Hayuning Ratri Hapsari | M. Fuad S.T.
Ilustrasi lomba 4 Pilar MPR yang sedang viral (dok. Suara.com/Gemini)
M. Fuad S.T.

Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI Provinsi Kalimantan Barat yang seharusnya menumbuhkan rasa optimis karena negeri ini masih diberlimpahi dengan anak-anak muda yang potensial, justru membuat saya berbalik arah. Alih-alih membuat saya bangga, polemik yang terjadi justru membuat saya melihat wajah Indonesia sebenar-benarnya, yang semuanya terwakili hanya dalam satu ruangan saja.

Bola panas imbas ketidakjelian dewan juri di Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI Provinsi Kalimantan Barat beberapa waktu lalu belum sepenuhnya berakhir.

Meskipun MPR, lembaga tinggi Indonesia sekaligus pemilik gawe, sudah turun tangan dan memberikan solusi untuk menengahi kisruh, polemik yang sudah kadung terjadi tak lantas berakhir begitu saja.

Terlepas dari bola-bola panas yang saat ini sedang menjadi konsumsi khalayak luas imbas kontroversi perlombaan kecerdasan di salah satu provinsi yang terletak di Pulau Borneo tersebut, saya justru mendapatkan sebuah pandangan lain.

Dalam proses konflik yang terjadi pada lomba tersebut, sekilas saya melihat wajah Indonesia saat ini hampir seluruhnya terwakili hanya dalam satu ruangan itu. 

Para peserta yang saling beradu kecerdasan dan kecermatan, dewan juri, pembawa acara, hingga para penonton yang hadir, seolah menjadi representasi kelompok-kelompok sosial yang saat ini ada di Indonesia. Ibarat kata, dalam satu ruangan itu, kita akan menyaksikan miniatur kehidupan sosial di Tanah Air saat ini.

Kok bisa? Mari kita bedah bersama!

Grup C SMAN 1 Pontianak: Representasi Suara Rakyat

Harus diakui, pada kejadian ini Grup C yang merupakan perwakilan dari SMAN 1 Pontianak menjadi salah satu fokus sorotan utama masyarakat luas. Bukan tanpa sebab, namun karena di usia mereka yang masih sangat muda, mereka sudah mampu berpikir dan bernalar kritis yang notabene menjadi salah satu dari enam dimensi yang dibangun dalam Profil Pelajar Pancasila.

Bukan hanya itu, meskipun mereka masih berada di fase remaja yang kita tahu merupakan fase paling labil dalam kehidupan manusia, mereka mampu menyuarakan keresahannya dengan bahasa yang halus dan sopan, tanpa terlihat ada ledakan emosi di dalamnya.

Di mata saya, Grup C dari SMAN 1 Pontianak ini tak ubahnya representasi dari suara rakyat kebanyakan, yang meskipun disuarakan dengan cara paling sopan sekalipun, belum tentu hal itu akan didengarkan, apalagi sampai dituruti. 

Sebuah suara keresahan dari tataran akar rumput yang tentunya lebih sering untuk diabaikan, ketimbang diperhatikan mupun ditindaklanjuti dan mentok-mentok hanya jadi bahan laporan.

Juri 1: Representasi Birokrat dan Pejabat

Dyastasita WB, Juri LCC MPR yang Viral (X)

Jika Grup C dari SMAN 1 Pontianak menjadi wajah dari rakyat Indonesia, maka di mata saya, Dyastasita yang menjadi juri 1 di lomba tersebut merupakan representasi dari para birokrat dan pejabat atau jika mau lebih jelas, sebut saja pemerintah.

Alasan saya cukup sederhana, karena selain memiliki relasi kuasa paling tinggi di forum tersebut, Dyastasita juga menunjukkan sikap yang membuatnya benar-benar mewakili kalangan elit.

Sikap pertama, tentu saja pemberi keputusan yang mutlak, di mana dirinya dengan bebasnya membenarkan jawaban Grup B dan menyalahkan jawaban Grup C. Bukan hanya itu, ketika Grup C memberikan protes bahkan dengan kalimat yang sangat sopan sekalipun, membuat Dyastasita bergeming dengan keputusannya.

Bahkan, ketika didebat dengan penuh adab, Dyastasita masih kukuh dengan keputusan yang dibuatnya, dan menganggap dirinya berada di jalur yang benar. Sikap seperti ini tentu mengingatkan kita kepada kebanyakan sikap pejabat di negeri ini, yang mana mereka lebih memilih untuk abai ketika rakyat bersuara, alih-alih mendengarkan dengan bijaksana.

Juri 2: Representasi Juru Bicara Pemerintah

Juri LCC 4 Pilar MPR yang menjadi sorotan publik saat ini

Ketika Dyastasita yang menjadi representasi birokrat dan pejabat negeri ini sudah memberi keputusan, maka kini giliran para pendukung utama pemerintah yang bersuara.

Dalam hal ini, Indri Wahyuni yang bertindak. Dalam strata posisi di ruangan itu, Indri merupakan sosok yang berada di "lingkaran utama" pemerintahan, sehingga harus segera ambil bagian. Indri yang menjadi Juri 2 dalam perlombaan tersebut, tak ubahnya sebagai kepanjangan tangan dari Dyastasita yang merepresentasikan pejabat tinggi di negeri ini.

