Seorang ibu tentu ingin memberikan kehidupan terbaik bagi anaknya. Namun, bagaimana jika keinginan tersebut justru membuat sang anak tumbuh dalam tekanan?
Inilah konflik utama yang menarik dari The Good Bad Mother, drama Korea yang memperlihatkan bahwa cinta orang tua tidak selalu hadir dalam bentuk yang lembut.
Drama yang dibintangi Ra Mi Ran sebagai Jin Young Soon dan Lee Do Hyun sebagai Choi Kang Ho ini bercerita tentang seorang ibu tunggal yang membesarkan anaknya dengan sangat keras.
Jin Young Soon membesarkan Kang Ho seorang diri dan ingin anaknya memiliki masa depan yang lebih baik. Oleh karena itu, ia mendidik Kang Ho dengan keras dan menuntutnya untuk sukses.
Kang Ho akhirnya berhasil menjadi seorang jaksa, tetapi keberhasilan tersebut justru membuatnya semakin jauh dari sang ibu.
Sebuah kecelakaan kemudian membuat Kang Ho kembali membutuhkan Young Soon. Hubungan yang selama ini dipenuhi luka pun mendapatkan kesempatan untuk dimulai kembali.
Lantas, apakah The Good Bad Mother berhasil menyampaikan kisah tentang luka dalam keluarga tanpa membuatnya terasa klise? Simak ulasan lengkapnya.
Kesempatan Kedua bagi Hubungan yang Telah Retak
Kehidupan Kang Ho berubah setelah ia mengalami kecelakaan. Ia mengalami cedera serius dan kehilangan kemampuan mentalnya hingga kembali seperti anak kecil. Setelah itu, ia kembali tinggal bersama Young Soon di kampung halamannya.
Kecelakaan itu memang menjadi momen penting yang mengubah jalan cerita. Namun, bagi saya, maknanya tidak berhenti sebagai sekadar pemicu perubahan dalam alur.
Kang Ho yang selama ini berusaha menjauh dari ibunya akhirnya kembali ke rumah. Ia kembali menjadi seorang anak yang membutuhkan bantuan Young-soon.
Situasi ini kemudian memberikan kesempatan kedua bagi keduanya. Young Soon kembali harus merawat Kang Ho, sementara Kang Ho mendapatkan kesempatan untuk menjalani kembali masa kanak-kanak yang dulu tidak pernah benar-benar ia nikmati.
Tentu saja, proses tersebut tidak selalu terasa manis. Young Soon tetap menjadi sosok yang keras. Ia bahkan memaksa Kang Ho untuk berusaha melakukan berbagai hal sendiri.
Beberapa cara yang digunakan Young Soon juga bisa terasa tidak nyaman bagi penonton karena mengingatkan kita pada pola pengasuhan keras yang sebelumnya telah melukai Kang Ho.
Namun, di situlah The Good Bad Mother terasa cukup jujur. Young Soon dan Kang Ho harus kembali belajar mengenal satu sama lain.
Tidak Ada Orang Tua yang Sepenuhnya Baik, Tidak Ada Anak yang Sepenuhnya Buruk
Salah satu hal yang paling saya sukai dari The Good Bad Mother adalah caranya menggambarkan hubungan ibu dan anak tanpa berpihak kepada salah satunya.
Young Soon memang mencintai Kang Ho. Ia bekerja keras dan melakukan banyak pengorbanan demi anaknya. Namun, cinta dan pengorbanan tersebut tidak otomatis menghapus kesalahan yang pernah ia lakukan.
Di sisi lain, Kang Ho juga tidak bisa begitu saja dianggap sebagai anak yang jahat karena menjauh dari ibunya. Ia adalah seseorang yang tumbuh dalam tekanan dan memiliki luka yang tidak pernah benar-benar diselesaikan.
Ketika dewasa, ia memang mengambil keputusan-keputusan yang buruk. Namun, ia juga merupakan hasil dari pengalaman dan lingkungan yang membentuknya sejak kecil.
Sebagai penonton, saya bisa memahami alasan Young Soon tanpa membenarkan semua tindakannya. Saya juga bisa memahami luka Kang Ho tanpa menganggap semua keputusan yang ia ambil benar.
Tidak Sempurna, tetapi Tetap Berkesan
Di samping premis dan alur cerita yang kuat, The Good Bad Mother juga memiliki beberapa kekurangan, namun menurut saya tidak terlalu krusial.
Drama ini mencoba menggabungkan banyak unsur sekaligus, mulai dari kisah keluarga, komedi, balas dendam, hingga thriller politik. Akibatnya, perpindahan dari satu suasana ke suasana lain terkadang terasa cukup mendadak.
Bagian tentang hubungan Young Soon dan Kang Ho terasa jauh lebih kuat dibandingkan alur balas dendamnya. Konflik tersebut juga terasa terburu-buru ketika mendekati akhir cerita.
Meski begitu, The Good Bad Mother tetap menjadi drama yang layak ditonton, terutama bagi kamu yang menyukai cerita tentang keluarga, hubungan ibu dan anak, serta proses berdamai dengan luka masa lalu.
Tag
Baca Juga
-
Privasi Jobseeker Dipertaruhkan: Apa Urgensi Perusahaan Minta Data Pribadi?
-
Mengurai Symbolic Immortality dan Obsesi Prabowo Menciptakan Program Baru
-
Ulasan Bloody Flower: Ketika Pembunuh Jadi Harapan Terakhir Banyak Orang
-
Prabowo Sebut Pengkritik Londo Ireng: Narasi Kecurigaan yang Terus Berulang
-
Dilema Jobseeker: Dituntut Berpengalaman, tetapi Tak Diberi Kesempatan
Artikel Terkait
-
Drama Teach You a Lesson, Aksi Agen BPHP dalam Menumpas Kejahatan Remaja
-
Bertabur Bintang Beken, 5 Drakor Adaptasi Webtoon Ini Malah Anjlok di TV Korea
-
Ulasan Bloody Flower: Ketika Pembunuh Jadi Harapan Terakhir Banyak Orang
-
Sinopsis Meitantei no Mama de Ite, Drama Jepang Dibintangi Yoshikawa Ai
-
Review Drama The Scarecrow, Teka-Teki Pembunuhan Berantai Tiga Dekade
Ulasan
-
Belajar Jadi Anak Besar dengan Cara yang Lucu dalam Buku Loops
-
Bukan Sekadar Buku Anak, 'Dad' Menggambarkan Sisi Kompleks Seorang Ayah
-
Memeluk Diri di Seri Chicken Soup for the Soul, Saat Hidup Terasa Berat
-
A Painted House: Kisah si Kecil Luke dan Takdir yang Tak Selalu Memihak
-
Dari Lelucon Erotis hingga Arisan Valas: Sisi Lain Kaum Borjuis Tempo Dulu
Terkini
-
Jangan Dibuang, 5 Tips Membuat Tteok dari Nasi Sisa, Irit dan Gluten Free!
-
WhatsApp Rilis Fitur Baru, Pengguna iPad Kini Bisa Buat Akun Tanpa HP
-
Tayang September, Film Tazza: The Song of Beelzebub Jadi Penutup Seri Tazza
-
Ulasan Film Smile 2: Sekuel Paling Mencekam dengan Nuansa Horor yang Pekat!
-
Review Buku 'Pertama, Sayangi Dirimu Lebih Dahulu': Kecil Langkahnya, Besar Dampaknya