Pernah merasa tidak membutuhkan apa pun, tetapi tetap tergoda membeli barang yang sebenarnya sudah dimiliki? Misalnya, membeli lip tint baru meskipun laci makeup sudah penuh dengan warna yang hampir serupa. Atau membeli tumbler terbaru karena desainnya lebih lucu, padahal di rumah masih ada beberapa tumbler lain yang jarang digunakan.
Hal seperti ini ternyata cukup umum terjadi di era belanja online. Kemudahan checkout, promo yang terus bermunculan, serta paparan konten media sosial membuat banyak orang tanpa sadar mengumpulkan barang-barang dengan fungsi yang hampir sama.
Tidak sedikit orang memiliki beberapa tote bag dengan model serupa, koleksi tumbler dalam berbagai warna, produk makeup dengan shade yang nyaris identik, hingga berbagai kotak penyimpanan atau storage yang memiliki fungsi yang sama.
Sekilas jumlahnya mungkin tidak terasa banyak. Namun ketika dikumpulkan, barang-barang tersebut dapat memenuhi lemari, meja, hingga sudut rumah tanpa benar-benar memberikan manfaat tambahan yang signifikan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa masalah konsumsi tidak selalu terlihat dari pembelian barang mahal dalam jumlah besar. Terkadang, justru pembelian kecil yang dilakukan berulang kali menjadi penyebab utama penumpukan barang di rumah.
Mengapa Kita Sering Membeli Barang yang Mirip?
Di balik kebiasaan membeli barang serupa, terdapat beberapa faktor psikologis yang cukup kuat memengaruhi keputusan konsumen.
Salah satunya adalah keinginan untuk mendapatkan kepuasan instan. Banyak orang merasakan sensasi senang saat menemukan produk baru, menambahkannya ke keranjang, lalu menunggu paket datang ke rumah. Proses tersebut dapat memberikan dorongan emosional sementara yang membuat aktivitas belanja terasa menyenangkan.
Selain itu, sering muncul apa yang bisa disebut sebagai ilusi kebutuhan. Seseorang mungkin merasa produk baru yang dilihat memiliki fungsi berbeda, meskipun sebenarnya hanya memiliki perbedaan kecil dari barang yang sudah dimiliki.
Misalnya, membeli lip product baru karena menganggap warnanya sedikit lebih hangat, atau membeli tote bag tambahan karena merasa ukurannya lebih cocok untuk aktivitas tertentu. Alasan-alasan tersebut terdengar masuk akal, tetapi jika terjadi terus-menerus, jumlah barang yang terkumpul bisa menjadi sangat banyak.
Media sosial juga memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan ini. Tren viral, konten haul, rekomendasi influencer, hingga promosi dari berbagai brand membuat orang lebih mudah merasa tertinggal jika tidak memiliki produk yang sedang populer.
Di sisi lain, ada pula faktor estetika. Banyak orang menikmati tampilan koleksi barang yang tersusun rapi dengan warna atau desain yang senada. Walaupun tidak selalu digunakan, keberadaan barang tersebut memberikan kepuasan visual yang membuat seseorang terus ingin menambah koleksinya.
Memiliki barang cadangan sebenarnya bukan hal yang salah. Namun ketika jumlahnya mulai berlebihan, masalah baru dapat muncul.
Lemari menjadi semakin penuh, ruang penyimpanan semakin terbatas, dan barang yang benar-benar digunakan justru sulit ditemukan. Tidak jarang seseorang membeli barang baru karena lupa sudah memiliki produk serupa di rumah.
Kondisi ini sering dikaitkan dengan clutter lifestyle, yaitu situasi ketika rumah dipenuhi barang yang tidak benar-benar dibutuhkan atau jarang digunakan.
Selain membuat ruangan terasa sesak, penumpukan barang juga dapat memengaruhi kondisi mental. Banyak penelitian menunjukkan bahwa lingkungan yang terlalu penuh dan berantakan dapat meningkatkan rasa stres serta membuat seseorang lebih sulit fokus dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Bukan Hanya Barang yang Menumpuk, Sampahnya Juga Bertambah
Kebiasaan membeli barang serupa secara berulang juga memiliki dampak terhadap lingkungan yang sering kali tidak disadari. Setiap pembelian online biasanya disertai berbagai jenis kemasan seperti kardus, plastik pembungkus, bubble wrap, lakban, hingga label pengiriman. Semakin sering seseorang checkout, semakin banyak pula kemasan yang masuk ke rumah.
Masalahnya tidak berhenti pada kemasan. Barang yang akhirnya tidak digunakan juga berpotensi menjadi limbah di masa depan. Produk fashion, aksesori, wadah minum, hingga peralatan rumah tangga yang menumpuk dan terlupakan pada akhirnya bisa berakhir di tempat pembuangan.
Karena itu, kesadaran untuk mengurangi pembelian barang duplikat sebenarnya tidak hanya membantu menghemat uang dan ruang penyimpanan, tetapi juga berkontribusi dalam mengurangi sampah rumah tangga.
Cara Mengurangi Kebiasaan Menimbun Barang Serupa
Jika mulai merasa rumah dipenuhi barang dengan fungsi yang sama, ada beberapa langkah sederhana yang dapat dicoba untuk mengendalikan kebiasaan tersebut.
1. Terapkan Aturan One In, One Out
Setiap kali ingin membeli barang baru dalam kategori tertentu, keluarkan satu barang lama dengan kategori yang sama. Sebagai contoh, jika ingin membeli lip cream baru, usahakan menghabiskan, menjual, atau mendonasikan satu produk yang sudah dimiliki. Cara ini membantu menjaga jumlah barang tetap terkendali.