Layaknya juru bicara di pemerintahan, Indri Wahyuni menyampaikan pembelaan ugal-ugalan untuk Dyastasita dan tentu saja menyalahkan Grup C dengan argumen yang terus terang, saya sebut sangat mengada-ada. 

Tak peduli mana yang benar dan mana yang salah, Indri Wahyuni menetapkan arah komentarnya sebagai pembela utama Dyastasita, yang mana tentu saja sekaligus menjadi benteng penghalang untuk rakyat yang direpresentasikan oleh Grup C.

Pembawa Acara: Pendengung dan Pembela Birokrat dan Pejabat

Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 - Provinsi Kalimantan Barat. (YouTube MPRGOID)

Jika dirunut secara hierarki, posisi pembawa acara di lomba cerdas cermat kemarin berada di tengah-tengah dan menjadi penghubung antara dewan juri dengan para peserta.

Dengan kata lain, jika digambarkan dengan tingkatan-tingkatan, antara peserta dengan dewan juri seperti terpisahkan dua tingkatan dan di tengah-tengah tingkatan antara mereka ada posisi pembawa acara. 

Seharusnya, dengan posisi pembawa acara yang dekat dengan kedua belah pihak, Shindy Lutfiana bisa menjadi penengah yang baik. Dengan posisinya sebagai metronome lomba tersebut, Shindy bisa bertindak bijak semisal memberi masukan kepada dewan juri untuk mengambil jeda dan kembali meninjau jawaban dari Grup C.

Namun sayangnya, di momen tersebut Shindy Lutfiana justru lebih terlihat sebagai pendengung (buzzer) yang selain memberikan "jalan kebenaran" kepada dewan juri, juga mengompori Grup C untuk menerima apa yang telah diputuskan.

Dan seperti rasa sakit hati yang kerap kita rasakan ketika para pendengung beraksi, di momen tersebut Shindy juga melakukan hal yang sama, dengan mengucapkan "Mungkin hanya perasaan adik-adik saja," yang selain mengintimidasi perasaan Grup C, juga menyisakan murka khalayak ramai.

Grup B: Representasi Masyarakat Oportunis

Pada prinsipnya, selalu saja ada kelompok yang mencari kesempatan ketika sesamanya sedang mendapatkan kesulitan. Hal inilah yang saya lihat dari Grup B ini.

Saya tak bermaksud untuk menjelekkan atau bahkan menghujat, namun sikap yang ditunjukkan oleh Grup B ini ketika Grup C mendapatkan ketidakadilan saat berlomba langsung membuat saya langsung teringat dengan kelompok ini.

Dari sedemikian banyak anggota Grup B, tentu rasanya agak mustahil jika mereka tak mendengarkan jawaban yang terlontar dari Grup C. Terlebih, jawaban yang disampaikan oleh Grup C juga pasti sangat familiar karena sudah mereka pelajari selama rangkaian persiapan di lomba ini.

Satu hal lagi yang membuat saya agak menyayangkan adalah, gestur dari anak-anak Grup B ini ketika Grup C melakukan protes. Beberapa di antara mereka bahkan terlihat melambaikan tangan yang menggambarkan gestur penolakan dan penyangkalan.

Bagi saya, sikap semacam ini tak ubahnya seperti mencari peluang ketika kelompok yang lain sedang mengalami kejatuhan.

Audiens dan Grup A: Representasi Rakyat yang Emoh Terlibat

Selain kelompok-kelompok sosial di atas, dalam ruangan tempat LCC 4 Pilar MPR RI Kalimantan Barat masih ada satu kelompok lagi, yakni para audiens dan Grup A.

Di mata saya, kalangan audiens maupun Grup A ini adalah representasi dari rakyat yang tak mau terlibat dalam konflik antara pejabat-pemerintah (Juri 1) dengan rakyat (Grup C).

Meskipun saya yakin di antara mereka pasti ada yang mendengar dengan jelas jawaban dari Grup C, namun mereka memilih untuk apatis karena beragam alasan. Bisa jadi mereka emoh terlibat karena merasa itu bukan urusan mereka, dan bisa jadi juga mereka tak mau terlibat karena merasa suara mereka sudah pasti tak akan digubris.

Untuk alasan yang kedua ini saya sayup-sayup mendengar ada suara dari para audiens yang mencoba untuk memberikan suaranya dalam kejadian tersebut. Namun yang terjadi sudah bisa ditebak, lagi-lagi suara mereka dibungkan dan tak digubris bukan?

Bagaimana? Sangat menarik bukan? Hanya dalam satu ruangan tempat diselenggarakannya Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI Provinsi Kalimantan Barat, kita sudah bisa melihat miniatur strata sosial di Indonesia saat ini. 

Harapan saya, dengan melihat miniatur strata sosial kehidupan di negeri ini melalui lomba tersebut, kita tak hanya bisa mengetahui posisi kita berada, namun juga bisa bertindak lebih bijak dengan posisi yang kita miliki. Dan patut digarisbawahi, bagaimanapun keadaan Indonesia saat ini, hal itu tak sedikit pun mengurangi rasa cinta yang saya miliki kepada Ibu Pertiwi.