Permasalahan sampah tidak pernah berhenti menjadi salah satu tantangan lingkungan yang paling sulit diselesaikan. Meski makin banyak komunitas, organisasi, dan gerakan peduli lingkungan bermunculan, tumpukan sampah masih terus menjadi persoalan yang ditemukan di berbagai daerah.
Selama ini, saya merasakan bahwa pembahasan mengenai sampah sering kali berfokus pada tahap akhir atau hilir, yakni bagaimana mengolah limbah yang sudah telanjur dihasilkan. Padahal, solusi yang lebih efektif adalah melihat persoalan ini dari hulu ke hilir, mulai dari proses desain dan produksi barang, distribusi serta konsumsi, hingga pengolahan limbah setelah digunakan.
Bukan tanpa solusi, pemerintah sendiri telah menunjukkan komitmennya untuk menyelesaikan persoalan sampah secara menyeluruh sebelum tahun 2029. Target tersebut menjadi bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029. Komitmen tersebut dibahas satu tahun lalu dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih.
Dalam pertemuan tersebut, berbagai strategi percepatan penanganan sampah menjadi salah satu fokus utama pemerintah. Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menjelaskan bahwa Presiden telah memberikan arahan untuk mempercepat penanganan sampah melalui berbagai pendekatan yang melibatkan pemerintah daerah.
“Bapak sudah menargetkan di dalam RPJMN-nya beliau, 2029 mestinya sampah selesai, sehingga segala strategi telah kita susun bersama melalui beberapa pendekatan,” ujar Hanif dikutip dari laman Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, Senin (8/6/2026).
Hanif juga menjelaskan bahwa strategi tersebut mencakup pendekatan hulu seperti Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS-3R) dan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), serta pendekatan hilir seperti Waste to Energy (WTE) dan Refuse-derived Fuel (RDF). Artinya, penanganan sampah tidak hanya dilakukan setelah limbah muncul, tetapi juga sejak awal proses.
Agar konsep less waste dari hulu ke hilir lebih mudah dipahami, berikut beberapa solusi nyata yang mungkin dapat diterapkan oleh produsen maupun konsumen.
1. Mendesain Produk yang Tidak Mudah Menjadi Sampah
Tahap hulu merupakan titik awal yang sangat menentukan. Pada tahap ini, produsen memiliki kesempatan besar untuk mencegah lahirnya sampah bahkan sebelum produk digunakan oleh konsumen. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menggunakan desain kemasan monomaterial.
Kemasan yang dibuat dari satu jenis bahan akan lebih mudah didaur ulang dibandingkan dengan kemasan yang terdiri dari berbagai lapisan material berbeda. Produsen juga dapat menerapkan konsep eco-design atau desain untuk umur panjang. Produk dirancang agar mudah diperbaiki sehingga konsumen tidak perlu membuang seluruh barang ketika hanya satu komponen yang rusak. Selain itu, penggunaan bahan baku hasil upcycling juga menjadi solusi yang makin relevan.
Selain itu, kita bisa lihat beberapa contoh perusahaan kosmetik yang kini sudah banyak menerapkan kemasan berkelanjutan demi meminimalisasi dampak negatif terhadap lingkungan.
2. Mengurangi Sampah Saat Distribusi dan Konsumsi
Tahap selanjutnya yakni berfokus pada bagaimana produk didistribusikan dan digunakan oleh konsumen. Pada fase ini, pengurangan sampah dapat dilakukan melalui perubahan sistem dan kebiasaan sehari-hari. Salah satu contohnya adalah penerapan sistem isi ulang atau refill station.
Konsumen cukup membawa wadah sendiri dari rumah untuk mengisi sabun, detergen, atau kebutuhan rumah tangga lainnya tanpa harus membeli kemasan baru. Meski terdengarnya mudah, tetapi tentu hal ini butuh banyak pertimbangan yang tak sesederhana kelihatannya.
3. Memastikan Sampah Tidak Berakhir di TPA
Tahap hilir menjadi langkah terakhir dalam rantai pengelolaan sampah. Fokus utamanya adalah memastikan limbah yang dihasilkan tetap memiliki nilai guna dan tidak langsung berakhir di tempat pembuangan akhir. Pengomposan menjadi salah satu solusi yang dapat diterapkan untuk sampah organik.
