M. Reza Sulaiman | Athar Farha
Scene Film Pemikat Jiwa (Instagram/ makaraproduction)
Athar Farha

Ketika banyak film horor berlomba menghadirkan sosok gaib yang menyeramkan, film Pemikat Jiwa menawarkan ketakutan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Film ini ngajak penonton melihat horor paling mengerikan bukan berasal dari makhluk halusnya, melainkan dari manusia yang nggak mampu menerima penolakan.

Disutradarai Dom Dharmo, Pemikat Jiwa merupakan film horor produksi Makara Production yang berkolaborasi dengan Selembe Pictures dan Nusa Indonesia Entertainment. Film yang mulai tayang di bioskop Indonesia pada 9 Juli 2026 ini dibintangi Fajar Nugra, Givina Lukita, Erdin Wedrayana, Adelia Rasya, Raffan Al Aryan, Yuni Jasmine, Lucky Moniaga, Khiva Iskak, Anna Jobling, hingga MN Qomaruddin.

Mengangkat praktik ajian pengasihan yang masih dipercaya sebagian masyarakat Indonesia, film Pemikat Jiwa nggak sebatas memanfaatkan mitos lokal dalam bumbu ceritanya, lho. Film ini menggunakan kepercayaan tersebut untuk membahas sesuatu yang jauh lebih universal, yakni bagaimana cinta dapat berubah menjadi obsesi ketika seseorang merasa berhak memiliki orang lain.

Kisahnya tentang Jay, penjual ayam di pasar yang telah lama menyimpan perasaan kepada Wulan. Sayangnya, cintanya nggak pernah terbalas. Wulan malah menemukan tambatan hatinya dan bersiap menikah dengan Damar.

Ketidakmampuan menerima kenyataan membuat Jay mengambil jalan pintas. Dia mendatangi seseorang yang menguasai ilmu gaib dan menjalankan ritual ajian Pemikat Jiwa agar Wulan mencintainya.

Keinginannya memang terkabul, tapi dengan cara yang mengerikan. Wulan tiba-tiba berubah menjadi sosok yang begitu mencintai Jay. Namun, kasih sayang itu janggal. Perlahan, Wulan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Kepribadiannya berubah, pikirannya dikuasai kekuatan lain, sementara berbagai kejadian ganjil mulai menghantui kehidupan mereka.

Di balik ritual tersebut muncul sosok Nyai Sasigeni, entitas gaib. Nyai Sasigeni muncul sebagai bentuk harga mahal yang harus dibayar ketika manusia mencoba memaksakan kehendaknya melalui jalan mistis. Di sisi lain, Damar berusaha menyelamatkan perempuan yang dicintainya dari ikatan gaib yang perlahan merenggut kebebasan Wulan.

Ngeri, bukan? Sobat Yoursay wajib nonton, deh!

Apakah yang Dirasakan Jay Sungguh Cinta Tulus?

Poster Film Pemikat Jiwa (Instagram/ makaraproduction)

Banyak orang mungkin akan mengatakan Jay bertindak karena terlalu mencintai Wulan. Dia nggak rela kehilangan perempuan yang diidam-idamkannya selama ini. Namun, jika dipikirkan lebih dalam, tindakannya memperlihatkan sesuatu yang berbeda.

Cinta selalu memberi ruang bagi orang lain untuk memilih. Sebaliknya, ‘kepemilikan’ menghilangkan ruang itu. Yup, Jay nggak sedang berjuang memenangkan hati Wulan. Dia memilih jalan yang menghapus hak Wulan untuk menentukan siapa yang ingin Wulan cintai.

Begitu ajian pengasihan bekerja, seluruh perasaan Wulan bukan lagi miliknya sendiri. Wulan mencintai bukan karena ingin, melainkan karena dipaksa kekuatan yang nggak dapat dirinya lawan.

Meski dibungkus dengan cerita mistis, film ini sebenarnya sedang berbicara tentang persoalan yang masih sering ditemui dalam kehidupan nyata. Nggak sedikit orang yang menganggap cinta sebagai hak kepemilikan. Penolakan dianggap sebagai sesuatu yang nggak bisa diterima. Hubungan dipenuhi rasa ingin mengontrol, membatasi, bahkan memaksa pasangan mengikuti semua keinginannya.

Ironisnya, sikap seperti itu sering disalahartikan sebagai bukti cinta. Padahal, jika rasa sayang membuat seseorang kehilangan kebebasan untuk memilih, berbicara, atau bahkan menentukan hidupnya sendiri, mungkin yang sedang bekerja bukan lagi cinta, melainkan keinginan untuk menguasai.

Di sinilah horor film Pemikat Jiwa lebih menyeramkan dari penampakan hantu. Film ini memperlihatkan bagaimana obsesi mampu menghapus batas moral seseorang sedikit demi sedikit. Jay memang nggak digambarkan sebagai sosok jahat sejak awal. Dia hanyalah lelaki biasa yang kecewa karena cintanya bertepuk sebelah tangan.

Namun, rasa kecewa itu perlahan berubah menjadi pembenaran. Demi mendapatkan apa yang diinginkan, Jay rela mengorbankan kebebasan orang lain. Transformasi inilah yang paling mengerikan.

Film ini juga secara nggak langsung mengkritik cara sebagian masyarakat memandang praktik pengasihan. Selama bertahun-tahun, pelet sering dibungkus sebagai cara agar seseorang mendapatkan cinta. Padahal, jika dipikirkan secara sederhana, apa bedanya membuat seseorang mencintai kita tanpa kehendaknya sendiri dengan merampas kebebasan yang paling mendasar? Bukankah cinta kehilangan maknanya ketika seseorang nggak lagi memiliki pilihan?

Pertanyaan itu mungkin nggak pernah dijawab secara gamblang dalam film. Begitulah, Pemikat Jiwa membiarkan penonton merenungkannya sendiri.

Horor akhirnya bukan lagi tentang ritual, mantra, atau sosok gaib. Semua itu hanyalah konsekuensi dari keputusan manusia. Nyai Sasigeni memang menjadi ancaman yang menakutkan, tapi dia hanyalah manifestasi dari harga yang harus dibayar ketika seseorang memaksa dunia mengikuti keinginannya.

Akhirnya, film Pemikat Jiwa berhasil membuktikan horor nggak harus selalu berbicara tentang hantu. Ketakutan bisa lahir dari sesuatu yang jauh lebih dekat, yakni obsesi manusia terhadap kepemilikan. Sobat Yoursay makin penasaran, kan? Tonton deh di bioskop! Selamat menonton.