"Jangan mati, balaskan dendammu. Kami yang akan menyelesaikannya untukmu."
Kalimat tersebut langsung mencuri perhatian saya saat menonton musim perdana drama Taxi Driver. Idealnya, setiap korban kejahatan memperoleh keadilan melalui jalur hukum. Namun, drama ini menunjukkan bahwa ada korban yang laporannya belum ditangani dengan baik, ada pelaku yang lolos karena kekuasaan, dan ada yang harus menerima kenyataan bahwa hukum tak mampu melindungi dan mengembalikan hidup mereka seperti semula. Di situlah Taxi Driver kemudian menawarkan "jalan keluar" bagi para korban tersebut.
Secara keseluruhan, dari musim pertama hingga ketiga Taxi Driver memiliki satu premis yang kurang lebih sama. Drama ini bercerita tentang Kim Do-gi (Lee Je-hoon), mantan pasukan khusus yang bekerja sebagai sopir taksi mewah di perusahaan Rainbow Taxi milik Jang Sung-chul (Kim Eui-sung). Namun, layanan yang mereka tawarkan tidak sesederhana pengantaran dan penjemputan penumpang saja. Sama-sama pernah menjadi korban kejahatan, mereka diam-diam membentuk tim yang membantu para korban memperoleh balas dendam ketika hukum gagal memberikan keadilan. Keduanya juga dibantu oleh Ahn Go-eun (Pyo Ye-jin), Choi Kyung-goo (Jang Hyuk-jin) dan Park Ji-eon (Bae Yoo-ram) yang menjalankan peran sebagai hacker jenius dan mekanik handal.
Dari banyaknya aksi balas dendam yang dilakukan oleh tim Rainbow Taxi, secara umum semua memiliki benang merah yang sama. Yaitu kegagalan hukum resmi dalam melindungi korbannya. Banyak dari pelaku kejahatan yang tidak benar-benar mendapatkan hukuman setimpal sehingga korban terus merasa terancam. Ada pula kasus jaringan penipuan online yang tetap beroperasi karena tidak berhasil dibongkar sampai ke akar-akarnya. Bahkan ada pula penjahat yang "dilindungi" oleh hukum karena kekuasaan yang dimiliki. Akibatnya, banyak korban yang putus asa hingga berniat mengakhiri hidupnya sendiri.
Kalau kita bicara tentang moral, aksi "balas dendam" yang dilakukan oleh Kim Do-gi dan kawan-kawan memang tidak bisa kita benarkan begitu saja. Namun, di sisi lain, banyak penonton yang puas dengan aksi yang mereka lakukan. Salah satunya karena penjahat di drama Taxi Driver memang benar-benar terlihat menyebalkan. Banyak dari mereka yang seolah sama sekali tidak merasa bersalah atas kejahatan yang dilakukan.
Selain itu, tampaknya kasus-kasus yang ditangani juga banyak yang terinspirasi dari kejadian nyata. Misalnya: kasus perundungan di sekolah, penipuan, eksploitasi pekerja, perdagangan manusia, hingga kekerasan terhadap penyandang disabilitas. Ini menunjukkan bahwa selain menjual aksi yang intens, Taxi Driver juga memberikan kritik sosial yang cukup tajam terkait hukum. Mereka seolah ingin menunjukkan bahwa ada pelaku kejahatan di luar sana yang tidak merasa jera sebelum mendapatkan hukuman yang benar-benar setimpal dengan perbuatannya.
Jika kita menengok ke latar belakang Kim Do-gi dan timnya, hal yang mereka lakukan cukup patut untuk dipertanyakan. Mengingat sebelumnya lima orang tersebut sama-sama pernah menjadi korban kegagalan hukum, wajar jika ada orang yang bertanya: apakah balas dendam yang mereka lakukan benar-benar bentuk keadilan, atau sekadar pelampiasan atas luka yang belum pernah sembuh?
