Sekar Anindyah Lamase | Rana Fayola R.
Ilustrasi AI para perempuan memeriahkan Piala Dunia 2026. (Gemini AI)
Rana Fayola R.

Mata sembap dan segelas kopi hitam menemani malam-malam panjang belakangan ini. Di seluruh penjuru negeri, banyak perempuan rela meluangkan waktu tidur mereka untuk menyaksikan laga sengit di Piala Dunia 2026 yang sedang berlangsung.

Namun, di tengah keseruan itu, sebuah pertanyaan usik sering kali muncul dari lingkungan sekitar: "Memangnya paham bola?" atau "Ikut begadang cuma mau lihat pemain yang ganteng, ya?"

Sinisme semacam ini menunjukkan bahwa stigma patriarki masih membayangi ruang hijau, seolah-olah sepak bola adalah wilayah suci yang hanya boleh dimiliki oleh kaum laki-laki.

Selama ini, sepak bola memang terlanjur diidentikkan dengan hal-hal maskulin yang khas dengan dunia cowok. Akibatnya, pandangan bahwa sepak bola adalah 'A Man's Game' membuat suporter perempuan kerap dipandang sebelah mata. Ketika mereka mengekspresikan kecintaan pada sebuah klub atau negara, mereka dituduh tidak paham bola dan dianggap hanya sekadar mencari eksistensi di mata laki-laki.

Diskriminasi gender seperti ini tidak hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga menjamur di dunia maya dalam bentuk komentar kebencian.

Stigma ini bahkan terasa semakin intimidatif ketika perempuan memutuskan untuk datang langsung ke stadion. Alih-alih mendapatkan pengalaman menonton yang seru, mereka justru kerap mengalah pada situasi yang kurang aman. Tindakan kurang pantas seperti siulan menggoda (catcalling), pelecehan verbal, hingga sentuhan fisik dari suporter pria di tribun masih sering terjadi.

Ada beberapa faktor mengapa stigma ini terus berlangsung di masyarakat. Faktor utamanya adalah kuatnya budaya patriarki dan stereotip maskulin yang menganggap wanita inferior dalam urusan fisik. Selain itu, keterbatasan ruang bagi kaum hawa di lapangan hijau dan minimnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya sepak bola wanita turut memperparah keadaan.

Hal ini juga berimbas pada ranah profesional, di mana terjadi financial gap atau kesenjangan pendapatan yang sangat jauh antara pemain pria dan wanita.

Era Baru Lapangan Hijau: Dari Penonton Menjadi Pengendali

Namun lanskap sepak bola dunia kini sedang mengalami pergeseran besar yang tidak bisa dibendung lagi. Perempuan bukan lagi sekadar penonton di pinggir lapangan atau penghias tribun, melainkan telah bertransformasi menjadi pengendali permainan.

Pada gelaran Piala Dunia 2026, FIFA secara nyata mendukung kesetaraan gender dengan menugaskan wasit wanita seperti Tori Penso dan Katia Garcia untuk memimpin laga-laga krusial. Kehadiran mereka di tengah lapangan adalah bukti otentik bahwa otoritas dan ketegasan tidak mengenal jenis kelamin.

Tak hanya di dalam garis lapangan, pesona perempuan juga menguasai panggung megah upacara pembukaan Piala Dunia 2026. Nama-nama besar seperti Lisa BLACKPINK yang menjadi headliner utama serta penampilan ikonik dari Shakira menunjukkan betapa dominannya peran perempuan dalam merayakan turnamen terbesar di bumi ini.

Keterlibatan ini menegaskan bahwa antusiasme Piala Dunia adalah milik semua orang, dan perempuan berada di baris terdepan untuk menyemarakkannya.

Keterlibatan aktif ini juga merambah hingga ke level akar rumput internasional melalui jalur sukarelawan. Salah satu contoh nyata adalah Angelia Hutabarat, seorang perempuan muda asal Indonesia yang berhasil menjadi sukarelawan resmi Piala Dunia 2026 di Meksiko.

Kisah seperti Angelia membuktikan bahwa gairah terhadap sepak bola mampu menggerakkan perempuan untuk melintasi batas negara dan menjadi bagian dari sejarah sepak bola global.
Transformasi ini semakin diperkuat dengan langkah strategis FIFA yang mulai meluncurkan kompetisi-kompetisi baru berskala internasional.

Kehadiran FIFA Women's Champions Cup 2026 dan Piala Dunia Klub Wanita 2028 menjadi penanda dimulainya era baru sepak bola wanita yang semakin populer di seluruh dunia. Perkembangan global ini membuat masyarakat internasional mulai melek dan melihat lapangan hijau sebagai arena kesetaraan gender, bukan lagi wilayah kekuasaan mutlak laki-laki.

Di dalam negeri sendiri, semangat untuk mendobrak stigma ini berjalan dengan sangat masif. Di bawah naungan Asosiasi Sepak Bola Wanita Indonesia (ASBWI) yang resmi didirikan sejak 7 Desember 2017, wadah untuk pesepak bola perempuan kini semakin terarah.

Perkembangan ini membuktikan bahwa Indonesia memiliki komitmen untuk memberikan ruang yang sama bagi talenta-talenta perempuan di dunia olahraga.

Pada hakikatnya, sepak bola adalah bahasa universal yang tidak pernah mengenal batasan gender, budaya, maupun kelas sosial. Sepak bola adalah olahraga dasar yang mengajarkan nilai-nilai luhur seperti kerja sama tim, sportivitas tinggi, dan ketangguhan mental yang semuanya bersifat netral gender.

Lapangan hijau pada dasarnya adalah milik siapa saja yang memiliki kemauan untuk belajar, berproses, dan percaya pada kemampuan diri sendiri.

Meskipun di satu sisi tantangan seperti financial gap, diskriminasi, hingga pelecehan verbal masih membayangi, perubahan positif sedang bergerak ke arah yang benar.

Piala Dunia 2026 dan perkembangan sepak bola saat ini adalah momentum terbaik bagi seluruh perempuan untuk meruntuhkan tembok keraguan. Menikmati taktik permainan, merayakan gol, hingga ikut begadang demi tim kesayangan adalah hak mutlak yang setara bagi setiap orang.

Jadi, bagi seluruh perempuan di luar sana, jangan pernah merasa remeh atau ciut dengan stigma yang ada. Lapangan hijau dan layar kaca adalah milikmu sepenuhnya; teruslah menyukai, membahas, dan mencintai sepak bola dengan seluruh hatimu!