Jujur saja aku mulai menonton Boyfriend on Demand karena ada Jisoo. Setelah melihat aktingnya di Snowdrop yang emosional dan cukup kuat, tentu ekspektasiku lumayan tinggi. Namun di drama ini, terutama pada adegan menangis yang dibuat agak komedi, akting Jisoo justru terasa sedikit canggung.
Padahal sebenarnya kemampuan emosionalnya sudah lumayan bagus di proyek sebelumnya. Dan memang, masalah terbesar drama ini ada pada identitas genrenya yang terasa tanggung.
Ia ingin menjadi komedi romantis, tetapi di saat bersamaan juga mencoba menjadi drama psikologis tentang kesepian dan bahaya teknologi. Hasilnya kadang terasa tidak sepenuhnya lucu, tetapi juga belum cukup dalam untuk menjadi drama yang benar-benar menghantui.
Meski begitu, premis Boyfriend on Demand sebenarnya sangat menarik dan relevan dengan zaman sekarang.
Sinopsis Boyfriend on Demand
Drama ini mengisahkan Seo Mi-rae, diperankan Jisoo, seorang produser webtoon berusia 29 tahun yang hidupnya dipenuhi pekerjaan. Ia sukses dalam karier, tetapi kelelahan mental dan kesepian diam-diam menggerogoti hidupnya.
Mi-rae tidak punya waktu untuk menjalin hubungan nyata. Bahkan mantan kekasihnya sudah menikah dengan perempuan lain karena ia terlalu sibuk bekerja.
Di tengah burnout dan rutinitas monoton itu, Mi-rae mendapat kesempatan mencoba aplikasi kencan virtual bernama Boyfriend on Demand. Aplikasi tersebut memungkinkan pengguna memilih “pacar ideal” sesuai keinginan emosional mereka.
Konsepnya seperti masuk ke dunia Webtoon atau simulasi AI romantis, di mana karakter laki-laki sempurna akan hadir untuk memahami, mendengarkan, dan menemani penggunanya.
Awalnya Mi-rae skeptis. Ia hanya berniat menggunakan pengalaman tersebut sebagai bahan untuk Webtoon yang sedang diproduksinya. Namun perlahan ia mulai nyaman dengan dunia virtual itu.
Dan di sinilah drama mulai terasa menyeramkan. Pacar virtual Mi-rae terasa lebih memahami dirinya dibanding manusia nyata di sekitarnya. Ia bisa memilih sosok laki-laki ideal tanpa drama, tanpa konflik, tanpa rasa kecewa. Apalagi ketika karakter Seo Eun-ho hadir dengan semua pesona “cowok sempurna” ala drama Korea.
Tidak heran jika Mi-rae akhirnya memutuskan berlangganan aplikasi itu demi terus bertemu dengannya setiap hari. Premis ini terasa sangat dekat dengan dunia sekarang.
Hari ini kita hidup di era AI, chatbot personal, dan hubungan digital yang semakin realistis. Banyak orang mulai menggunakan AI bukan hanya untuk bekerja, tetapi juga sebagai tempat curhat, mencari validasi, bahkan menggantikan rasa kesepian.
Drama ini sebenarnya sedang memperingatkan sesuatu: bagaimana jika suatu hari manusia lebih nyaman dengan simulasi dibanding hubungan nyata?
Kelebihan dan Kekurangan
Semakin lama menonton, aku justru mulai merasa ngeri. Ada adegan ketika Mi-rae duduk di restoran mewah, tetapi lebih sibuk menatap layar ponselnya dibanding berinteraksi dengan orang di sekitarnya. Pacar virtualnya terasa lebih “hidup” daripada manusia sungguhan.
Drama ini menunjukkan bahwa ketika seseorang terlalu terbiasa dengan hubungan yang dirancang algoritma, realitas yang tidak sempurna akan terasa melelahkan. Dan itu sangat berbahaya.