2. Lakukan Audit Koleksi Secara Berkala
Cobalah mengeluarkan seluruh koleksi barang dari kategori yang sama dan susun dalam satu tempat. Saat melihat langsung jumlah tumbler, tote bag, makeup, atau storage yang sudah dimiliki, banyak orang biasanya menyadari bahwa mereka sebenarnya tidak membutuhkan tambahan barang baru.
3. Terapkan Jeda Sebelum Checkout
Ketika menemukan barang yang menarik, simpan terlebih dahulu di keranjang dan hindari langsung melakukan pembayaran. Berikan waktu sekitar 30 hari untuk mempertimbangkan kembali apakah barang tersebut benar-benar diperlukan. Dalam banyak kasus, keinginan membeli akan berkurang dengan sendirinya setelah beberapa waktu.
4. Kurangi Paparan Konten Pemicu Belanja
Konten haul, unboxing, rekomendasi produk, dan promosi diskon sering kali memicu keinginan membeli secara impulsif. Mengurangi interaksi dengan akun atau konten yang terlalu konsumtif dapat membantu mengurangi dorongan untuk terus checkout barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
5. Cari Sumber Kebahagiaan Selain Belanja
Tidak sedikit pembelian dilakukan karena kebutuhan emosional, bukan kebutuhan nyata. Mencari aktivitas lain seperti membaca buku, berolahraga, mencoba hobi baru, menikmati waktu bersama teman, atau sekadar berjalan santai dapat menjadi alternatif yang lebih sehat untuk mendapatkan rasa senang tanpa harus menambah barang di rumah.
Jangan Lupakan Pengelolaan Sampah Kemasan
Selain mengurangi pembelian yang tidak perlu, pengelolaan kemasan juga penting dilakukan agar limbah dari belanja online tidak terus bertambah. Beberapa langkah sederhana yang bisa diterapkan antara lain:
1. Reduce
Pilih toko atau penjual yang menggunakan kemasan secukupnya dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
2. Reuse
Simpan kardus, bubble wrap, atau kemasan lain yang masih layak untuk digunakan kembali saat mengirim paket, menyimpan barang, atau kebutuhan rumah tangga lainnya.
3. Recycle
Pisahkan kardus dan material yang dapat didaur ulang, lalu salurkan ke bank sampah atau layanan pengelolaan sampah terdekat agar tidak langsung berakhir di tempat pembuangan.
Memiliki koleksi barang favorit tentu tidak masalah selama masih sesuai kebutuhan dan tidak mengganggu kondisi keuangan maupun ruang penyimpanan. Namun ketika jumlah barang serupa terus bertambah tanpa alasan yang jelas, mungkin sudah saatnya berhenti sejenak dan mengevaluasi kembali kebiasaan belanja yang dilakukan.
Sebelum checkout produk berikutnya, cobalah melihat kembali isi lemari, meja rias, atau rak penyimpanan di rumah. Bisa jadi barang yang dicari sebenarnya sudah ada, hanya terlupakan di antara tumpukan koleksi yang terus bertambah dari waktu ke waktu.
Tag
Baca Juga
-
Sisi Gelap Tren Stock Up: Produk Kedaluwarsa dan Sampah Paket Menumpuk
-
4 Ide OOTD Dark Glamour ala Shuhua I-DLE yang Elegan dan Super Classy!
-
Retail Therapy dan Sampah yang Tak Terlihat di Balik Kebiasaan Checkout
-
Stop Checkout Barang Murah! Sering Cepat Rusak dan Berakhir Jadi Sampah
-
Cool Girl Vibes! 4 OOTD Soft-Chic ala Ryujin ITZY yang Keren dan Effortless
Artikel Terkait
-
TPS Tambora Uji Coba Eco Lindi untuk Atasi Bau Sampah dan Gas Metana
-
Sisi Gelap Tren Stock Up: Produk Kedaluwarsa dan Sampah Paket Menumpuk
-
Kemasan Makanan Sekali Pakai: Bukan Sekadar Sampah yang Bisa Disepelekan
-
Alternatif Bubble Wrap, Bisakah Honeycomb Paper Wrap Menyelamatkan Masa Depan Belanja Online?
-
Retail Therapy dan Sampah yang Tak Terlihat di Balik Kebiasaan Checkout
Kolom
-
Visi Tinggi Presiden Prabowo dan Krisis Literasi Nasional yang Menjadi Karang Penghalang Besar
-
First In First Out: Trik Cerdas agar Dapur Lebih Teratur, Seberapa Efisien?
-
Pancasila Rasa Seblak & Koplo: Cara Akar Rumput Jaga Persatuan Indonesia
-
To Build the World Anew: Saat Pancasila Ditawarkan Menata Ulang Dunia
-
Kemasan Makanan Sekali Pakai: Bukan Sekadar Sampah yang Bisa Disepelekan
Terkini
-
Sering Promosi di Instagram, WO di Jaktim Ternyata Penipu: 58 Pasangan Jadi Korban
-
5 Serum Berbahan Green Tea untuk Menenangkan Kulit Berjerawat dan Kemerahan
-
Sinopsis You Are My Fateful Love, Drama Baru Miles Wei tentang First Love
-
Menelusuri Jejak Perkembangan Ilmu Psikologi Melalui Pemikiran Baldwin
-
Renjun NCT Ungkap Hubungan yang Matang dan Dewasa di Lagu Echoes Between Us