Lintang Siltya Utami | e. kusuma .n
ilustrasi perempuan muda (Pexels/Nurul Sakinah Ridwan)
e. kusuma .n

Setiap Iduladha datang, media sosial biasanya dipenuhi berbagai unggahan tentang kurban. Mulai dari foto sapi ukuran jumbo, dokumentasi proses penyembelihan, hingga caption penuh rasa syukur. 

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan berbagi momen. Namun, belakangan saya merasa ada satu hal yang perlu direnungkan bersama: apakah makna kurban perlahan mulai bergeser jadi ajang flexing?

Di era media sosial sekarang, hampir semua hal terasa mudah dipamerkan. Makan enak diunggah, belanja diunggah, liburan diunggah, bahkan ibadah pun kadang ikut masuk konten. 

Akhirnya saya bertanya-tanya sendiri, apakah kita masih benar-benar memahami arti rela berkorban, atau justru lebih sibuk menunjukkan “siapa yang paling mampu”?

Menurut saya, Iduladha seharusnya menjadi momen untuk belajar ikhlas dan rendah hati, bukan sekadar memperlihatkan status sosial di internet.

Media Sosial dan Budaya Validasi

Saya sadar media sosial memang membuat orang terbiasa membagikan kehidupan pribadi. Ada rasa senang ketika unggahan mendapat banyak likes, komentar, atau pujian dari orang lain.

Masalahnya, budaya validasi ini kadang tanpa sadar ikut terbawa ke hal-hal yang sifatnya lebih personal, termasuk ibadah dan kurban.

Sekarang tidak sedikit orang yang merasa perlu menunjukkan hewan kurbannya, jumlah, harga hewan yang dibeli, bahkan detail proses penyembelihannya.

Padahal esensi kurban seharusnya bukan tentang siapa yang mampu berkurban paling besar atau paling mahal, tapi tentang keikhlasan dan ketulusan dalam berbagi.

Saya kadang merasa bingung ketika niat baik perlahan berubah jadi perlombaan pencitraan di media sosial. Apalagi jika berkaitan momen ibadah, rasanya seperti semua detail harus jadi konten hingga kehilangan esensi ikhlas. 

Ketika Kurban Mulai Dijadikan Konten

Jujur saja, saya pernah merasa tidak nyaman melihat beberapa konten Iduladha yang lebih terasa seperti ajang pamer daripada bentuk syukur. Seolah ingin menunjukkan bahwa dirinya lebih “mampu” dibanding orang lain.

Menurut saya, di titik inilah kita perlu berhati-hati. Karena media sosial sangat mudah membuat batas antara berbagi dan pamer menjadi kabur.

Niat awal mungkin hanya dokumentasi atau berbagi kebahagiaan. Namun, kalau tujuan utamanya mulai bergeser menjadi mencari validasi sosial, maka makna pengorbanannya bisa ikut hilang.

Rela Berkorban Bukan Tentang Siapa yang Paling Wah

Yang saya pelajari dari Iduladha adalah pengorbanan tidak selalu harus terlihat besar di mata manusia. Nilai sebuah kurban bukan diukur dari ukuran hewan kurban atau jumlah unggahan di media sosial, tapi dari ketulusan hati.

Sayangnya, budaya flexing sekarang sering membuat orang merasa harus terlihat “lebih”. Bahkan dalam urusan ibadah pun ada tekanan tidak tertulis untuk tampil mengesankan. Padahal tidak semua orang punya kemampuan finansial yang sama.

Kadang tanpa sadar, budaya pamer ini justru bisa membuat orang lain merasa minder atau terbebani. Apalagi di tengah kondisi ekonomi yang sedang tidak mudah, melihat konten kemewahan terus-menerus bisa menimbulkan jarak sosial yang semakin terasa.

Menurut saya, Iduladha seharusnya menjadi momen untuk memperkuat empati, bukan mempertontonkan perbedaan kemampuan satu dengan yang lain. 

Flexing: Mengaburkan Esensi Berbagi

Saya merasa salah satu hal yang paling penting dalam Iduladha adalah nilai berbagi dan kepedulian sosial. Ada pesan bahwa sebagian rezeki yang kita punya juga menjadi hak orang lain yang membutuhkan.

Namun kalau fokusnya lebih banyak pada pencitraan diri, esensi itu bisa perlahan hilang. Ironisnya, media sosial sekarang sering membuat orang lebih sibuk mengambil foto daripada benar-benar menikmati momen. 

Bahkan kegiatan ibadah pun kadang terasa harus “layak posting”. Saya jadi berpikir, apakah semua hal memang harus diumumkan ke internet? Padahal ketulusan justru terasa lebih bermakna saat tidak terdistraksi pengakuan dari banyak orang.

Belajar Ikhlas di Era Serba Pamer

Menurut saya, tantangan terbesar beribadah di era digital bukan hanya soal konsistensi, tapi juga menjaga niat. Karena sekarang ini, godaan untuk mencari validasi sangat besar. 

Sedikit-sedikit ingin dipuji, dilihat, atau dianggap baik oleh orang lain. Saya pun sadar diri, kadang manusia memang punya keinginan untuk diapresiasi. Itu wajar. 

Namun, penting juga untuk sesekali bertanya pada diri sendiri: “Kalau tidak diunggah ke media sosial, apakah saya tetap akan melakukan ini dengan tulus?” Pertanyaan itu sederhana, tapi cukup menampar banyak orang. 

Iduladha dan Arti Kesederhanaan

Sebenarnya, Iduladha justru mengajarkan tentang kesederhanaan hati. Tentang rela memberi tanpa harus selalu dilihat orang lain. Tentang berbagi tanpa sibuk membandingkan diri.

Di tengah budaya flexing yang makin normal, mungkin kita memang perlu memaknai ulang arti pengorbanan. Bahwa kurban bukan ajang menunjukkan siapa paling kaya. Bukan juga kompetisi sosial terselubung.

Momentum berkurban seharusnya dimaknai sebagai bentuk rasa syukur, kepedulian, dan latihan untuk tidak terlalu melekat pada ego maupun pengakuan manusia.

Jangan Sampai Niat Baik Kehilangan Makna

Media sosial memang sudah menjadi bagian dari kehidupan modern. Tidak ada yang salah dengan berbagi kebahagiaan atau momen Iduladha. 

Namun, niat dan cara kita memposisikan diri tetap perlu dijaga. Karena ketika ibadah mulai terlalu sibuk dipertontonkan, ada risiko makna tulus di dalamnya ikut memudar.

Boleh jadi bentuk pengorbanan paling sulit hari ini adalah menahan ego untuk tidak selalu ingin dilihat dan dipuji. Dan mungkin, di situlah salah satu makna Iduladha yang paling relevan untuk generasi sekarang.