Ada masa ketika membaca rasanya seperti memasuki dunia lain dan membuat saya lupa waktu. Namun belakangan, pengalaman itu semakin sulit ditemukan. Baru beberapa halaman membaca, tangan saya refleks mengambil ponsel. Notifikasi media sosial, pesan, hingga keinginan untuk sekadar membuka aplikasi lain perlahan memecah fokus yang tadinya utuh.
Saya mulai menyadari bahwa yang berubah bukan hanya kebiasaan membaca saya, tetapi juga cara otak saya bertahan dalam keheningan. Fenomena ini tampaknya bukan hanya saya yang mengalami. Di tengah derasnya arus informasi digital, banyak orang mulai kesulitan mempertahankan fokus dalam waktu lama.
Konten-konten pendek yang muncul tanpa henti membuat perhatian kita terbiasa berpindah cepat. Saya sendiri sering merasa membaca buku kini membutuhkan usaha lebih besar dibanding beberapa tahun lalu. Dulu, saya bisa menghabiskan ratusan halaman dalam sehari tanpa merasa lelah. Sekarang, membaca sepuluh halaman saja rasanya seperti perjuangan karena pikiran terus terdistraksi oleh hal lain.
Padahal, dulu membaca memiliki tempat yang sangat istimewa dalam hidup saya. Saya masih ingat bagaimana saya bisa duduk berjam-jam di sudut kamar hanya untuk menyelesaikan satu novel. Tidak ada dorongan untuk memeriksa notifikasi setiap beberapa menit.
Membaca bukan sekadar aktivitas pengisi waktu, tetapi juga ruang untuk memahami diri sendiri, mengenal emosi, dan melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Kini, saya merasa sedang berusaha merebut kembali pengalaman itu.
Ketika Fokus Menjadi Barang Langka
Saya mulai menyadari perubahan ini ketika membaca tidak lagi terasa mendalam. Mata saya memang bergerak mengikuti tulisan, tetapi pikiran saya melompat ke mana-mana. Kadang saya membaca satu paragraf berulang kali karena tidak benar-benar memahami isinya. Saya merasa tubuh saya hadir, tetapi perhatian saya terpecah oleh banyak hal sekaligus.
Media sosial tampaknya menjadi salah satu penyebab terbesar. Saya terbiasa menerima informasi secara cepat dan singkat. Akibatnya, otak saya mulai menuntut stimulasi terus-menerus. Ketika membaca buku yang ritmenya lebih lambat, saya merasa tidak sabar.
Mengingat Kembali Rasanya Tenggelam dalam Buku
Ada alasan mengapa saya ingin kembali dekat dengan buku. Membaca dulu memberi saya pengalaman emosional yang sulit dijelaskan. Saya bisa tertawa, merasa marah, atau bahkan menangis hanya karena larut dalam cerita. Buku membuat saya merasa lebih hidup karena saya benar-benar hadir dalam setiap halaman yang saya baca.
Saya rindu pada versi diri saya yang mampu menikmati keheningan tanpa merasa gelisah. Dulu, membaca menjadi tempat saya beristirahat dari dunia. Sekarang, ironisnya, saya justru sering merasa gelisah ketika tidak memegang ponsel. Kesadaran itu membuat saya kebingungan. Apakah saya benar-benar kehilangan waktu untuk membaca, atau sebenarnya saya kehilangan kemampuan untuk memberi perhatian penuh?
Upaya Kecil untuk Merebut Kembali Makna Membaca
Saya tahu perubahan ini tidak bisa diperbaiki dalam semalam. Karena itu, saya mencoba memulai dari langkah kecil. Saya mulai menyediakan waktu khusus untuk membaca tanpa membuka media sosial. Kadang hanya lima belas atau dua puluh menit, tetapi saya berusaha benar-benar fokus pada halaman yang ada di depan saya.
Selain itu, saya juga mencoba menikmati membaca tanpa menaruh target yang terlalu tinggi. Dulu saya sering memaksa diri menyelesaikan banyak buku sekaligus, padahal yang saya rindukan sebenarnya bukan jumlah buku yang selesai dibaca, melainkan pengalaman tenggelam di dalamnya. Perlahan, saya mulai menemukan kembali rasa tenang yang dulu pernah saya miliki saat membaca.
Mungkin saya belum sepenuhnya berhasil merebut kembali makna membaca seperti dulu. Namun setidaknya, saya sedang belajar untuk hadir kembali, tidak hanya di depan halaman buku, tetapi juga dalam hidup saya sendiri. Di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat, membaca menjadi cara kecil bagi saya untuk berhenti sejenak dan mengingat bahwa tidak semua hal harus berjalan secepat guliran layar ponsel.
Baca Juga
-
Wisuda Tinggal Menghitung Hari, Tapi Kenapa Saya Malah Merasa Takut?
-
Melongok ke Dalam Gelapnya Depresi Lewat No Longer Human karya Osamu Dazai
-
Novel The Devotion of Suspect X: Sebuah Upeti untuk Logika yang Salah Jalan
-
Pink Tax Adalah Bentuk Diskriminasi yang Dijual Lewat Produk Perempuan
-
Toko Kenangan yang Tertukar
Artikel Terkait
Kolom
-
Luka Hati Mas Menteri: Saat Pengabdian Inovator Dibalas Tuntutan 18 Tahun
-
Perempuan dan Inner Critic: Saat Suara dalam Diri Malah Jadi Musuh Terbesar
-
Gulir Panas LCC 4 Pilar MPR RI Kalbar: Memandang Wajah Indonesia dalam Satu Ruangan
-
Persoalan Penulis: Ide Melimpah, Tapi Tulisan Tak Kunjung Selesai
-
Sambo S2 di Lapas Pakai Beasiswa, Logika Kita yang Rusak atau Dia yang Sakti?
Terkini
-
Cara Pilih Shade Tinted Moisturizer yang Pas, Jangan Asal Pilih!
-
Ada Song Seung Heon, Intip 7 Pemeran Utama Film Komedi 'Gardeners'
-
Pengisi Suara Ran Mouri Detective Conan, Wakana Yamazaki, Meninggal Dunia
-
Juicy Luicy Kembali dengan Luka Baru Lewat Gurun Hujan, Apa Maknanya?
-
Masih Banyak yang Menganggap Sama, Apa Bedanya Paskah dan Kenaikan Yesus Kristus?