Sisa makanan, kulit buah, dan dedaunan dapat diolah menjadi kompos yang bermanfaat untuk menyuburkan tanah. Pemilahan sampah juga memegang peran penting dalam konsep less waste.
Sampah anorganik seperti plastik, kertas, kaca, dan logam dapat dipisahkan sejak dari rumah sebelum disalurkan ke bank sampah atau fasilitas daur ulang. Langkah tersebut membantu material tetap berada dalam siklus ekonomi dan mengurangi kebutuhan bahan baku baru.
Dengan demikian, jumlah sampah yang berakhir di TPA dapat ditekan secara signifikan. Selain itu, peran pemulung dan sektor informal juga tidak boleh dipandang sebelah mata saja. Mereka merupakan garda terdepan yang selama ini membantu menyelamatkan berbagai material yang masih memiliki nilai daur ulang.
Pemerintah maupun sektor swasta dapat memberikan dukungan berupa fasilitas kerja yang lebih aman dan perlindungan yang memadai bagi para pekerja tersebut. Dukungan ini akan memperkuat sistem pengelolaan sampah secara keseluruhan.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menjelaskan bahwa pemerintah juga tengah mendorong konversi sampah menjadi energi di sejumlah daerah. Menurutnya, terdapat 33 lokasi TPA yang menjadi fokus pengembangan teknologi tersebut.
“Itulah yang akan digunakan mekanisme namanya Waste to Energy, mengubah sampah menjadi energi,” ujar Tito.
Pada akhirnya, solusi less waste dari hulu ke hilir hanya dapat berjalan jika seluruh pihak terlibat. Ketika produsen mendesain produk yang lebih mudah didaur ulang, konsumen menggunakan produk secara bijak, dan sistem pengolahan limbah berjalan optimal, maka rantai pengelolaan sampah akan membentuk ekonomi sirkular yang lebih ramah bagi bumi dan generasi mendatang.
Baca Juga
-
Aksi Memukau Joe Taslim dan Yayan Ruhian dalam Film 'The Furious', Kapan Tayangnya?
-
Review Film Hokum, Minim Jumpscare tapi Bikin Tegang Sampai Akhir
-
Pencinta Sepak Bola Wajib Baca: Tips Beli Jersey Orisinal Piala Dunia 2026
-
Emosional! Mengintip Ruang Ganti Norwegia Menuju Piala Dunia 2026 Lewat Dokumenter Terbaru
-
Ulasan JBound Bogor: Wisata Edukasi untuk Anak Belajar Sambil Bermain
Artikel Terkait
-
Bukan Sedotan, Penelitian Global Temukan Kemasan Makanan Jadi Penyumbang Utama Sampah Plastik Laut
-
Emisi Tersembunyi di Dapur: Mengapa Sampah Makanan Lebih Berbahaya dari Karbon Dioksida?
-
Ilmuwan Temukan Cara Baru Daur Ulang Plastik Tanpa Pelarut, Bisakah Jadi Jawaban Krisis Sampah?
-
Piala Dunia 2026 dan Tantangan Menjaga Tempat Nobar agar Tetap Bersih
-
Tak Harus Daur Ulang, Merawat Barang Juga Bentuk Gaya Hidup Less Waste
Kolom
-
Fenomena Green Consumerism: Peduli Lingkungan atau Sekadar Tren Belanja?
-
Rutinitas Ngopi: Mood Booster dan Hangatnya Kebersamaan Bareng Keluarga
-
Dari Tumbler ke Paylater: Kontradiksi Gaya Hidup Ramah Lingkungan Anak Muda
-
Niatnya Healing, Kok Malah Berujung Kantong Kering?
-
Emisi Tersembunyi di Dapur: Mengapa Sampah Makanan Lebih Berbahaya dari Karbon Dioksida?
Terkini
-
Red Velvet Rayakan 12 Tahun Debut dengan Comeback Grup Lengkap dan Fan-Con
-
BLEACH Rilis Ilustrasi Perjalanan Ichigo Jelang Final Arc The Calamity
-
5 Parfum Wanita untuk Pengguna Transportasi Umum, Bebas Bau Badan Seharian!
-
Setelah Juara Langsung Jadi Manusia Silver: Kutukan Ganda Putra Indonesia?
-
Ulasan Film Main Vaapas Aaunga: Romantisme Pilu di Balik Tragedi Tahun 1947