Hayuning Ratri Hapsari | Fauzah Hs
Ilustrasi mahasiswa kedokteran (Unsplash/Abdulai Sayni)
Fauzah Hs

Baru-baru ini, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi membawa sebuah kabar mengejutkan sekaligus miris dari panggung Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026. Tidak tanggung-tanggung, ditemukan sebanyak 1.751 kasus kecurangan sepanjang pelaksanaan ujian. Dan yang membuat dahi kita makin mengernyit, hampir 99 persen dari ribuan kasus tersebut ternyata melibatkan peserta yang memilih Program Studi Kedokteran.

Melihat angka persentase yang nyaris mutlak itu, kita tentu tidak bisa lagi menganggap ini sebagai kebetulan belaka. Ada anomali besar dan obsesi yang tidak sehat yang sedang terjadi di sistem pendidikan kita.

Sobat Yoursay, modus operandi yang dibongkar oleh panitia kali ini benar-benar terasa seperti cerita di film-film spionase. Para peserta nakal ini tidak lagi sekadar menyontek menggunakan kertas kecil yang disembunyikan di dalam saku. Modus mereka sudah sangat canggih dan bervariasi, mulai dari penggunaan joki, manipulasi lokasi ujian, hingga pemakaian alat elektronik tersembunyi yang diselundupkan ke dalam ruang tes.

Bahkan, Mendiktisaintek Brian Yuliarto mengungkapkan fakta yang jauh lebih mengerikan, bahwa panitia berhasil membongkar satu jaringan terorganisir alias sindikat yang sengaja menawarkan jasa kecurangan ini langsung kepada orang tua peserta. Bayangkan, sebuah ekosistem kecurangan yang rapi, melibatkan modal besar, dan disetujui oleh orang tua yang seharusnya menjadi benteng moral pertama bagi anak-anak mereka.

Untungnya, pihak panitia tidak tinggal diam. Menghadapi gempuran teknologi dari para pelaku curang, pemerintah melawannya dengan teknologi yang tidak kalah mutakhir. Penggunaan face recognition (pengenalan wajah) dan kecerdasan buatan (AI) yang terhubung langsung dengan database peserta tahun-tahun sebelumnya sukses diterapkan untuk menyaring para joki.

Tak hanya itu, panitia juga memakai strategi taktis dengan sengaja menjadwalkan para peserta yang memilih prodi Kedokteran dan Kedokteran Gigi untuk ujian di hari pertama dan kedua. Tujuannya untuk meminimalkan potensi kebocoran soal atau celah kecurangan yang biasa dimanfaatkan oleh para pemburu keuntungan di hari-hari berikutnya.

Sekarang, mari kita bedah bersama, Sobat Yoursay. Mengapa prodi Kedokteran begitu "menarik" sampai-sampai membuat orang rela menghalalkan segala cara demi menembusnya?

Di Indonesia, profesi dokter masih menduduki kasta tertinggi dalam pelapisan sosial masyarakat. Menjadi dokter sering kali dianggap sebagai jaminan instan untuk meraih kesuksesan finansial, kehormatan keluarga, dan status sosial yang mapan. Obsesi kolektif inilah yang kemudian melahirkan tekanan yang luar biasa. Ketika kemampuan akademis tidak mampu mengejar tingginya ekspektasi dan ketatnya persaingan, jalan pintas pun diambil tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjangnya.

Namun, jika sejak awal masuk kuliah saja seorang calon dokter sudah berani memanipulasi sistem, nilai kemanusiaan apa yang tersisa saat nanti mereka benar-benar memegang stetoskop? Sobat Yoursay, keadilan pendidikan kita sedang dirusak secara brutal oleh mereka yang memiliki kekuatan finansial untuk membeli kursi ujian.

Pemerintah melalui kementerian terkait telah menegaskan bahwa tidak ada ruang toleransi bagi segala bentuk kecurangan. Saat ini, kasus sindikat terorganisir yang berhasil diungkap tersebut sudah diserahkan dan tengah diproses oleh aparat penegak hukum. Kita semua harus mengawal proses ini dan berharap agar para pelaku—terutama otak di balik sindikat tersebut—mendapatkan hukuman yang setimpal untuk memberikan efek jera.

Sobat Yoursay, keadilan dalam pendidikan adalah hak segala bangsa. Bayangkan perasaan ratusan ribu peserta SNBT lainnya yang sudah belajar mati-matian, begadang tiap malam, dan menolak segala bentuk kecurangan demi bisa masuk prodi impian mereka secara jujur.

Menutup opini ini, rasanya kita perlu menggeser sudut pandang kita secara lebih luas. Memperketat keamanan dengan AI dan face recognition memang langkah yang bagus, tetapi itu hanya menyembuhkan gejala di permukaan, bukan akar penyakitnya. Selama masyarakat kita masih mengukur kesuksesan anak hanya berdasarkan gengsi program studi dan status sosial semata, maka pasar gelap joki ujian akan selalu menemukan jalannya setiap tahun.

Pendidikan seharusnya menjadi ruang untuk menyemai kejujuran, bukan ladang untuk memupuk mentalitas korup sejak usia muda. Masa depan kesehatan bangsa ini terlalu berharga jika harus digadaikan kepada mereka yang lolos lewat jalur manipulasi.

Nah, bagaimana tanggapan Sobat Yoursay mengenai ribuan kasus kecurangan di SNBT 2026 ini? Apakah menurut kalian sanksi berupa proses hukum bagi sindikat dan diskualifikasi bagi peserta sudah cukup memberikan efek jera? Atau mungkinkah perlu ada sanksi sosial tambahan, seperti mem-blacklist nama peserta curang dari seluruh seleksi PTN seumur hidup?