Istilah paylater bukan sesuatu yang asing bagi kita. Di era transformasi digital memunculkan berbagai perubahan di berbagai aspek, salah satunya muncul ragam inovasi teknologi finansial (tekfin/fintech). Salah satu dari fintech tersebut adalah paylater.
Mungkin kita sudah tahu bahwa paylater merupakan metode pembayaran tunda atau kredit digital yang memungkinkan pengguna membeli barang/jasa sekarang dan membayarnya di kemudian hari, baik secara penuh (tempo 30 hari). Dengan adanya kecanggihan teknologi ini menjadi primadona di masyarakat dan selalu dipakai dalam berbelanja online, membeli tiket pesawat dan lain sebagainya.
Memiliki Banyak Peminat Karena Bermanfaat
Jika kita pikirkan bersama bahwa paylater itu bermanfaat ketika kita sedang tidak memiliki uang maupun tak dapat mencairkan uang secara langsung dan cepat. Selain itu, paylater sangat membantu kita bilamana ada kebutuhan mendesak namun gaji belum cair, tunjangan belum cair maupun sedang banyak pengeluaran. Dengan adanya paylater akan sangat membantu untuk "berhutang" dengan teknologi.
Tentu saja hal tersebut sangat membantu bagi orang-orang yang masih kekurangan pula. Hal tersebut tentu saja akan sangat memudahkan dan memberikan kemanfaatan yang lebih untuk setiap orang. Dengan kata lain, kita tak perlu "berhutang" dengan pihak lain, pinjol maupun beragam platform lainnya. Kita bisa menggunakan paylater untuk membeli sesuatu tanpa ada tekanan apapun dari pihak-pihak penagih. Kita bisa menyesuaikan dengan tenggat waktu yang sudah diberikan dalam membayar "hutang" tersebut.
Kemanfaatan ini tentu memberikan kemudahan sehingga banyak peminatnya. Contoh lain, kita juga dapat membeli tiket pesawat, tetapi membayar tidak di hari yang sama. Teman saya pernah melakukan hal tersebut dikarenakan sedang tidak punya uang maka memakai paylater untuk membeli tiket pesawat. Dia pun menyarankan ke teman lainnya untuk memakai paylater bila ada kebutuhan mendesak. Pada kesimpulannya paylater itu sangat membantu kita. Dunia teknologi muncul memiliki tujuan yang baik buat setiap orang, asal dipergunakan untuk hal-hal yang baik pula bukan untuk melakukan kejahatan seperti penipuan maupun penggelapan dana.
Menjadikan Seseorang Konsumtif Impulsif
Jika tadi adalah kelebihan dan kemanfaatan dari paylater, maka kita harus tahu juga kelemahan atau kekurangan dari adanya paylater dalam proses transaksi digital kita, yakni konsumtif impulsif. Dengan kata lain, masyarakat semakin rajin membeli barang tanpa sebuah perencanaan dan berdasarkan keinginan dan nafsu saja. Dalam konteks ini, ketika sudah diberi kemudahan tetapi bertindak over atau berlebihan.
Tujuan awal dari paylater adalah membantu dalam proses transaksi keuangan dengan jangka waktu 30 hari. Namun, ditemukan pula orang-orang yang menjadi ketagihan atau kecanduan berbelanja online maupun membeli kebutuhan tanpa kontrol. Akhirnya, saat jatuh tempo, kesulitan untuk membayar karena "hutang" sudah menumpuk. Segala hal dibeli hanya untuk kesenangan semata. Emosi untuk membeli sesuatu tidak ditahan, malah membiarkan ego yang berbicara. Kalau "hutang" sudah menumpuk, maka akan kesulitan untuk membayar.
Keinginan dan nafsu menguasai hati dan pikiran. Awalnya untuk membantu dalam transaksi namun akhirnya makin boncos. Kalau sudah begitu, sama saja akan merugikan kita. Ekonomi sehari-hari terkuras habis dan tak tahu lagi memakai apa untuk membutuhi kebutuhan sebulan kedepan. Kondisi ini tentu saja harus dihindari. Jangan sampai menyalahgunakan kecanggihan teknologi dengan kesalahan. Kita juga harus dapat menjaga ego dan nafsu. Kendalikan keinginan dalam diri agar tidak merusak akal kita.
Perencanaan Matang Sebelum Berbelanja
Segala teknologi yang hadir dengan tujuan untuk memudahkan maka pergunakan sebagaimana mestinya, tidak berlebihan. Sesuatu yang berlebihan tentu saja tidak baik. Oleh karena itu, paylater hadir di tengah-tengah kita hanya untuk membantu dalam proses transaksi. Kecanggihan teknologi hadir untuk memberikan kemudahan dan kemanfaatan. Tentu saja kita harus mampu mengendalikan agar perekonomian kita tidak terancam.
Kedepannya, kita bisa memahami bahwa paylater adalah kunci di tengah perekonomian keluarga sedang tidak baik-baik saja, namun harus diukur dengan kemampuan kita untuk membayar dengan tempo waktu yang sudah ditentukan. Penting sekali perencanaan matang sebelum berbelanja apapun. Pastikan kemampuan pendapatan dengan pengeluaran. Ayo gunakan paylater dengan baik dan benar.
Baca Juga
-
Pria Jepang Jadi 'Pahlawan' di Stadion, Tapi 'Beban' di Rumah Tangga
-
Dibalik Maraknya Kasus Deepfake di Kampus: AI Bukan Lagi Sekadar Alat Bantu
-
Pesona Veteran di Piala Dunia 2026: Pembuktian Kualitas Melampaui Usia
-
Dihalangi Visa hingga Diusir: Mengapa Iran Jadi Korban Diskriminasi di Piala Dunia 2026?
-
Bukan Sekadar Menang: Pelajaran Berharga dari Suporter Jepang di Piala Dunia 2026
Artikel Terkait
-
Budaya Konsumtif Gen Z: Risiko Masa Depan Bumi di Tangan "Generasi Checkout"
-
Prioritaskan Transparansi, BRI Dukung Proses Hukum Kasus KoinWorks
-
3 Bos KoinWorks Dijebloskan ke Bui, Skandal Korupsi Kredit Rp 600 Miliar
-
Era Bakar Uang Berakhir! Kini Fintech RI Masuk Fase Jaga Kandang dan Akuntabilitas
-
Waspada! Ini Penipuan yang Sering Muncul di Transaksi Digital
Kolom
-
Giliran Beli Rumah Disebut MBR, Giliran Bayar Pajak Dianggap Kaya Raya
-
Token Telat Diputus, tapi Listrik Mati Sesuka Hati Tanpa Pengumuman
-
Falsafah Siri dan Pidato Presiden: Menakar Keadaban Lisan Pemimpin Kita
-
Brasil vs Jepang di Piala Dunia 2026: Duel Nyata ala Captain Tsubasa
-
Viral Dulu Baru Ditolong? Negara Tak Boleh Bekerja Berdasarkan Algoritma
Terkini
-
Bahaya! ATEEZ Terjebak dalam Pesona Magnetis dan Memabukkan di Lagu Bad
-
Di Bawah Rp30 Ribu! 5 Brightening Serum Aman untuk Pemula Atasi Kulit Kusam
-
Review Jack Ryan: Ghost War, Saat Sang Agen Menghadapi Musuh Masa Lalunya
-
Bukan Arab Saudi apalagi Qatar, Kepulangan 4 Tim Ini Bikin Greget Piala Dunia 2026 Jadi Berkurang
-
Relate Sama Korban HTS, Ini Makna Nyesek di Balik Lagu 'Tak Sampai Mekar'