M. Reza Sulaiman | afifatun kzh
ilustrasi paket ecomerce (pixabay/ha11ok)
afifatun kzh

Apakah sobat yoursay tim checkout produk di e-comerce pada tanggal kembar tiap bulannya? Atau justru tim yang selalu mengincar promo di jam tertentu tiap harinya?

Hal yang sangat menyenangkan bukan hidup di zaman sekarang? Mau membeli apa saja tidak harus keluar rumah. Tapi kegiatan yang seperti ini ternyata menjadi alarm yang harus kita sadari. Semakin mudahnya kita membeli apa saja lewat online, akan semakin banyak juga limbah dan kerusakan yang kita ciptakan. Mulai dari kemasan pembungkus barang, plastik pelindung seperti bubble wrap, selotip yang semakin berserakan, sampai asap-asap hasil pembakaran mesin motor yang siap mengantar hingga pintu gerbang adalah hal yang tidak bisa kita abaikan.

Kita secara tidak langsung bukan hanya sedang berlomba memperoleh promo, dan melakukan self-reward. Tapi juga berlomba menciptakan gunungan sampah baru. Salah satunya sampah plastik yang pada faktanya membutuhkan puluhan bahkan ratusan tahun untuk dapat terurai.

Saya akui sulit sekali untuk berhenti total dari kebiasaan berbelanja online. Belum lagi dengan kelengkapan produk yang tersedia mulai dari pakaian sampai kebutuhan pangan, bahkan buah hingga kebutuhan konstruksi juga tersedia. Bahkan order makanan matang kali ini sudah bukan hal asing lagi. Tapi sejalan dengan itu, ada dampak besar yang menghantui. Di mana bungkus-bungkus bekas kemasan mulai menumpuk dan menyebabkan permasalahan baru.

Permasalahan tersebut mau tidak mau harus mulai kita pikirkan juga. Mengingat data yang menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan penyumbang sampah plastik terbesar. Sementara itu, target pengurangan sampah plastik ke laut yang direncanakan mencapai 70 persen, saat ini baru terlaksana sekitar 41,68 persen. Hal ini tentu menjadi pengingat keras bagi kita, bahwa permasalahan lingkungan bukan hanya menjadi tugas pemerintah, tapi juga tugas semua orang.

Kontrol Diri dan Reorientasi Pola Belanja Langsung

Hal mendasar yang menurut saya perlu dilakukan adalah menyadari kalau tidak semua hal harus dibeli secara online. Kemudahan berbelanja yang tidak menuntut kita untuk keluar rumah, bertatap langsung dengan penjual, atau melakukan tawar menawar itu memang harus kita kontrol kembali.

Apakah barang yang kita beli secara online tersebut adalah barang yang mudah ditemukan secara langsung atau tidak? Apakah barang yang akan kita beli barang yang sangat penting dan dibutuhkan atau tidak? Apakah tidak bisa ketika kita membelinya secara langsung di pasar atau toko-toko terdekat?

Karena akan disayangkan ketika barang yang kita beli ternyata sangat mudah untuk dibeli secara langsung, namun justru memilih membelinya secara online. Padahal dengan berbelanja secara langsung, kita bisa lebih dahulu mempersiapkan tas belanjaan pribadi. Sehingga keamanan, dan keaslian barang juga lebih terjamin karena tidak perlu melewati tangan lain, dalam hal ini kurir atau ekspedisi.

"Tapi saya tidak memiliki cukup waktu untuk keluar rumah." Pernyataan seperti itu tentu saja akan selalu menjadi tameng paling sering digunakan sebagai alasan untuk bisa berbelanja online lagi dan lagi. Lalu bagaimana kalau kita balik pola pikir kita dengan, "Apa kita akan punya cukup waktu dan tenaga untuk membereskan kekacauan yang terjadi pada bumi kita karena plastik?"

Pada kenyataannya, mengutip dari data UNESA, Tahun 2025 produksi sampah plastik nasional mencapai 12,4 juta ton per tahun, meningkat 14% dibandingkan 2020. Bahkan, limbah mikroplastik sudah ditemukan pada aliran air sungai, makanan, sampai air minum kita sehari-hari. Bukankah kita secara tidak langsung sedang membunuh diri sendiri dengan perlahan?

Mendukung Perusahaan Hijau dan Gerakan ‘Checkout’ Kolektif

Selain harus menyadari betapa pentingnya barang yang akan dibeli, hal lain yang menurut saya bisa dilakukan adalah dengan mencari tahu lebih jauh asal muasal produk yang akan kita beli. Seperti halnya apakah perusahaan dari produk tersebut sudah 'melek' isu lingkungan?

Beberapa perusahaan baik lokal maupun mancanegara akhir-akhir ini tidak hanya sedang bersaing mengeluarkan produk terbaik mereka. Tapi juga mulai sadar bahwa isu lingkungan bukan lagi hal yang harus disepelekan. Mulai dari mengeluarkan produk dengan bahan dasar ramah lingkungan, memakai kemasan produk daur ulang, hingga memikirkan cara agar produk yang nantinya mereka kirim sampai ke tangan pembeli dengan aman sekalipun dengan kemasan simpel dan ramah lingkungan.

Apakah kemudian cukup sampai di situ? Tidak! Setelah kita mulai membangun kesadaran terhadap diri sendiri, coba sedikit demi sedikit menyadarkan orang di sekitar kita. Mulai dari lingkup keluarga contohnya. Bagaimana jika kebiasaan checkout masing-masing itu kita buat secara berkelompok? Bagaimana jika kebiasaan membeli baju secara online itu kita lakukan secara bersama-sama? Dengan hanya checkout di toko dan waktu yang sama, paket baju juga akan dikirimkan secara bersamaan. Sehingga sampah dari kemasan juga tidak terlalu banyak.

Mulanya memang agak sulit untuk sedikit mengontrol diri dari belanja online. Belum lagi dengan arus promo yang semakin kencang, fitur yang membuat siapa pun betah berlama-lama untuk scroll barang, sampai adanya fitur paylater yang bisa digunakan meski keadaan sedang tidak mengantongi uang menjadi daya tarik tersendiri. Tapi kesadaran di masing-masing individu menjadi hal yang jauh lebih berharga daripada itu semua.

Bukan hanya teknologi yang berdampak besar pada kerusakan lingkungan, tapi juga manusia di baliknya. Orang yang menggunakan teknologi secara berlebihan tanpa sadar justru ikut memberikan andil yang besar. Bagaimana kita memanfaatkan teknologi untuk kemudahan hidup, seharusnya sejalan dengan bagaimana kita memanfaatkan teknologi untuk menjaga lingkungan.

Langkah-langkah kecil yang dimulai dari diri sendiri, akan berdampak besar jika dilakukan bersama-sama. Yuk sobat yoursay, jangan biarkan kecepatan jari di layar itu menjadi awal menggunungnya permasalahan sampah baru!

Baca Juga