Lintang Siltya Utami | e. kusuma .n
ilustrasi dilema perempuan (Pexels/AI25.Studio AI GENERATIVE)
e. kusuma .n

Perempuan modern memang punya lebih banyak kesempatan untuk berkembang. Banyak perempuan bisa bekerja, memiliki penghasilan sendiri, membangun karier, bahkan membantu kebutuhan keluarga. Kemandirian finansial menjadi sesuatu yang semakin umum dan positif. Namun ironisnya, ketika perempuan mulai menikmati hasil kerja kerasnya sendiri, komentar negatif justru sering muncul.

Sedikit belanja dianggap boros. Nongkrong di kafe estetik dibilang terlalu konsumtif dan tidak bisa mengatur uang. Bahkan ketika perempuan menggunakan uang hasil kerjanya sendiri, masih saja ada penilaian miring dari orang lain.  Akhirnya banyak perempuan ada di posisi sudah bekerja keras mencari uang, tapi tetap merasa bersalah saat ingin menikmati hasilnya. Lahirlah dilema perempuan modern saat ini: ingin menikmati hidup, tapi takut diberi label boros.

Standar Sosial yang Berbeda untuk Perempuan

Kalau diperhatikan, pengeluaran perempuan sering dinilai berbeda. Pengeluaran laki-laki untuk gadget hingga hobi dianggap wajar. Namun, saat perempuan membeli makeup, skincare, atau kebutuhan penampilan lainnya, lebih mudah dianggap berlebihan.

Padahal banyak pengeluaran perempuan sebenarnya berkaitan dengan tuntutan sosial juga. Ironisnya, ketika perempuan berusaha memenuhi standar itu, mereka malah mendapat label konsumtif. Menurut saya, perempuan sering hidup di tengah standar yang bertabrakan. Dituntut tampil menarik, tapi dikritik saat mengeluarkan uang untuk menunjang penampilan tersebut. Akhirnya, apa pun yang dilakukan terasa serba salah.

Media Sosial dan Budaya “Harus Menikmati Hidup”

Di era digital seperti sekarang, media sosial punya pengaruh besar terhadap gaya hidup perempuan modern. Timeline dipenuhi konten tentang self-reward, healing, traveling, dan berbagai bentuk cara “menikmati hidup”. Tanpa sadar, perempuan jadi lebih mudah merasa kalau hidup yang bahagia harus terlihat menarik di media sosial. Sayangnya, saat menjalani standar tersebut, perempuan tetap dihadapkan pada penghakiman sosial.

Di satu sisi, didorong untuk mencintai diri sendiri dan menikmati hasil kerja kerasnya. Namun di sisi lain, muncul komentar seperti “uangnya habis buat lifestyle” atau “mending ditabung”. Bukankah situasi ini terasa melelahkan? Kita seolah dihadapkan pada dua tekanan sekaligus. Kalau terlalu hemat dianggap tidak menikmati hidup, tapi kalau mulai membeli sesuatu untuk diri sendiri, langsung dicap boros. Padahal menikmati hasil kerja sendiri bukan hal yang salah.

Self-Reward atau Konsumtif?

Saya rasa banyak perempuan menggunakan belanja atau menikmati hal kecil sebagai bentuk self-reward setelah lelah bekerja dan menghadapi tekanan hidup sehari-hari. Membeli kopi favorit, skincare, buku, atau outfit baru kadang menjadi cara sederhana untuk memberi penghargaan pada diri sendiri. Hal seperti itu sebenarnya wajar selama masih sesuai kemampuan.

Namun masalahnya, budaya konsumtif sekarang memang semakin sulit dipisahkan dari media sosial dan tren digital. Karena terlalu sering melihat gaya hidup orang lain, perempuan jadi takut tertinggal dan mengejar validasi sosial. Akibatnya, batas antara self-reward dan konsumtif kadang mulai kabur. Menurut saya, inilah yang sisi dilematis perempuan mulai muncul. Terlebih karena komentar sosial sering membuat perempuan merasa bersalah atas pilihan finansialnya sendiri.

Menikmati Hasil Kerja Itu Hak, Bukan Kesalahan

Menurut saya, perempuan punya hak untuk menikmati hasil kerja kerasnya sendiri tanpa harus meminta persetujuan sosial. Hal yang wajar kalau sesekali ingin membeli sesuatu yang disukai atau menikmati hidup.

Masalahnya bukan pada membeli atau menikmati hidup, tapi pada bagaimana seseorang mengelola keuangannya. Sebab menabung dan self-reward sebenarnya bisa berjalan bersamaan jika dilakukan dengan seimbang. Sayangnya, masyarakat sering melihat semuanya secara ekstrem. Seolah perempuan harus memilih antara hidup hemat atau menikmati hidup. Padahal keduanya tidak selalu bertentangan.

Perempuan Tidak Harus Selalu Membuktikan Diri

Menurut saya, salah satu hal paling melelahkan menjadi perempuan modern adalah terus hidup di bawah penilaian sosial. Apa pun pilihan yang diambil selalu ada komentar. Padahal skala prioritas dan cara bahagia itu berbeda-beda.

Tidak semua perempuan ingin hidup mewah. Tidak semua perempuan juga ingin terus menahan diri demi terlihat “bijak” di mata orang lain. Karena hidup bukan soal memenuhi standar sosial tentang bagaimana perempuan “seharusnya” menggunakan uangnya. Kita hanya perlu fokus pada cara menjalani hidup dengan nyaman, seimbang, dan tetap bertanggung jawab terhadap diri sendiri tanpa terus dibebani label dari orang lain. Bagaimana dengan kamu? Apakah masih terjebak label sosial?