Tidak ada jawaban pasti yang diberikan di drama ini. Tapi mungkin kita bisa menilainya sendiri dari setiap aksi yang mereka lakukan. Bagaimana kalau menurut Sobat Yoursay?
Saya sendiri tidak bisa sepenuhnya membenarkan hal itu. Namun, jika sistem hukum yang ada di suatu negara masih belum bisa melindungi negaranya, mungkin orang-orang seperti mereka bisa saja menjadi sosok yang dibutuhkan untuk "menegakkan keadilan".
Apalagi baru-baru ini kita mendengar kasus seorang ayah yang dihakimi massa hingga meninggal dunia karena mencuri seekor ayam. Kemudian diketahui bahwa pria tersebut ternyata residivis. Kasus tersebut menunjukkan bahwa ketika sistem hukum tidak dipercaya mampu menyelesaikan persoalan secara adil, tindakan main hakim sendiri lebih mudah terjadi. Tentu, tindakan tersebut tetap tidak dapat dibenarkan.
Menurut saya, Taxi Driver bukan sekadar drama aksi balas dendam dan kejar-kejaran. Lebih dari itu, drama ini menyimpan kritik tajam terhadap sistem hukum yang masih menyisakan banyak celah dalam melindungi para korban kejahatan. Jadi, kalau Sobat Yoursay lagi cari tontonan dengan adegan laga yang intens, tapi juga menyimpan kritik sosial tentang keadilan dan sistem hukum, Taxi Driver layak masuk watchlist.
Baca Juga
-
Room No. 7: Saat Persoalan Finansial Mengikis Moral dan Empati Seseorang
-
Bikin Senyum-Senyum Sendiri tapi Berujung Luka, Ini 5 Drakor Romantis yang Susah Banget Dilupain!
-
Review The Childe: Film Aksi Menegangkan dengan Akhir yang Tak Terduga
-
Ulasan Film Hear Me: Our Summer: Saat Cinta dan Ketulusan Tak Hanya Butuh Suara
-
Foto Baru, Pakaian Baru: Haruskah Kita Selalu Tampil dengan Outfit Berbeda di Setiap Unggahan?
Artikel Terkait
-
Pengamat: Masyarakat Main Hakim Sendiri karena Tak Lagi Percaya Hukum
-
Hidup Berpindah Mengikuti Hutan: Perjuangan Punan Batu Benau-Sajau Mempertahankan Ruang Hidup
-
750 Personel Gabungan Kawal Demo Cipayung Plus dan Mahasiswa Hukum Hari Ini
-
Dari Pencurian Ayam hingga Bentrok Jalanan: Mengapa Amuk Massa Terus Berulang?
-
Amnesty International: Kejahatan Harus Dilawan dengan Hukum, Bukan Penghakiman Massa
Ulasan
-
Kisah Cinta, Kutu Buku, dan Petualangan Surealis: Review Jagat Rajawali Karya Eko Darmoko
-
Ngeri Banget! Serial Carrie Buktikan Cyberbullying Jauh Lebih Kejam dari Kutukan
-
Pursuit of Jade: Drama dengan Role Reversal Baru Zhang Linghe & Tian Xiwei
-
Review Laut Bercerita: Kisah Pilu Perjuangan Aktivis Melawan Orde Baru
-
The Lament of Autumn: Drama Republik dalam Vibes Love Hate yang Bikin Baper
Terkini
-
Viral Guru AI IELTS Mengamuk, Benarkah Kecerdasan Buatan Mulai Punya Perasaan?
-
Bukan Soal Anti Asing, Ini Alasan Standar Halal Indonesia Bikin Negara Maju Ketar-ketir!
-
Stop Scroll Medsos Seharian! Ini Terapi Paling Manjur Bebas dari Brain Fog
-
Warisan Resep Dapur Ibu
-
Laut Bercerita dan Ingatan yang Belum Selesai