Desa Kemiren yang terletak di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menjadi salah satu binaan dalam program Desa Sejahtera Astra (DSA) dari PT Astra International Tbk. Bukan tanpa alasan, pemilihan Desa Kemiren dilatarbelakangi oleh beberapa faktor.
Salah satunya adalah kemampuan warga Desa Kemiren yang masih menjaga keaslian atau budaya lokal desa tersebut. Di tengah gempuran arus budaya global yang semakin mengikis orisinalitas suatu daerah, Desa Kemiren justru masih berpegang teguh pada tradisi leluhur yang kini cukup jarang kita temui.
Tak hanya itu, lingkungan asri dengan hamparan sawah hijau serta kehangatan senyum warga Suku Osing yang kerap menyapa para tamu dan wisatawan yang datang berkunjung juga menjadi bagian dari benteng kebudayaan yang terus mereka jaga di zaman modern ini.
Dengan segala kelebihan itu, maka pantaslah jika Desa Kemiren meraih juara 2 Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024.
Sosok Penggerak di Balik Desa Kemiren
Di balik geliat dan harumnya nama Kemiren di kancah internasional, ada dedikasi sosok penggerak seperti Moh Edy Saputro atau yang akrab disapa Kang Edai.
Adapun alasan Astra menunjuk Kang Edai sebagai penggerak di Desa Kemiren karena statusnya yang saat itu sebagai ketua desa.
“Karena memang waktu itu Astra menunjuk Desa Wisata Osing Kemiren menjadi desa binaan dan kebetulan saya sebagai ketua desa wisata akhirnya Astra menunjuk saya sebagai penggerak di Desa Wisata Kemiren,” kata Kang Edai dalam wawancara virtual yang dilaksanakan pada Sabtu (1/8/2026).
Astra yang mengetahui potensi besar di Desa Kemiren lalu menambah program yang berfokus pada empat pilar yakni bidang kesehatan, lingkungan, dan pendidikan.
“Kalau sebelum kami gabung ke DSA ini, kan kami lebih fokus ke arah Desa Wisata atau lebih ke kewirausahaan dan paket wisata. Kemudian setelah kami gabung atau menjadi desa binaan Astra jadi DSA Kemiren, ada empat bidang program dari Astra mulai dari kesehatan, kemudian pendidikan, lingkungan dan kewirausahaan,” terang Edai.
Empat Pilar Program Unggulan Desa Kemiren
Setelah menjadi desa binaan Astra, Desa Kemiren akhirnya menambah fokusnya pada empat program tersebut. Misalnya untuk bidang lingkungan, Desa Kemiren membentuk kelompok terkait pemilahan sampah plastik hingga pembuatan pupuk organik.
Untuk bidang kesehatan, program DSA juga menggandeng ibu-ibu kader terkait program Posyandu yang dilaksanakan di Desa Kemiren.
Sementara itu di bidang pendidikan, Desa Kemiren menggandeng tingkat TK, PAUD, untuk mendapatkan dukungan berupa sarana dan prasarana.
“Kemudian yang terakhir di pendidikan di tingkat TK dan PAUD, itu juga diberikan oleh Astra terkait sarana prasarana. Inipun ada tambahan mungkin di tingkat SD, tapi masih proses,” jelasnya.
Edai mengungkapkan bahwa dari keempat program yang selama ini dijalani, program kewirusahaan yang paling berdampak dan memberikan hasil maksimal pada Desa Kemiren.
“Untuk program yang dari DSA Kemiren yang paling dirasakan mungkin yang pertama terkait kewirausahaan, karena kami sudah fokus atau prioritas kami di awal di bidang kewirausahaan, terutama di desa wisata fokus di bidang budaya, ya salah satunya di situ di bidang kewirausahaan yang paling berdampak,” ujar Edai.
Peran Penting Astra Mendorong Kemiren Menembus Kancah Internasional
Edai menuturkan bahwa di balik kesukesan Desa Kemiren di kancah internasional itu tak lepas dari dukungan penuh Astra yang menyediakan pendanaan serta sarana dan prasana untuk setiap kegiatan di Desa Kemiren.
“Dengan adanya Astra bisa menambah cara untuk terkait hal pendanaan ya, khususnya untuk pengadaan sarana dan prasarana atau mungkin peningkatan sumber daya manusia (SDM) yang ada di Kemiren” tuturnya.
Edai juga merasakan langsung dukungan yang diberikan Astra yakni saat ia menjadi delegasi untuk menghadiri ASEAN Tourism Award di Malaysia.
“Contoh kecil ketika kemarin kami masuk ke ASEAN Tourism Award, kami kebetulan mendapatkan penghargaan di bidang homestay tingkat ASEAN. Astra membantu kami untuk mengirimkan delegasi ke Malaysia. Jadi pembiayaan itu ditanggung oleh Astra, yang berangkat itu saya, “ kata Edai.
Edai menyadari bahwa Desa Kemiren memang memiliki keterbatasan dalam pembiayaan terutama untuk menghadiri forum-forum internasional.
Tantangan dalam Mengembangkan Desa Bersama Program DSA
Saat menjalani program DSA ini, Edai tak menampik bahwa dirinya sebagai penggerak turut menjumpai tantangan yang cukup berarti.
Ia mengaku masih dalam tahap penyesuaian dengan program DSA karena program tersebut masih tergolong baru. Edai bahkan sempat merasa tertinggal dengan grup di desa lainnya yang sudah lebih dulu bergabung.
Akan tetapi hal tersebut tidak menjadi halangan bagi Edai. Ia terus belajar dan berproses hingga akhirnya sedikit demi sedikit ia bisa mengikuti alurnya.
