Beberapa hari terakhir, lini masa saya penuh dengan satu nama: Nadiem Makarim. Sejujurnya, sebagai WNI yang ikut bangga saat melihat anak muda masuk ke kabinet, munculnya kabar tuntutan 18 tahun penjara dari jaksa terkait kasus Chromebook ini, membuat dada saya terasa sesak. Rasanya seperti melihat sebuah aplikasi startup yang baru saja memperbarui fitur, tapi tiba-tiba kena banned permanen oleh sistem operasi yang sudah usang.
Mari kita bicara jujur dan tujuan di sini. Angka 18 tahun itu bukan angka sembarangan. Itu durasi yang lebih lama dari waktu yang dibutuhkan seorang anak dari masuk SD sampai lulus SMA. Nadiem sendiri dalam sidang Rabu (13/5/2026) lalu sampai harus membandingkan nasibnya dengan pelaku terorisme. Di negeri ini, apakah menghancurkan masa depan lewat (dugaan) korupsi alat belajar memang dianggap lebih "berdarah" daripada menghancurkan nyawa lewat bom? Ataukah hukum kita memang sedang hobi melakukan hukuman "markup" demi memuaskan dahaga kemarahan publik?
Buat kalian yang belum tahu, Nadiem punya pembelaan yang cukup menantang nalar. Dia menggunakan sistem e-katalog dalam pengadaan Chromebook itu. Logikanya, e-katalog adalah cara paling transparan, kayak kita belanja di marketplace. Harganya jelas, vendornya ada, dan semua bisa diaudit. Banyak influencer dan pakar teknologi mulai bertanya-tanya: Kalau sistemnya sudah settransparan itu, di titik mana korupsinya terjadi?
Dalam birokrasi kita, transparansi digital sering kali kalah oleh prosedur analog. Bisa jadi, secara sistem digital sudah benar, namun ada aturan administratif tahun 80-an yang belum diperbarui sehingga inovasi tersebut dianggap sebagai pelanggaran. Inilah yang sering disebut sebagai kriminalisasi kebijakan.
Nasib Inovator di Labirin Birokrasi
Ingat atau tidak, saat Nadiem membangun Gojek? Dia mengganggu kekacauan transportasi jalanan menjadi keteraturan digital. Ketika dia masuk ke kementerian, dia ingin melakukan hal yang sama: mendisrupsi pendidikan yang kaku menjadi "Merdeka Belajar" yang serba digital. Tapi ironinya, dia justru "tercebur" di dalam sistem yang coba dia bersihkan.
Mari kita bandingkan secara tujuan. Kasus Korupsi Bansos: mengambil hak makan rakyat di tengah pandemi, vonisnya sekitar 12 tahun; Kasus Jaksa Pinangki: Terbukti terima suap, vonisnya dipangkas jadi 4 tahun; Kasus Nadiem: Dugaan pengadaan pengadaan laptop (yang sistemnya diklaim transparan), menuntut 18 tahun.
Logikanya? Silakan kalian nilai sendiri. Jika standar ganda ini terus berjalan, kami sedang mengirimkan pesan yang sangat gelap bagi para profesional di luar sana. Pesannya adalah: "Jangan pernah mencoba membereskan negara ini jika kamu tidak punya 'ilmu kebal' hukum, atau backing-an politik yang kuat." Kita akan kehilangan generasi terbaik yang akhirnya lebih memilih balik menjadi CEO daripada menjadi menteri.
Apakah 18 tahun penjara bagi Nadiem adalah kemenangan untuk keadilan rakyat, atau justru kemenangan bagi sistem lama yang merasa terancam oleh transparansi digital?
Kita harus tetap kritis namun objektif. Jika memang ada uang rakyat yang mengalir ke saku pribadi, hukuman memang harus ditegakkan. Tapi jika 18 tahun ini hanya sebuah pertunjukan politik untuk meredakan kegaduhan tanpa dasar fakta konferensi yang kuat, maka yang sedang dipenjara sebenarnya bukan hanya Nadiem, tapi harapan kita untuk melihat pemerintahan yang bersih dan inovatif.
Jadi, menurut kalian, apakah 18 tahun ini sudah tepat di jalan yang benar, atau kita sedang menyaksikan drama pembunuhan karakter dengan naskah hukum yang dipaksakan? Mari kita kawal sidangnya, jangan sampai nalar kritis kita ikut-ikutan kena suspend oleh berita yang cuma sepotong-sepotong.
Baca Juga
-
Gaya Bahasa Jakselan di Kampus yang Bikin Logika Bahasa Baku Jadi Korban
-
Kesenjangan Literasi AI yang Diam-diam Menciptakan Kasta Baru di Kampus
-
Singa di Media Sosial, Anak Kucing di Ruang Kuliah: Mengapa Kita Gagap Menulis Ilmiah?
-
Sisi Gelap Label Introvert yang Bikin Generasi Sekarang Makin Egois
-
Beban Menjadi Anak Emas yang Dipaksa Menebus Kegagalan Orang Tua
Artikel Terkait
-
Mas Nadiem dan Chromebook: Niatnya Digitalisasi, Kok Berujung 18 Tahun Bui?
-
Beda Nasib Nadiem Makarim dan Jurist Tan: Satu Dituntut 18 Tahun, Satu Kabur ke Australia
-
Jurist Tan Sekarang di Mana? Stafsus Nadiem Makarim Tersangka Kasus Chromebook Kini Buron
-
Terpopuler: Kondisi Kesehatan Nadiem Makarim, 6 Bedak Lokal untuk Kulit Kendur
-
Terpopuler: Kronologi Kasus Chromebook Nadiem Makarim, Rekomendasi HP Midrange Body Metal
Kolom
-
Piala Dunia 2026 dan Seni Melupakan Masalah Selama 90 Menit
-
Syarat Berpenampilan Menarik di Lowongan Kerja, Bentuk Beauty Privilege?
-
AI Sudah Jadi Teman Curhat, Apa yang Dicari Gen Z dari Hubungan Digital?
-
Identik dengan Nobar, Piala Dunia 2026 Tak Nikmat Jika Ditonton Sendirian?
-
Tragedi Tebet: Ketika Fasilitas Publik Berubah Menjadi Kuburan bagi Balita Tak Berdosa
Terkini
-
Afrika Selatan Gagal, Kanada Lolos 16 Besar Siap Lawan Belanda atau Maroko?
-
Debut Sensasional, Cape Verde Jadi Tim Anomali di Ajang Piala Dunia 2026
-
Membaca Doorstoot naar Djokja: Menyelami Hari-Hari Paling Genting Indonesia
-
Harimau Galak Pensiun Jadi Penjual Kue? Intip Menggemaskannya 'Mr. Tigers Snacks'
-
Review Film 'Obsession': Terlalu Cinta Berubah Malapetaka