Sebab hubungan nyata selalu memiliki konflik, salah paham, rasa kecewa, dan ketidaksempurnaan. Sedangkan dunia virtual hanya memberikan kenyamanan yang sudah diatur sesuai keinginan kita.
Kontras terbesar hadir melalui karakter Park Kyeong-nam yang diperankan Seo In-guk. Ia bukan tipe laki-laki sempurna ala aplikasi. Ia blak-blakan, menyebalkan, kompetitif, tetapi justru terasa manusiawi. Hubungannya dengan Mi-rae menjadi inti dilema drama ini: memilih kenyamanan palsu atau menerima hubungan nyata yang tidak sempurna.
Chemistry Jisoo dan Seo In-guk sebenarnya cukup dinamis dan menjadi kekuatan utama drama. Jisoo juga terlihat lebih santai dibanding proyek-proyek sebelumnya. Ditambah lagi drama ini dipenuhi visual estetik khas serial Netflix Korea. Pengambilan gambar dibuat dreamy, penuh warna lembut dan suasana romantis seperti fantasi.
Sayangnya, estetika visual itu kadang tidak diimbangi pengembangan plot yang kuat. Beberapa episode terasa repetitif dan terlalu fokus pada visual ketimbang pendalaman cerita. Padahal tema kesehatan mental, kesepian, dan ketergantungan digital yang diangkat sebenarnya sangat potensial untuk dibuat lebih emosional.
Meski begitu, Boyfriend on Demand tetap menarik ditonton karena relevansinya dengan kehidupan modern. Drama ini bukan sekadar kisah cinta virtual, tetapi refleksi tentang manusia yang semakin kesepian di tengah teknologi yang semakin canggih.
Dan mungkin, bagian paling menyeramkan dari drama ini adalah kenyataan bahwa dunia seperti itu terasa tidak lagi mustahil.
Identitas Drama
- Judul: Boyfriend on Demand
- Platform Tayang: Netflix
- Jumlah Episode: 10 episode
- Sutradara: Kim Jung-sik
- Penulis Naskah: Namgung Do-young
Pemeran Utama:
- Jisoo (BLACKPINK) sebagai Seo Mi-rae,
- Seo In-guk sebagai Park Kyung-nam,
Baca Juga
-
Kritik Tajam di Film Gowok: Tradisi yang Terlalu Lama Disembunyikan
-
Empower Yourself: Pengingat Bahwa Hidup Dimulai dari Cara Kita Berpikir
-
Krisis Lapangan Kerja Formal: Biang Kerok di Balik UMR Masuk Benefit!
-
Manajemen Hati Agar Tak Mudah Iri: Pelajaran di Buku Hujan Duit Dari Langit
-
Ironi Literasi di Indonesia: Buku Masih Terlalu Mahal bagi Banyak Orang
Artikel Terkait
Ulasan
-
No Place to Be Single, Alasan Kota Kecil Selalu Cocok untuk Film Romantis
-
Boogle Personality dalam Film 'Swapped': Berpura-PuraBaik Ternyata Busuk
-
Review Bungkam Suara: Satire Tajam J.S. Khairen tentang Ilusi Kebebasan
-
Mempelajari Sastra dan Budaya dalam Buku Puisi Karya Itaru Ogasawara
-
Mengintip Rahasia Semangat Belajar Jerome Polin Berdasarkan Buku yang Ditulisnya
Terkini
-
Dilema Finansial Perempuan: Gaji Tak Seberapa, Ekspektasi Setinggi Langit
-
Sisa 1 Hari Lagi, Marapthon Siapkan Konser Closing Besar di Istora Senayan
-
Budaya Belanja Generasi Sekarang: Antara Self-Reward dan Self-Destruction
-
Horor Absurd Nih! Film Dukun Magang tentang Mahasiswa dan Kuntilanak Hitam
-
Petir Cup 2026 Usai, Semangat Menendang Masih Menggelegar