Sekar Anindyah Lamase | Natasya Regina
Ilustrasi AI retail therapy (Gemini AI)
Natasya Regina

Setelah menjalani hari yang melelahkan, banyak orang mencari cara sederhana untuk memperbaiki suasana hati. Ada yang memilih menonton film, menikmati makanan favorit, atau menghabiskan waktu bersama orang terdekat.

Namun di era digital saat ini, tidak sedikit pula yang memilih membuka aplikasi belanja dan mulai mengisi keranjang dengan berbagai barang yang menarik perhatian.

Situasi ini sering dikenal sebagai retail therapy, yaitu kebiasaan berbelanja untuk mendapatkan rasa senang atau mengurangi stres dalam jangka pendek. Sensasi menemukan barang yang diinginkan, menunggu paket datang, hingga membuka kemasan saat barang tiba memang dapat memberikan kepuasan tersendiri.

Bagi sebagian orang, checkout terasa seperti hadiah kecil setelah menghadapi tekanan pekerjaan, tugas kuliah, atau rutinitas harian yang padat. Tidak heran jika kebiasaan ini semakin umum ditemukan, terutama di kalangan Gen Z dan perempuan muda yang sangat dekat dengan dunia digital dan media sosial.

Namun di balik rasa senang tersebut, ada dampak lain yang sering luput dari perhatian. Belanja yang dilakukan sebagai pelarian emosional tidak hanya berpotensi menambah pengeluaran, tetapi juga meninggalkan jejak limbah yang terus bertambah seiring meningkatnya frekuensi checkout.

Secara psikologis, aktivitas berbelanja memang dapat memicu pelepasan dopamin, yaitu zat kimia di otak yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan. Karena itulah banyak orang merasa lebih baik setelah membeli sesuatu yang mereka inginkan.

Sayangnya, efek tersebut sering kali hanya bersifat sementara. Setelah barang datang dan euforia unboxing menghilang, sebagian orang kembali mencari kepuasan serupa melalui pembelian berikutnya. Siklus ini dapat berulang tanpa disadari dan perlahan membentuk kebiasaan konsumsi yang berlebihan.

Tidak sedikit barang yang dibeli saat suasana hati sedang kurang baik akhirnya hanya digunakan sesekali, disimpan di lemari, atau bahkan terlupakan begitu saja. Ketika hal ini terjadi terus-menerus, rumah mulai dipenuhi barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Salah satu dampak paling terlihat dari retail therapy adalah meningkatnya jumlah sampah kemasan dari belanja online. Setiap paket yang datang biasanya dilengkapi dengan berbagai lapisan pelindung seperti kardus, plastik pembungkus, bubble wrap, lakban, hingga label pengiriman.

Mungkin satu paket tidak terasa berarti. Namun ketika kebiasaan checkout dilakukan berulang kali setiap minggu atau bahkan setiap beberapa hari, jumlah kemasan yang dihasilkan bisa menjadi cukup besar.

Banyak orang hanya fokus pada barang yang dibeli, sementara kemasan yang menyertainya sering kali langsung berakhir di tempat sampah. Padahal sebagian material tersebut membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai secara alami.

Akibatnya, limbah dari aktivitas belanja online terus bertambah tanpa disadari dan menjadi bagian dari persoalan lingkungan yang lebih besar.

Retail therapy tidak hanya berkaitan dengan sampah kemasan. Dalam banyak kasus, kebiasaan ini juga mendorong pembelian pakaian dan aksesori secara berlebihan.

Promo besar, rekomendasi influencer, tren outfit viral, hingga kemudahan checkout membuat banyak orang tergoda membeli pakaian baru meskipun lemari mereka sebenarnya sudah penuh. Tidak sedikit item fashion yang hanya dipakai beberapa kali sebelum tersimpan dalam waktu lama atau akhirnya dibuang.

Fenomena ini berkaitan erat dengan industri fast fashion yang mendorong produksi pakaian dalam jumlah besar dengan siklus tren yang sangat cepat. Ketika pakaian dibeli lebih cepat daripada digunakan, limbah tekstil pun ikut meningkat.

Berbeda dengan sampah organik, banyak jenis kain membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai. Bahkan beberapa material sintetis dapat melepaskan mikroplastik yang mencemari lingkungan selama bertahun-tahun.

Selain menghasilkan limbah fisik, aktivitas belanja online juga memiliki jejak karbon yang sering tidak terlihat secara langsung. Setiap produk yang dibeli melewati berbagai tahapan, mulai dari produksi, pengemasan, penyimpanan di gudang, hingga proses pengiriman ke rumah konsumen.

Semua proses tersebut membutuhkan energi dan menghasilkan emisi karbon. Semakin tinggi tingkat konsumsi, semakin besar pula sumber daya yang digunakan untuk memenuhi permintaan pasar.

Karena itu, kebiasaan membeli barang hanya untuk mendapatkan kepuasan sesaat sebenarnya memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar penumpukan barang di rumah.

Cara Belanja Lebih Bijak Tanpa Menghilangkan Kesenangan

Belanja bukan sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya. Namun, membangun kebiasaan yang lebih sadar dapat membantu mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan sekaligus menjaga kondisi keuangan tetap sehat.

Berikut beberapa langkah yang bisa mulai diterapkan.

1. Terapkan Jeda Sebelum Checkout

Saat menemukan barang yang menarik, cobalah memberi jeda waktu sebelum melakukan pembayaran. Tunggu setidaknya 24 jam untuk memastikan bahwa barang tersebut memang dibutuhkan dan bukan hanya keinginan sesaat karena sedang stres atau bosan.

2. Kurasi Isi Lemari dan Barang yang Dimiliki

Membiasakan diri mengevaluasi isi lemari dapat membantu mengurangi pembelian yang tidak perlu. Banyak orang sebenarnya sudah memiliki cukup banyak barang, tetapi tetap merasa kekurangan karena terus terpapar tren baru.

Konsep capsule wardrobe juga dapat menjadi pilihan untuk membantu fokus pada barang yang benar-benar digunakan dan mudah dipadukan.

3. Manfaatkan Kembali Kemasan yang Masih Layak

Kardus, bubble wrap, dan beberapa jenis kemasan lainnya masih dapat digunakan kembali untuk kebutuhan penyimpanan atau pengiriman barang. Dengan memperpanjang masa pakainya, jumlah sampah yang dihasilkan dapat berkurang.

4. Pilah Sampah Sebelum Dibuang

Kemasan yang sudah tidak digunakan sebaiknya dipisahkan sesuai jenis materialnya agar lebih mudah didaur ulang. Kardus, plastik tertentu, dan material lain yang masih memiliki nilai daur ulang dapat disalurkan ke bank sampah atau layanan pengelolaan limbah setempat.

Retail therapy memang dapat memberikan rasa nyaman dan menyenangkan dalam waktu singkat. Namun di balik sensasi menunggu paket dan membuka barang baru, terdapat jejak lingkungan yang sering tidak terlihat secara langsung.

Mulai dari sampah kemasan, limbah tekstil, hingga emisi karbon, semuanya merupakan bagian dari dampak konsumsi yang kerap terabaikan.

Karena itu, membangun kebiasaan belanja yang lebih sadar bukan berarti menghilangkan kesenangan berbelanja, melainkan memastikan bahwa setiap pembelian benar-benar memiliki manfaat dan tidak hanya berakhir menjadi tumpukan barang maupun sampah.

Keputusan kecil sebelum checkout bisa menjadi langkah sederhana untuk mengurangi limbah sekaligus menciptakan pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab bagi diri sendiri dan lingkungan. Semoga membantu dan dipahami ya.