Ucapan Presiden Prabowo Subianto saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) HIPMI XVIII di Bandar Lampung belum lama ini menjadi perbincangan di media sosial.
Di tengah pidatonya yang membahas masa depan ekonomi Indonesia, Prabowo sempat melontarkan candaan bahwa dirinya akan tetap memantau perjalanan bangsa Indonesia, bahkan jika suatu saat telah dipanggil Tuhan.
"Saya nanti di Hambalang monitor kalian di bawah. Kalau belum dipanggil Yang Maha Kuasa. Kalau dipanggil Yang Maha Kuasa aku lihat tetap saya monitor kalian," ujar Prabowo, dikutip Jumat (12/6/2026).
Pernyataan tersebut langsung disambut tawa oleh para peserta yang hadir. Banyak yang menganggapnya sebagai guyonan khas Prabowo yang bertujuan mencairkan suasana sekaligus menyemangati generasi muda agar terus berkontribusi bagi negara.
Namun, di sisi lain, ucapan tersebut juga memunculkan pertanyaan yang cukup menarik untuk dikulik. Benarkah orang yang sudah meninggal dunia masih bisa melihat atau memantau kehidupan orang yang masih hidup? Lalu bagaimana pandangan Islam mengenai hal tersebut?
Benarkah Orang yang Sudah Meninggal Bisa Melihat Aktivitas Kita?
Sebelum mengetahui jawabannya, mari melihat terlebih dahulu konteks ucapan Presiden Prabowo yang belakangan ramai diperbincangkan tersebut. Dalam pidatonya, Presiden Prabowo berbicara mengenai optimisme Indonesia menuju tahun 2045.
Prabowo juga menyoroti peran generasi muda, khususnya para pengusaha yang tergabung dalam HIPMI. Menurutnya, mereka akan menjadi pelaku utama pembangunan ketika Indonesia memasuki usia 100 tahun kemerdekaan.
Oleh karena itu, ia meminta para pengusaha muda untuk bekerja keras, menjaga integritas, dan tidak melakukan pelanggaran hukum.
Di sela-sela pidatonya, Prabowo kemudian mengatakan bahwa dirinya akan terus memantau perkembangan generasi penerus bangsa.
Jika belum dipanggil Tuhan, ia mengaku akan mengawasi dari Hambalang. Namun jika suatu saat telah meninggal dunia, ia bercanda bahwa dirinya tetap akan memonitor mereka dari atas.
Meskipun disampaikan dengan nada humor, ucapan tersebut secara tidak langsung menyinggung kepercayaan yang cukup populer di masyarakat bahwa orang yang sudah meninggal masih dapat mengetahui apa yang terjadi pada keluarga dan kerabat yang ditinggalkannya.
Terkait hal tersebut, KH Yahya Zainul Ma'arif atau yang lebih dikenal sebagai Buya Yahya memberikan penjelasan dalam salah satu ceramahnya dalam kanal YouTube Al-Bahjah TV.
Beliau menjelaskan bahwa orang yang telah meninggal dunia berada di alam barzakh, yaitu alam yang berbeda dengan kehidupan dunia yang saat ini kita jalani.
Aalam barzakh merupakan alam penantian sebelum datangnya hari kiamat. Orang yang telah meninggal tidak lagi hidup dalam dimensi yang sama dengan manusia yang masih berada di dunia. Karena itu, cara mereka memandang sesuatu juga berbeda.
"Orang meninggal dunia itu alamnya alam mutlak, tidak terikat dengan materi," kata Buya Yahya.
Beliau melanjutkan, "Jadi melihat gerak-gerik kita cuman cara pandangnya di alam yang berbeda."
Dengan kata lain, meskipun orang yang telah meninggal mengetahui keadaan keluarganya, hal itu tidak bisa disamakan dengan konsep mengawasi atau memantau setiap aktivitas manusia seperti yang kita pahami di dunia.
Mereka melihat dari perspektif akhirat, bukan dari sudut pandang kehidupan dunia yang penuh dengan urusan jabatan, harta, maupun politik, karena orang yang telah meninggal tidak lagi fokus pada urusan duniawi.
Dari penjelasan Buya Yahya, dapat disimpulkan bahwa kemampuan orang yang sudah meninggal untuk mengetahui keadaan orang yang masih hidup tidak bisa disamakan dengan memantau setiap aktivitas mereka secara terus-menerus.
Dalam ajaran Islam, kemampuan mengetahui segala sesuatu secara sempurna adalah hak Allah SWT semata. Sementara manusia tetaplah makhluk yang memiliki keterbatasan, baik ketika masih hidup maupun setelah meninggal dunia.
Oleh karena itu, jika mengacu pada penjelasan di atas, ucapan Presiden Prabowo yang mengaku akan tetap "monitor dari atas" setelah dipanggil Tuhan memang sebaiknya dipahami sebagai sebuah candaan.
Baca Juga
-
Fenomena Pernikahan Artis di TV dan Prioritas yang Patut Dipertanyakan
-
Nothing Uncovered: Kisah Jurnalis yang Kehilangan Kendali atas Kebenaran
-
Bitter Sweet Hell: Saat Dua Perempuan Menjadi Garda Terdepan Melawan Teror
-
Seandainya Saya Dipercaya Menjadi Penulis Naskah Pidato Presiden
-
Keliru Jika Menganggap Pembeli Kopi Rp30 Ribu Harus Diam Saat BBM Naik
Artikel Terkait
Kolom
-
Jebakan 'Sekalian Aja': Bagaimana Supermarket dan QRIS Menguras Isi Dompet Kita
-
Harga Pertamax Naik, Rakyat Kecil Kini 'Dipaksa' Olahraga Gratis di SPBU
-
Detoks Digital: Cara Jitu Menghilangkan Kecemasan Akibat Godaan Promo Online
-
Ketika Kampus Negeri Tak Lagi Ramah bagi Kelas Menengah
-
Ironi Subsidi Silang: Saat Stabilitas Negara Dibayar dengan Air Mata Rakyat Kecil
Terkini
-
5 HP dengan Kamera Telefoto Terbaik 2026, Hasil Foto Sosmed Makin Estetik
-
Motorola Edge 2026, Smartphone Compact Premium dengan Sentuhan Elegan dan Kamera Sony
-
Sinopsis Two Faces of Thatri, Drama Thailand Terbaru Pon Nawasch di Netflix
-
Fenomena Pernikahan Artis di TV dan Prioritas yang Patut Dipertanyakan
-
Bye-Bye Mata Panda! 4 Eye Cream Korea Ini Bikin Area Mata Makin Cerah