Menjadi perempuan di era sekarang kadang terasa melelahkan. Bukan hanya karena tuntutan hidup, tapi juga komentar sosial yang seolah tidak pernah berhenti. Apa pun yang dilakukan perempuan sering kali tetap dianggap salah.
Ketika perempuan suka belanja, dianggap terlalu konsumtif dan boros. Tapi saat perempuan memilih hemat dan lebih berhati-hati mengatur uang, malah dibilang pelit, terlalu perhitungan, atau kurang menikmati hidup.
Akhirnya, banyak perempuan berada di posisi kebingungan. Mau menikmati hasil kerja keras sendiri, takut dihakimi boros. Mau menyimpan uang untuk masa depan, malah dianggap terlalu kaku.
Kondisi ini menunjukkan kalau perempuan sering hidup di tengah standar sosial yang bertabrakan. Apa pun pilihan yang diambil, selalu saja ada komentar. Padahal, cara mengelola uang itu keputusan pribadi, bukan bahan penilaian sosial.
Belanja Sedikit Langsung Dicap Konsumtif
Tidak bisa dimungkiri, perempuan sering dikaitkan dengan kebiasaan belanja. Mulai dari outfit, skincare, makeup, sampai barang-barang estetik lainnya, semuanya sering dianggap sebagai simbol gaya hidup konsumtif.
Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Banyak perempuan membeli sesuatu bukan hanya untuk gaya-gayaan, tapi juga karena tuntutan sosial. Media sosial, circle, bahkan dunia kerja sering menuntut perempuan tampil rapi dan menarik.
Ironisnya, ketika perempuan membeli barang untuk menunjang penampilan, mereka dianggap terlalu boros. Komentar seperti “cewek mah hobinya belanja” atau “duit habis buat skincare doang” masih sering terdengar.
Di sisi lain, laki-laki yang membeli gadget mahal atau hobi tertentu sering dianggap wajar. Ini menjadi bukti kalau masih ada standar ganda dalam cara masyarakat memandang pengeluaran perempuan.
Seolah apa pun yang berkaitan dengan kebutuhan perempuan lebih mudah dianggap tidak penting atau sekadar keinginan. Akibatnya, perempuan sering merasa bersalah bahkan untuk menikmati uang hasil kerja kerasnya sendiri.
Menabung Malah Dibilang Tidak Bisa Menikmati Hidup
Lucunya, ketika perempuan mencoba lebih hemat dan mulai fokus menabung, komentar miring lain justru muncul. Perempuan yang memilih menyimpan uang sering dianggap terlalu pelit, terlalu berhitung, atau kurang menikmati masa muda.
Apalagi di era media sosial sekarang, gaya hidup konsumtif sering terlihat lebih menarik dibanding hidup sederhana. Banyak perempuan akhirnya jadi serba salah saat mengikuti tren meski sebenarnya ingin mengurangi pengeluaran.
Ada semacam tekanan sosial bahwa menikmati hidup harus selalu terlihat dari cara seseorang membelanjakan uangnya. Padahal, menabung dan mengatur keuangan justru bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.
Apalagi, kondisi ekonomi sekarang tidak selalu mudah. Harga kebutuhan naik, biaya hidup makin besar, dan masa depan terasa semakin tidak pasti. Sayangnya, terlalu berhati-hati soal uang sering dianggap kurang santai atau tidak seru.
Perempuan Punya Hak Mengatur Uangnya Sendiri
Saya rasa sudah saatnya perempuan tidak terus hidup berdasarkan penilaian sosial tentang bagaimana mereka menggunakan uangnya. Kalau ingin membeli sesuatu untuk diri sendiri dan memang mampu, itu bukan masalah.
Menikmati hasil kerja keras sendiri bukan hal yang salah, kok. Namun, kalau memilih hidup lebih hemat demi keamanan finansial di masa depan, itu juga keputusan yang layak dihargai. Tidak semua perempuan harus mengikuti gaya hidup yang sama.
Ada perempuan yang merasa bahagia dengan traveling dan belanja. Ada juga yang merasa lebih tenang ketika tabungannya bertambah. Keduanya sama-sama valid selama dilakukan sesuai kemampuan dan tidak merugikan diri sendiri.
Menurut saya, masalah sebenarnya bukan soal belanja atau menabung, tapi bagaimana perempuan sering dipaksa memenuhi ekspektasi sosial yang bertentangan hingga terjebak dalam posisi yang serba salah.
Perempuan Tidak Harus Selalu Menyenangkan Orang Lain
Pada akhirnya, perempuan memang sering serba salah di mata sosial. Apa pun yang dilakukan, selalu ada komentar dan penilaian. Hidup akan terasa jauh lebih melelahkan kalau cuma fokus memuaskan pandangan orang lain.
Perempuan tidak harus selalu terlihat konsumtif agar dianggap menikmati hidup. Namun, perempuan juga tidak harus terus merasa bersalah saat ingin membeli sesuatu untuk dirinya sendiri.
Karena pada akhirnya, yang paling tahu kondisi finansial, kebutuhan, dan batas kemampuan seseorang adalah dirinya sendiri. Dan perempuan berhak mengatur hidup serta uangnya sendiri tanpa dihantui penilaian sosial yang tidak ada habisnya.
Baca Juga
-
Zero Waste di Era Serba Instan: Idealisme Gen Z vs Realita di Lapangan
-
FOMO Gaya Hidup Zero Waste: Peduli Lingkungan atau Takut Ketinggalan Tren?
-
TikTok Made Me Buy It: Saat Budaya Konsumtif dan FOMO Berkolaborasi
-
War Flash Sale: Benar Hemat atau Justru Jebakan yang Menguras Dompet dan Kesehatan?
-
Berhenti Jadi Budak Konten: Mengapa Hidup 'Estetik' Seringkali Adalah Jebakan Finansial
Artikel Terkait
-
Abaikan Lapar Mata saat Belanja, Worth It untuk Upaya Less Waste?
-
Rupiah Melemah! Wisatawan Singapura Mulai Serbu Jakarta untuk Belanja, Mulai Kemang Hingga SCBD
-
Belanja Sambil Jajan Kuliner Jepang? Pengalaman Ini Kini Bisa Dinikmati di Jakarta Utara
-
Tarian Bumi: Eksplorasi Nestapa dan Belenggu Kasta Perempuan di Bali
-
Hobi Beli Barang Serupa? Fungsi Sama Saja tapi Sampah Belanja Bisa Double
Kolom
-
Zero Waste di Era Serba Instan: Idealisme Gen Z vs Realita di Lapangan
-
Kedaulatan Pangan atau Ketergantungan yang Dipelihara?
-
Abaikan Lapar Mata saat Belanja, Worth It untuk Upaya Less Waste?
-
FOMO Gaya Hidup Zero Waste: Peduli Lingkungan atau Takut Ketinggalan Tren?
-
Baju Bekas Numpuk, Saatnya Cobain Konsep Less Waste Versi Fashion?
Terkini
-
Tarian Bumi: Eksplorasi Nestapa dan Belenggu Kasta Perempuan di Bali
-
Jangan Lakukan Lagi! 5 Kesalahan Keramas yang Memicu Rambut Lepek
-
Samsung Perkenalkan Panel OLED Laptop Ultra Slim Tertipis di Dunia, Sasar Industri Gaming
-
Ulasan Novel Rahasia Salinem, Misteri Kotak Kayu dan Masa Lalu Salinem
-
Akhirnya Sukses Comeback, Chung Ha Sempat Ngaku Reuni I.O.I Bikin 'Boncos'