang merobohkan pilar-pilar tersebut di depan mata calon pemimpin bangsa.

Bagaimana kita bisa menuntut generasi muda untuk jujur dan berintegritas, jika dalam wadah pendidikan yang paling formal sekalipun, mereka dipaksa menelan ketidakadilan mentah-mentah?

Tidak berhenti di situ, sikap pembawa acara yang meremehkan protes siswa dengan kalimat "mungkin hanya perasaan adik-adik saja" menjadi bumbu yang membuat suasana kian panas. Sobat Yoursay tentu setuju bahwa dalam dunia pendidikan, suara siswa yang merasa dirugikan adalah aspirasi yang harus divalidasi, bukan sekadar dianggap sebagai "perasaan".

Pernyataan tersebut mencerminkan sikap gaslighting yang sangat berbahaya jika dilakukan dalam konteks bimbingan karakter. Alih-alih memberikan penjelasan teknis atau melakukan video replay, penyelenggara justru memilih jalan pintas dengan membungkam protes melalui otoritas panggung.

Untungnya, kekuatan media sosial di era sekarang tidak bisa diremehkan. Gelombang kritik dari masyarakat akhirnya memaksa Sekretariat Jenderal MPR RI untuk turun tangan, menonaktifkan juri dan MC, serta menyampaikan permohonan maaf.

Namun, Sobat Yoursay, apakah permintaan maaf dan penonaktifan sudah cukup untuk mengembalikan kepercayaan yang sudah telanjur tergerus? Luka psikologis yang dialami oleh para siswa yang merasa diperlakukan tidak adil tidak akan sembuh hanya dengan sebuah postingan klarifikasi.

Kita memerlukan transparansi yang lebih nyata. Jika dunia olahraga saja sudah mengenal VAR untuk memastikan keadilan, mengapa lomba cerdas cermat yang membawa nama besar negara tidak memiliki mekanisme serupa?

Setiap jawaban siswa adalah buah dari kerja keras, dan setiap keputusan juri adalah cerminan martabat lembaga. Tanpa standar penilaian yang transparan dan akuntabel, lomba-lomba seperti ini hanya akan dianggap sebagai seremonial belaka. Publik butuh jaminan bahwa integritas bukan hanya jargon di atas podium, tapi juga praktik nyata di meja penilaian.

Semoga ke depannya, pilar-pilar negara kita tidak lagi "roboh" di tangan mereka yang seharusnya menjaganya. Sobat Yoursay, mari kita terus mengawal isu ini agar semangat sportivitas dan keadilan tetap menjadi panglima dalam setiap kompetisi anak bangsa.