Lintang Siltya Utami | e. kusuma .n
Ilustrasi berbelanja (unsplash.com/George Bakos)
e. kusuma .n

Saya pernah checkout barang hanya karena takut kehabisan promo. Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, saya sebenarnya tidak terlalu membutuhkannya.

Awalnya terasa biasa saja, sekadar “self reward” atau saat itu memang hanya ikut tren yang sedang ramai. Tapi semakin sering terjadi, saya mulai sadar kalau kebiasaan belanja era sekarang sering kali bukan lagi soal kebutuhan.

Kadang, kita membeli karena takut tertinggal. Membeli karena promo besar-besaran atau momen flashsale yang menggiurkan. Dan jujur saja, saya juga pernah terjebak di situ.

Hidup di Tengah Godaan yang Tidak Pernah Habis

Saya merasa hidup di era yang serba cepat ini penuh sekali dengan distraksi dan godaan konsumsi. Buka media sosial, muncul iklan. Lihat influencer memakai sesuatu, langsung ingin punya juga.

Belum lagi promo tanggal kembar, gratis ongkir, dan diskon yang terasa seperti “kesempatan langka”. Sistem digital sekarang memang dibuat agar kita terus tertarik membeli.

Tanpa sadar, saya jadi sering sulit membedakan mana yang benar-benar saya butuhkan dan mana yang hanya saya inginkan sesaat. Hidup seolah terjebak dalam godaan yang tidak pernah habis.

FOMO: Semua Terasa Penting

Salah satu hal yang paling saya rasakan adalah pengaruh FOMO (fear of missing out). Saat semua orang membahas produk tertentu, saya jadi penasaran. Saat ada barang viral, rasanya seperti saya juga harus punya.

Bukan karena benar-benar penting, tapi karena takut tertinggal dari tren atau lingkungan sekitar. Lucunya, kadang setelah barang itu datang, rasa senangnya cepat hilang. Bahkan tidak jarang saya bingung kapan harus memakainya.

Pada akhirnya, barang yang dibeli hanya menumpuk begitu saja. Dan saya pun mulai bertanya ke diri sendiri: saya beli ini karena butuh, atau hanya ingin ikut merasa “terhubung” dengan tren?

Media Sosial dan Budaya Konsumsi Cepat

Menurut saya, media sosial punya peran besar dalam membentuk pola konsumsi zaman sekarang. Kita terus melihat kehidupan orang lain—barang baru, outfit baru, gadget baru, tempat nongkrong baru.

Lama-lama, standar kebutuhan ikut berubah. Hal yang dulu dianggap cukup, sekarang terasa kurang. Saya pernah merasa biasa saja dengan barang yang saya punya, sampai melihat orang lain memakai versi yang lebih baru.

Dari situ muncul keinginan untuk upgrade, meski sebenarnya barang lama masih berfungsi dengan baik. Dan ternyata, rasa kurang itu sering lahir bukan dari kebutuhan nyata, tapi dari perbandingan.

Belanja Sebagai Pelarian Emosi

Yang juga mulai saya sadari, kadang saya membeli sesuatu bukan karena membutuhkannya, tapi karena sedang ingin merasa lebih baik. Saat stres, capek, atau bosan, checkout terasa seperti hiburan singkat.

Ada sensasi senang saat paket datang, meski hanya sementara. Belanja menjadi bentuk pelarian emosional yang dinormalisasi. Sayangnya, rasa puas itu sering cepat hilang, sementara pengeluaran tetap bertambah.

Belajar Lebih Sadar Sebelum Membeli

Sekarang, saya mencoba untuk berhenti sejenak sebelum checkout. Saya mulai bertanya ke diri sendiri: apakah saya benar-benar membutuhkan ini? Apakah barang ini akan dipakai dalam jangka panjang? Atau saya hanya sedang ikut hype?

Tidak selalu berhasil. Kadang saya tetap impulsif. Tapi setidaknya sekarang saya lebih sadar terhadap pola konsumsi saya sendiri. Dan menurut saya, kesadaran itu menjadi penting di era ketika membeli sesuatu terasa terlalu mudah.

Hidup Tidak Harus Selalu Mengikuti Tren

Semakin dewasa, saya mulai sadar kalau tidak semua tren harus diikuti. Tidak semua barang viral akan membuat hidup lebih bahagia. Dan tidak semua yang dimiliki orang lain harus saya miliki juga.

Kini saya mencoba menikmati apa yang sudah saya punya, tanpa terus-menerus merasa kurang. Karena rasa cukup itu bukan datang dari seberapa banyak barang yang dimiliki, tapi dari seberapa tenang kita dengan diri sendiri.

Belajar Mengenali Keinginan Sendiri

Saya tidak berpikir belanja atau mengikuti tren itu sepenuhnya salah. Semua orang pasti pernah ingin menikmati hasil kerja kerasnya sendiri. Tapi saya juga mulai memahami hidup di era digital membuat kita mudah sekali terdorong membeli karena pengaruh luar.

Dan mungkin, tantangan terbesar hari ini bukan hanya soal mengatur uang, tapi juga soal mengenali mana kebutuhan nyata dan mana keinginan yang lahir dari FOMO. Karena sebenarnya tidak semua yang diinginkan benar-benar kita butuhkan.