Lintang Siltya Utami | Tarassa Q.
Oliver Twist (Dok Pribadi/Tarassa Q)
Tarassa Q.

Oliver Twist merupakan salah satu karya paling terkenal dari Charles Dickens yang hingga kini masih terus dibaca oleh berbagai generasi. Novel klasik ini sering disebut sebagai timeless story karena pesan-pesannya tetap relevan meskipun telah terbit lebih dari satu abad yang lalu. Julukan tersebut menjadi alasan utama saya akhirnya memutuskan untuk membaca novel ini. Dengan ketebalan sekitar 216 halaman, Dickens berhasil merangkai perjalanan hidup Oliver Twist dalam cerita yang padat, menyentuh, dan mudah diikuti.

Sejak halaman pertama, saya langsung diperkenalkan pada kehidupan Oliver yang jauh dari kata beruntung. Ia dilahirkan di sebuah panti sosial setelah ibunya meninggal dunia. Masa kecilnya dipenuhi kekurangan, terutama makanan yang sangat terbatas. Kehidupan di panti digambarkan begitu keras sehingga anak-anak harus bertahan hidup dalam kondisi yang memprihatinkan.

Salah satu adegan paling terkenal dalam novel ini terjadi ketika Oliver memberanikan diri meminta tambahan bubur karena rasa lapar yang tak tertahankan. Keberanian sederhana itu justru dianggap sebagai bentuk pembangkangan. Akibatnya, ia dipindahkan untuk bekerja di sebuah rumah duka. Alih-alih memperoleh kehidupan yang lebih baik, Oliver kembali mengalami perlakuan kasar hingga akhirnya memutuskan melarikan diri.

Dengan tekad yang besar, Oliver berjalan kaki menuju London. Ia berharap dapat menemukan kesempatan hidup yang lebih baik di kota besar tersebut. Sayangnya, harapan itu tidak langsung menjadi kenyataan. Sesampainya di London, ia justru bertemu dengan Artful Dodger, seorang anak yang membawanya kepada Fagin, pemimpin kelompok pencopet yang memanfaatkan anak-anak untuk melakukan aksi kejahatan.

Oliver sebenarnya tidak memahami dunia kriminal yang dimasuki. Ia bahkan sempat dituduh melakukan pencopetan yang sama sekali bukan perbuatannya. Beruntung, seorang pria baik hati bernama Mr. Brownlow percaya bahwa Oliver adalah anak yang tidak bersalah. Kepedulian Mr. Brownlow menjadi titik terang pertama dalam kehidupan Oliver yang selama ini dipenuhi penderitaan.

Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Kelompok Fagin menculik Oliver kembali karena khawatir anak tersebut akan mengungkap seluruh aktivitas kejahatan mereka. Dari sinilah cerita berkembang menjadi semakin menegangkan. Dickens menghadirkan konflik yang bukan hanya tentang perjuangan seorang anak bertahan hidup, tetapi juga tentang pertarungan antara hati nurani dan keserakahan.

Seiring berjalannya cerita, rahasia besar mengenai identitas Oliver akhirnya terbongkar. Ternyata ia memiliki hak atas harta warisan yang selama ini sengaja disembunyikan. Monks, saudara tirinya yang tamak, bekerja sama dengan Fagin agar Oliver tidak pernah mengetahui asal-usulnya. Konflik tersebut memperlihatkan bagaimana keserakahan dapat mendorong seseorang melakukan berbagai tindakan yang merugikan orang lain.

Salah satu tokoh yang paling meninggalkan kesan bagi saya adalah Nancy. Meskipun hidup di lingkungan kriminal, ia masih memiliki rasa belas kasih terhadap Oliver. Nancy memilih mempertaruhkan keselamatannya demi melindungi anak tersebut. Keputusannya berakhir tragis ketika Bill Sikes membunuhnya dengan kejam. Adegan ini menjadi salah satu bagian paling emosional dalam keseluruhan novel.

Pada akhirnya, kejahatan tidak berhasil menang. Kelompok Fagin berhasil dibongkar dan menerima hukuman atas perbuatan mereka. Mr. Brownlow kemudian mengadopsi Oliver sekaligus memastikan hak waris yang seharusnya menjadi miliknya dapat diperoleh. Penutup cerita memberikan rasa lega setelah perjalanan panjang yang penuh penderitaan.

Setelah selesai membaca novel ini, saya memahami mengapa Oliver Twist terus dianggap sebagai karya sastra yang tidak lekang oleh waktu. Charles Dickens bukan hanya menceritakan kisah seorang anak yatim, tetapi juga mengangkat kritik sosial terhadap kemiskinan, eksploitasi anak, dan ketidakadilan yang dialami masyarakat miskin pada zamannya.

Hal yang paling saya sukai adalah bagaimana Oliver tetap mempertahankan sifatnya yang jujur, sopan, dan berhati bersih meskipun tumbuh di lingkungan yang penuh kekerasan dan kejahatan. Novel ini menunjukkan bahwa keadaan hidup yang sulit tidak selalu menentukan karakter seseorang. Ketulusan dan kebaikan masih dapat bertahan, bahkan ketika dunia di sekeliling dipenuhi keburukan.

Selain itu, cerita ini mengingatkan saya akan pentingnya kepedulian terhadap anak-anak terlantar dan masyarakat miskin. Dickens memperlihatkan bahwa lingkungan yang salah dapat menyeret anak-anak ke dunia kriminal jika tidak ada orang dewasa yang melindungi mereka. Pada saat yang sama, novel ini juga menanamkan harapan bahwa kebaikan, sekecil apa pun, pada akhirnya mampu mengalahkan kejahatan.

Bagi saya, Oliver Twist bukan sekadar novel klasik, melainkan kisah yang mengajarkan empati, keteguhan hati, dan keyakinan bahwa harapan selalu ada bagi mereka yang tetap memegang nilai-nilai kebaikan.

Identitas Buku

Judul: Oliver Twist
Penulis: Charles Dickens
Penerbit: Narasi
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9786237586074