Sadar atau tidak, ketika kita sedang berselancar di media sosial, seolah ada sesuatu yang “membaca” setiap pergerakan kita. Tiap pencarian yang kita lakukan di sana seolah dianalisis sedemikian rupa hingga nantinya muncul dalam bentuk iklan-iklan produk yang selaras dengan kata kunci yang kita ketik di mesin pencari.
Dulu mungkin saya merasa heran dan berpikir, “kok bisa, ya?” Namun, seiring waktu saya jadi semakin mengerti bila memang begitulah cara kerja algoritma.
Hal semacam ini bukan hanya terjadi di media sosial, tetapi juga di aplikasi e-commerce. Pernahkah Sobat Yoursay merasa kepikiran ingin membeli sesuatu setelah berkali-kali melihat iklannya?
Jujur, saya pribadi beberapa kali mengalaminya, bahkan hal yang sama juga terjadi belum lama ini. Karena merasa lipstick yang saya miliki di rumah shade-nya kurang cocok, saya mencari shade lain yang lebih sesuai.
Pencarian pertama, kedua, ketiga, hingga beberapa kali saya merasa belum ada produk yang mencuri perhatian. Namun, algoritma terus-menerus menampilkan berbagai pilihan lipstick yang sesuai dengan kebutuhan saya. Semakin sering melihat rekomendasi tersebut, pada akhirnya saya pun tergoda untuk membeli.
Setelah pencarian dilakukan, feed mulai dipenuhi produk serupa. Iklan lalu merembet ke berbagai platform sekaligus. Semua tampak wajar, bahkan terasa seperti kebetulan, padahal semua itu merupakan rekomendasi algoritma. Tanpa kita sadari, algoritma sudah mengenal kita dengan baik melalui setiap pergerakan kita di media digital.
Semua berawal dari keinginan dan rasa penasaran. Setelah itu, pencarian yang kita lakukan membuat algoritma membacanya dan menyajikan konten-konten sesuai dengan yang kita cari. Semakin sering dilihat, semuanya terasa semakin familiar. Hingga akhirnya muncul pikiran: “kayaknya aku butuh ini.” Hal ini kemudian didukung juga dengan munculnya harga diskon yang membuat kita semakin merasa “kalau nggak beli sekarang, nanti nyesal.”
Di titik ini, muncul sebuah ilusi yang kerap luput kita sadari. Tidak ada yang benar-benar memaksa kita untuk checkout sehingga kita pun merasa keputusan membeli sepenuhnya berasal dari diri sendiri. Padahal sebelum keputusan itu dibuat, ada begitu banyak hal yang telah memengaruhi cara kita memandang suatu produk. Mulai dari rekomendasi algoritma, ulasan pengguna, konten kreator yang menggunakannya, hingga iklan yang terus muncul berulang kali. Meski keputusan memang tetap berada di tangan kita, tetapi pilihan tersebut tidak sepenuhnya lahir dari ruang yang benar-benar netral.
Meskipun begitu, algoritma tidak lantas selalu membawa dampak buruk terkait kebiasaan belanja kita. Sistem rekomendasi yang diberikan sebenarnya bisa memudahkan kita dalam menemukan produk yang memang sesuai kebutuhan sehingga proses mencari barang menjadi lebih cepat dan efisien. Persoalannya muncul ketika setiap rekomendasi yang terus muncul mulai kita anggap sebagai kebutuhan baru yang harus segera dipenuhi.
Hidup di era sekarang, kita mungkin memang tidak bisa menghindari algoritma. Namun, kita tetap bisa mengurangi pengaruhnya. Satu cara sederhana yang bisa kita lakukan adalah dengan memberi jeda selama 24 jam. Di waktu itu, kita bisa berpikir ulang dan mempertimbangkan kembali dengan lebih matang. Kita bisa bertanya pada diri sendiri apakah aku memang butuh ini ataukah hanya merasa butuh karena terlalu sering melihatnya? Dari situ, kita bisa belajar membedakan mana kebutuhan yang benar-benar muncul dari diri sendiri dan mana yang terbentuk karena terlalu sering terpapar rekomendasi.
Akhirnya, jika kita membicarakan tentang kebiasaan belanja, yang paling perlu untuk dijaga adalah kesadaran kita pada saat mengambil keputusan. Algoritma mungkin bisa mengarahkan perhatian kita, tetapi jangan sampai ia juga mengambil alih kesadaran kita saat memutuskan untuk membeli.
Baca Juga
-
Kerja Sesuai Passion atau Demi Uang? Dilema Gen Z saat Memilih Karier
-
Bahaya Live Shopping Tengah Malam: Ketika Diskon Kilat Merusak Logika
-
Teman Datang saat Butuh, Salah Mereka atau Ekspektasi Kita?
-
Punya Kebiasaan Begadang, Sebenarnya Apa yang sedang Dikejar Gen Z?
-
Traveling atau Menambah Tabungan? Dilema Gen Z saat Punya Uang Lebih
Artikel Terkait
Kolom
-
Dilema Memilih Jurusan Kuliah: Saat Minat Kalah oleh Prospek Kerja
-
Kerja Sesuai Passion atau Demi Uang? Dilema Gen Z saat Memilih Karier
-
Fear of Missing Content: Tren Media Sosial yang Diam-diam Bikin Gen Z Lelah
-
Jangan Dibuang! Ternyata Tempe "Bosok" adalah Rahasia Kelezatan Masakan Jawa
-
Perempuan yang Menulis: Saat Kata-Kata Menjadi Bentuk Keberanian
Terkini
-
Ulasan To the Moon: Mimpi Naik Kelas di Tengah Kerasnya Dunia Kerja
-
5 Maskara Waterproof untuk Bulu Mata Pendek, Awet Seharian Tanpa Luntur!
-
4 Sunscreen Aman Dipakai Ibu Hamil dan Busui untuk Perbaiki Skin Barrier
-
Babak Terakhir Tazza! Siapkan Nyali, Ini Detail Film The Song of Beelzebub yang Bakal Tayang 2026
-
Prediksi Norwegia vs Inggris: Haaland Siap Bantai Kane CS Demi Semifinal