“Akhirnya saya mulai menyesuaikan ‘oh saya harus seperti ini’ kami harus mengirimkan data dan lain sebagainya, nah itu kan butuh penyesuaian. Dan itu juga tidak langsung bisa memiliki hubungan yang langsung pas di grup terutama, jadi itu butuh penyesuaian yang cukup panjang,” kata Edai.
Selain adaptasi dengan program yang baru, Edai juga menemui tantangan terkait izin masyarakat sekitar untuk menggunakan lahan pribadi mereka saat ada kegiatan tertentu.
“Terkait pengembangan di Kemiren ini kan karena memang beberapa lahan untuk kegiatan usaha ataupun kegiatan bidang yang lainnya, ini ada beberapa yang memang milik pribadi masyarakat, jadi masih butuh penyesuaian yang ada di Desa Kemiren,” terangnya.
Menjaga Budaya Lokal, Kunci Desa Kemiren Mendunia
Edai menuturkan bahwa alasan mengapa Desa Kemiren bisa dikenal luas hingga kancah internasional itu disebabkan karena warga desa tetap menjaga budaya lokal yang ada di daerahnya.
Dengan mempertahankan budaya dan orisinalitas, Desa Kemiren menjadi magnet bagi para peneliti dan wisatawan untuk datang berkunjung.
“Semakin orisinal, semakin kuat budaya yang ada di tempat kami, otomatis banyak media bahkan mungkin beberapa perguruan tinggi yang menjadikan Kemiren sebagai objek penelitian atau mungkin tempat kunjungan, dari situ pengaruhnya sangat besar terhadap Desa Kemiren,” tutur Edai.
Daya tarik Desa Kemiren yang mempertahankan budaya lokal itu terbukti menarik minat wisatawan mancanegara. Seperti belum lama ini saat ada wisatawan asal Chile yang ingin mempelajari musik khas di Desa Kemiren.
“Contoh kebetulan saya juga ada tamu dari Chile, wisatawan mancanegara. Dia tinggal di Kemiren selama empat hari di sini ternyata dia itu salah satu guru di Amerika ngajar musik, kebetulan kemarin sempat belajar ke Solo untuk belajar Gamelan Solo, akhirnya dia datang ke Kemiren untuk mempelajari musik yang ada di Banyuwangi,” kata Edai.
Para wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Desa Kemiren banyak mengetahui informasi desa tersebut melalui internet. Edai bahkan mengatakan bahwa salah satu wisatawan asal Prancis, mendapatkan nomor WhatsApp-nya melalui ChatGPT.
“Ketika saya tanya dapat nomor saya dari mana, ternyata dia dapat di ChatGPT, dia tanya di area Banyuwangi kalau ingin ke tempat desa wisata atau mungkin suku aslinya, nah di ChatGPT, itu muncul rekomendasi Desa Kemiren,” ujar Edai.
Selain itu, rekomendasi dari para akademisi hingga media juga membuat Desa Kemiren semakin dikenal.
Kebanggaan Melihat Desa Kemiren Terkenal di Tingkat Dunia
Salah satu yang membuat Edai bangga desanya menjadi salah satu desa wisata yang dikenal luas adalah karena luas desanya yang sebenarnya tak seberapa besar, namun ternyata memiliki potensi yang luar biasa.
“Yang membuat saya bangga yang pertama karena ya desa saya juga tidak terlalu luas, mungkin kami juga bisa membuktikan bahwasannya di desa itu juga memiliki potensi yang cukup luar biasa,” ujarnya.
Untuk ke depannya, semoga saja akan ada banyak desa-desa lainnya yang turut memiliki potensi yang bisa dikembangkan seperti Desa Kemiren.
Baca Juga
-
No Na Rilis Single Honk! Tampilkan Kearifan Lokal Indonesia, Ada Om Telolet Om!
-
5 Film dan Serial Netflix Agustus 2026, Komedi hingga Horor
-
Film Animasi Venom Resmi Dikembangkan, Digarap Sutradara Final Destination: Bloodlines
-
Maling Ayam Dikeroyok hingga Tewas, Mengapa Koruptor Tak Diperlakukan Sama?
-
Jumanji: Open World Rilis Trailer Perdana, Dwayne Johnson Cs Kembali
Artikel Terkait
-
Mengenal Desa Kemiren: Menjaga Budaya Osing Bersama Desa Sejahtera Astra
-
Tumbuh Tanpa Kehilangan Akar: Desa Kemiren dan Jalan Panjang Merawat Budaya Osing
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Mahasiswa UGM Terangi Jalan Gelap Banyuwangi, Hadirkan Energi Bersih dan Ekonomi Sirkular
-
Batik Ciprat Buka Harapan Baru bagi Penyandang Disabilitas di Banyuwangi
Kolom
-
17 Agustus dan Dilema Mengibarkan Bendera: Apakah Kita Benar-benar Merdeka?
-
Dari Contekan ke Korupsi: Benang Merah yang Sering Kita Abaikan
-
Belajar dari Kerja Praktik: Coding Terbaik Adalah yang Mampu Menyelesaikan Masalah Nyata
-
Mengenal Desa Kemiren: Menjaga Budaya Osing Bersama Desa Sejahtera Astra
-
Tumbuh Tanpa Kehilangan Akar: Desa Kemiren dan Jalan Panjang Merawat Budaya Osing
Terkini
-
4 Pembalap MotoGP Ini Tampil di Luar Prediksi pada Paruh Pertama Musim 2026
-
9 Karakter Anime dengan Kisah Masa Lalu Paling Kelam, Ada Akaza hingga Guts
-
Minky Momo Rilis OVA Baru, Soroti Kekuatan Mimpi dan Harapan di Era Digital
-
Keajaiban Membaca dalam When You Love a Book Karya Kaz Windness
-
4 Body Lotion Ringan dan Menyejukkan, Penyelamat Saat Cuaca Terik!