“Gak ada kiriman, bu. Maklum halodo,” jawab penjual sayur di pasar Tanjungsari, Sumedang, Jawa Barat, sewaktu saya mencari baby labu siam. Halodo (Bahasa Sunda): musim kemarau). Lebih lanjut sang penjual mengeluhkan kenaikan harga sayuran, biasanya harga mentimun hanya Rp 2.500/kg sekarang Rp 5.000/kg.
Curhat sang penjual mengingatkan saya akan krisis pangan yang dikhawatirkan Erma Yulihastin, peneliti iklim dan atmosfer BRIN. Melalui bincang di channel Kolom Hijau Tempodotco tersebut, Erma menjelaskan pada tahun 2026 ini Indonesia mengalami musim kemarau ekstrem.
Penyebabnya perubahan iklim yang memicu munculnya El Nino Godzilla. Dinamakan demikian karena merupakan fenomena pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik yang memiliki kekuatan sangat ekstrem, jauh melampaui intensitas El Niño biasa, dengan skala dampak global yang sangat besar dan merusak layaknya kisah fiksi monster raksasa.
Sebagai penghuni perumahan di dekat kawasan pertanian Kabupaten Sumedang, saya bisa melihat perubahan ini. Ladang ubi cilembu, jagung dan singkong yang biasanya hijau royo-royo, kini kekuningan dan meranggas. Rerumputan sudah lama tak terlihat, meninggalkan retakan tanah yang semakin lebar.
Situasi ini memunculkan tanya: Apa yang terjadi jika manusia tidak bisa menjaga keberlanjutan dan beradaptasi terhadap perubahan iklim? Apakah manusia akan punah?
Ancaman krisis pangan dan air akibat perubahan iklim sebetulnya sudah lama didengungkan, salah satunya oleh Rachmat Witoelar, Utusan Khusus Presiden untuk Pengendalian Perubahan Iklim yang juga merupakan Presiden Konferensi Para Pihak (COP-13) UNFCCC di Bali pada tahun 2007.
Dalam seminar perubahan iklim, mantan Menteri Lingkungan Hidup ini mengingatkan bahwa kita bisa belajar dari masyarakat adat, karena mereka hidup dengan menjaga keberlanjutan dan secara turun temurun menerapkan konservasi lingkungan.
Peran Masyarakat Adat Osing dalam Adaptasi Perubahan Iklim
Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mencatat tak kurang dari 2.000 kelompok atau komunitas adat menghuni berbagai wilayah Nusantara, dengan jumlah populasi diperkirakan antara 40 juta sampai 70 juta jiwa.
Salah satunya adalah masyarakat adat Osing yang tinggal di Desa Kemiren, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur sejak tahun 1830-an, atau zaman penjajahan Belanda. Dinamakan “Kemiren” karena pada saat itu terdapat banyak pohon kemiri dan duren (durian) pada wilayah hunian mereka yang masih berupa hutan.
Berusia ratusan tahun, Suku Osing masih mempertahankan budaya yang mencerminkan keberlanjutan, melalui ritual yang bertujuan menjaga keharmonisan dan keseimbangan alam.
Terlihat dari tradisi Kebo-keboan, ritual agraris sebagai wujud rasa syukur dan doa agar kesuburan tanah serta hasil pertanian terus terjaga. Tradisi lainnya adalah Barong Ider Bumi, suatu upacara adat pensucian desa untuk menolak bala dan memelihara keharmonisan spiritual antara manusia dan alam, serta tradisi lain seperti Labuh Nyingkal dan Tari Gandrung.
Masyarakat adat Osing juga mempertahankan arsitektur rumah dengan material lokal berbahan kayu yang adaptif terhadap iklim lokal dan ramah lingkungan.
Dianggap unik, tak heran Desa Kemiren menjadi destinasi wisata yang dibanjiri pengunjung dari dalam maupun luar negeri. Kedatangan mereka tidak hanya memberikan dampak positif, juga dampak negatif bagi masyarakat adat Osing.
Karena itu, pada tahun 2024, melalui program Desa Sejahtera Astra, Astra menggandeng Muhammad Edy Saputro, untuk memperkuat potensi Desa Kemiren agar tetap bertahan sebagai garda terdepan dalam merawat bumi.
Mengenal Kang Edai, Penjaga Adaptasi Perubahan Iklim dari Desa Kemiren
Sebagai perwakilan generasi muda, pastinya Kang Edai, nama panggilan Muhammad Edy Saputro, sangat paham gaya hidup modern yang sedang digandrungi, seperti makanan dan minuman kekinian, busana fast fashion, serta hal lain yang dengan mudah bisa diakses melalui media sosial.
Seperti diketahui produk seperti itu berpotensi mengakibatkan perubahan iklim, contohnya makanan ultra-processed food (UPF) yang tidak hanya membahayakan kesehatan, juga berpotensi menimbulkan limbah anorganik.
Untuk mengatasinya, di sektor kesehatan, masyarakat mendapat edukasi kesehatan dari tenaga ahli, penguatan Posyandu serta penyediaan sarana kesehatan dasar.
