Hayuning Ratri Hapsari | Dini Sukmaningtyas
Ilustrasi belanja online (magnific)
Dini Sukmaningtyas

Belanja di online shop kini sudah jadi bagian dari keseharian banyak orang. Tinggal scroll di media sosial atau marketplace, kita bisa menemukan berbagai produk dan membelinya hanya dalam hitungan detik tanpa harus repot-repot keluar rumah.

Kemudian, hanya dalam hitungan hari, bahkan hitungan jam, barang tersebut akan sampai di tangan kita. Kemudahan inilah yang membuat online shopping semakin digemari.

Namun, sebagai calon pembeli, saya sering menemukan satu hal yang lumayan mengganggu di tengah kemudahan itu, yakni ketika informasi harga produk tidak langsung ditampilkan.

Alih-alih mencantumkan harga di postingan, banyak penjual justru meminta calon pembeli untuk “cek DM” (Direct Message) terlebih dahulu. Hal ini cukup sering terjadi, terutama di media sosial seperti Instagram dan Facebook.

Jujur saja, sebagai calon pembeli, hal sederhana seperti ini bisa memengaruhi keputusan untuk melanjutkan pembelian atau tidak. Bukan karena tidak tertarik dengan produknya, tetapi karena prosesnya terasa lebih ribet dan tidak praktis.

Belanja online pada dasarnya diciptakan untuk mempermudah kehidupan. Calon pembeli seharusnya bisa langsung mendapatkan informasi lengkap hanya dari satu postingan.

Sebagai calon pembeli, saya sering merasa proses "cek DM" ini kurang efisien. Misalnya, ketika saya sedang membandingkan produk dari toko yang berbeda, saya harus membuka satu per satu percakapan hanya untuk mengetahui harga. Pada akhirnya, saya memilih untuk berhenti di tengah jalan dan mencari toko lain yang lebih transparan.

Transparansi Harga dan Dampaknya ke Kepercayaan Pembeli

Saya sebenarnya bisa memahami bahwa mungkin ada alasan tertentu di balik budaya "cek DM". Dari sisi penjual, cara ini mungkin dianggap sebagai strategi untuk membuka percakapan dengan calon pembeli.

Ada juga yang mungkin ingin menghindari perbandingan harga langsung dengan kompetitor di kolom komentar, atau memberikan ruang negosiasi secara pribadi.

Namun di sisi lain, sebagai pembeli, transparansi justru sangat penting. Harga adalah informasi dasar yang biasanya menjadi pertimbangan utama sebelum seseorang memutuskan untuk membeli sebuah barang.

Jadi, ketika informasi ini disembunyikan, rasa percaya bisa sedikit berkurang, meskipun produk yang ditawarkan sebenarnya menarik.

Di Era Serba Cepat, “Cek DM” Sudah Tidak Relevan

Banyak online shop berlomba-lomba menggunakan fitur-fitur tertentu agar belanja semakin praktis. Ada fitur checkout cepat, pembayaran instan, sampai pengiriman dalam hitungan jam.

Tapi, di saat yang sama, masih ada yang membuat calon pembeli harus DM dulu hanya untuk mengetahui harga barang.

Menurut saya, fungsi DM sebenarnya lebih cocok digunakan untuk tahap lanjutan, bukan untuk hal-hal dasar seperti bertanya soal informasi harga. DM bisa digunakan untuk membahas detail pesanan, alamat pengiriman, atau hal-hal yang sifatnya lebih personal antara penjual dan pembeli.

Sementara itu, harga seharusnya bisa langsung dilihat sejak awal. Dengan begitu, calon pembeli bisa lebih cepat melakukan screening dan mengambil keputusan tanpa harus melewati proses tambahan yang rumit. Hal ini juga sebenarnya menguntungkan penjual karena tidak perlu menjawab pertanyaan yang sama berulang kali di DM.

Kalau dipikir-pikir, semakin mudah informasi diakses, semakin besar kemungkinan seseorang untuk tertarik membeli. Sebaliknya, semakin banyak langkah tambahan yang harus dilewati, semakin besar juga peluang calon pembeli untuk kabur.

Oleh karena itu, budaya “cek DM” menurut saya tidak relevan di dunia yang serba cepat. Justru di era digital seperti sekarang, keterbukaan bisa menjadi nilai lebih yang membuat sebuah toko lebih dipercaya.