Tahun ajaran baru sebentar lagi tiba. Dalam beberapa minggu terakhir, para orang tua disibukkan mencari sekolah untuk anak-anaknya.
Jika dulu sekolah negeri menjadi pilihan favorit para orang tua, kini sekolah swasta justru ramai dilirik karena menawarkan beberapa keunggulan yang tak dimiliki negeri.
Dari segi biaya, sekolah negeri tentu lebih unggul karena seluruhnya ditanggung pemerintah. Berbeda dengan swasta di mana orang tua harus mengeluarkan biaya yang cukup besar dari kocek pribadi.
Tapi rupanya alasan biaya kini tidak terlalu relate dengan kondisi saat ini. Pasalnya, masuk sekolah negeri kini cukup rumit jika dibandingkan beberapa tahun lalu. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 3 Tahun 2025 salah satu syarat anak masuk SD adalah sudah berusia 7 tahun.
Meski demikian, anak-anak yang berusia di bawah 7 tahun tetap bisa masuk SD asalkan sudah dinyatakan siap secara psikis.
Beberapa waktu lalu saat saya sedang mengambil rapor anak, saya sempat mendengar salah satu orang tua siswa yang mengeluh karena sang anak terlempar dari SD pilihannya karena usia yang tidak memenuhi persyaratan. Para orang tua yang lain juga sama bingungnya, mereka juga menceritakan keluh kesahnya saat kesulitan mendaftarkan sekolah anak-anak mereka dengan berbagai syarat yang tak terpenuhi.
Tak hanya persoalan usia, para orang tua juga harus memperhatikan kuota penerimaan murid baru yang terdiri dari jalur afirmasi, jalur domisili, hingga jalur mutasi.
Jika tidak memenuhi persyaratan tersebut, maka calon siswa dipastikan gagal diterima di SD pilihannya.
Dilema Orang Tua Pilih Sekolah Negeri atau Swasta
Jika sudah ditolak sana-sini karena syarat yang tak terpenuhi, maka mau tak mau orang tua harus memilih sekolah swasta untuk anak-anak mereka.
Lalu apakah memilih SD swasta permasalahan bisa langsung selesai? tentu tidak. Jika di negeri kita tak perlu pusing biaya, lain halnya jika anak ingin masuk di sekolah swasta.
Untuk masuk ke swasta, orang tua setidaknya harus menyiapkan uang pendaftaran, uang gedung, serta buku dan seragam.
Jika ditotal maka jumlahnya bisa mencapai jutaan. Sebagai pengalaman pribadi, saya sendiri harus menyiapkan kocek setidaknya lebih dari Rp6 juta saat memasukkkan anak ke SD swasta, itupun harganya jauh lebih murah karena saya mendaftar sejak gelombang pertama. Lain lagi jika ingin masuk SD swasta yang terkenal, tentu harganya bisa menyentuh angka puluhan juta untuk bisa masuk ke sana.
Belum cukup pusing dengan biaya pendaftarannya, sekolah swasta juga biasanya ada uang tahunan dan daftar ulang yang nilainya lumayan. Ada juga uang kegiatan yang tidak masuk dalam uang tahunan sekolah.
Meski demikian, pada akhirnya sekolah swasta mau tak mau memang menjadi jalan keluar bagi banyak orang tua yang anaknya tidak lolos ke sekolah negeri. Namun, solusi ini juga tidak mudah karena persoalan biaya menjadi tantangan baru yang tak kalah berat.
Tidak semua keluarga memiliki tabungan pendidikan yang cukup besar. Banyak orang tua yang akhirnya harus memutar otak, mulai dari mengambil tabungan, meminjam uang, hingga mencicil biaya pendidikan demi memastikan anak tetap bisa bersekolah tepat waktu.
Ironisnya, pendidikan dasar yang seharusnya menjadi hak setiap anak justru membuat sebagian orang tua berada dalam posisi serba salah. Ketika sekolah negeri semakin ketat dengan berbagai syarat dan kuota, sekolah swasta yang menjadi alternatif justru tidak selalu ramah bagi kondisi ekonomi keluarga.
Saya yakin, tidak ada orang tua yang menginginkan sekolah mewah atau fasilitas berlebihan. Kebanyakan hanya ingin anaknya bisa belajar dengan tenang di sekolah yang layak tanpa harus dipusingkan dengan persyaratan yang rumit atau biaya yang terlalu membebani.
Pada akhirnya, dilema orang tua mencari sekolah anak bukan sekadar soal memilih negeri atau swasta. Persoalannya lebih besar dari itu, yakni bagaimana memastikan setiap anak mendapatkan akses pendidikan yang mudah, merata, dan terjangkau.
Sebab pendidikan dasar seharusnya tidak menjadi arena seleksi yang membingungkan maupun beban finansial yang membuat orang tua cemas setiap kali tahun ajaran baru tiba.
Pendidikan mestinya menjadi hak yang bisa dijangkau semua anak, bukan kemewahan yang hanya dapat dinikmati oleh mereka yang memenuhi syarat atau memiliki kemampuan ekonomi lebih baik.
Baca Juga
-
Kenapa La Copa de la Vida dan Waka Waka Masih Jadi Jawaranya Lagu Piala Dunia?
-
Mengapa Banyak Pemain Pakai Sepatu Pink di Piala Dunia 2026?
-
Shrek, Fiona, dan Donkey Kembali! Trailer Perdana Shrek 5 Resmi Rilis
-
Mirip Harry Potter, Film Animasi Hexed Bawa Penonton ke Dunia Penyihir
-
Pesona WAGs Piala Dunia 2026, Ada Pasangan Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, hingga Kylian Mbappe
Artikel Terkait
-
Wamenpar Wanti-wanti Pelaku Wisata Dieng: Utamakan Keselamatan di Tengah Lonjakan Turis!
-
Wamensos Apresiasi Dukungan ESQ Group untuk Pendidikan dan Karier Siswa Sekolah Rakyat
-
Sekolah Rakyat Ubah Jalan Hidup Aldo, Mantan Tukang Las Kini Punya Impian ke Negeri Sakura
-
Bupati Kediri Apresiasi Capaian Siswa Sekolah Rakyat dalam Open House 2026
-
Sekolah Rakyat Jadi Harapan Baru Anak Miskin, Wamensos: Presiden Jalankan Amanat Konstitusi
Kolom
-
Cara Saya Mengubah Kesepian Menjadi Ruang Terbaik untuk Mengenal Diri
-
Pemadaman Listrik Tanpa Pemberitahuan: Masalah Tata Kelola Pelayanan Publik
-
Sisi Lain Piala Dunia 2026: Mengapa Fanwar di Media Sosial Susah Diredam?
-
Gaya Bahasa Jakselan di Kampus yang Bikin Logika Bahasa Baku Jadi Korban
-
Influencer Digital Hari Ini: Antara Pengaruh dan Tanggung Jawab
Terkini
-
Super Iconic, 4 OOTD Grungy Hip Hop ala Woojin LNGSHOT yang On Point!
-
Tips Mengoleksi Merchandise Piala Dunia 2026 untuk Penggemar Sepak Bola
-
Pra-Acara Day of Petroleum 2026: Konservasi Penyu, Tanam Pandan, dan Bersih Pantai di Patihan
-
Kompak Jadi Aib, Piala Dunia 2026 Tak Ubahnya Panggung untuk Permalukan Anak Emas AFC
-
Alasan Serial 'Di Luar Nurul' Viral, Pemeran Utamanya Cocok Banget!