Tak lupa layanan kesehatan ibu dan anak, untuk menekan angka kematian ibu dan bayi, mencegah stunting, serta mendekatkan akses kesehatan dasar tanpa harus pergi jauh ke kota.
Di sektor pendidikan, sebagaimana sesepuh masyarakat adat Osing menyerahkan tugas keberlanjutan pada Kang Edai, dia pun harus menyiapkan generasi mendatang. Di antaranya melalui PAUD Desa Kemiren, anak-anak mendapat edukasi untuk mengutamakan pangan sesuai kearifan lokal.
Agar proses edukasi terselenggara dengan mudah, tersedia sarana belajar dan alat permainan edukatif, serta dukungan kegiatan pembelajaran seperti outing class.
Tentu saja proses edukasi juga meliputi pengenalan dan pemahaman akan budaya lokal masyarakat adat Osing karena merekalah yang kelak meneruskan tugas dalam merawat bumi.
Problem pengelolaan sampah menjadi keniscayaan seiring masuknya budaya modern. Sehingga dibutuhkan aksi nyata dalam menerapkan ekonomi sirkular, yaitu sistem pemanfaatan limbah secara berkelanjutan
Dimulai dengan pembentukan kelompok sadar lingkungan dan penyediaan sarana pengelolaan sampah. Setelah dilakukan pemilahan sampah organik dan non-organik, maka sampah organik dimanfaatkan untuk:
- Pembuatan pupuk organik.
- Pengembangan biogas.
Tingkat kemiskinan yang tinggi di kawasan pedesaan menjadi fokus Astra untuk meningkatkan pembangunan dan pemerataan ekonomi melalui program Desa Sejahtera Astra.
Termasuk masyarakat adat Osing yang memiliki banyak potensi untuk dikembangkan menjadi Desa Wisata Adat Osing Kemiren. Bersama Kang Edai, Astra memberikan penguatan pada Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dalam mengelola kegiatan wisata dan pelestarian budaya.
Hasilnya sangat menggembirakan. Pendapatan rata-rata 40 anggota Pokdarwis meningkat sekitar 33%, dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta per bulan.
Demikian pula para pelaku usaha lokal, tak kurang dari 40 pelaku UMKM di bidang kuliner, kerajinan, dan kopi berhasil meraup rezeki dari 3.000 lebih kunjungan wisatawan setiap tahun, baik dari dalam maupun luar negeri.
Para wisatawan ini sangat menikmati tinggal bersama masyarakat adat Osing di sekitar 50 homestay dengan total 92 kamar yang dikelola warga Desa Kemiren.
Dengan seluruh keunggulannya, tak heran Desa Sejahtera Astra Kemiren berhasil memperoleh beberapa penghargaan di bidang pariwisata dan budaya. Di tingkat nasional “the museum living” ini mendapat apresiasi Wonderful Indonesia Impact dan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dari Kementerian Pariwisata serta ASEAN Tourism Award 2025.
Sedangkan di tingkat internasional, Desa Sejahtera Astra Kemiren terpilih sebagai bagian dari The Best Tourism Village Upgrade Program 2025, suatu program yang mendukung pelestarian budaya, alam, dan tradisi lokal agar tercipta pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Di Tangan Nyoman Nadiana, Tradisi Garam Desa Les Terus Hidup dan Lekat dengan Masyarakat
-
Tak Punya Pantai, Kemiren Punya Budaya: Edy Menggerakkan Ekonomi Desa
-
Gema Lesung Kemiren: Menenun Asa dan Wirausaha di Jantung Suku Osing
-
Budaya Jadi Kunci: Bagaimana Kang Edai Bawa Desa Kemiren Bertumbuh?
-
Dari Posyandu ke Pariwisata: Bagaimana Kesehatan Jadi Pondasi Desa Wisata Les Buleleng
Kolom
-
Pemerintah Bidik Pajak Kontrakan: Ancaman Baru bagi Hunian Terjangkau
-
Di Balik Narasi 'Kecerdasan Bukan dari Sekolah': Mengingatkan Kembali Tanggung Jawab Negara
-
Terjebak FOMO Gaji Dua Digit di Usia 20-an, Apakah Realistis?
-
Ramai Bukan Berarti Aman: Mengapa Perempuan Masih Waspada di Malioboro?
-
Gen Z dan HUT ke-81 RI: Sudahkah Merdeka dari Tekanan Selalu Terlihat Sukses?
Terkini
-
Makna yang Tertinggal di Atas Kanvas
-
Gak Perlu Mahal! 5 Rekomendasi Smartwatch Berkualitas dan Ramah di Kantong
-
Tak Bisa Dibantah! STY Masih Jadi Pelatih Terbaik bagi Timnas Indonesia
-
Jeongyeon TWICE Keluar JYP Entertainment, Tulis Surat Hangat untuk Fans
-
Keinginan Remaja vs Orang Tua dalam How Could You Do This to Me, Mum?