Lintang Siltya Utami | Dini Sukmaningtyas
Ilustrasi perempuan (magnific)
Dini Sukmaningtyas

Kita sering mendengar istilah "beauty with brain" untuk menggambarkan perempuan yang dianggap memiliki kecantikan sekaligus kecerdasan, tetapi hampir tidak pernah mendengar istilah "handsome with brain" untuk laki-laki.

Perbedaan ini mungkin terlihat sepele, tetapi sebenarnya ini menunjukkan cara masyarakat membangun standar yang berbeda terhadap perempuan dan laki-laki.

Di satu sisi, istilah "beauty with brain" memang terdengar seperti sebuah pujian. Label ini digunakan untuk mengapresiasi perempuan yang dianggap tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki wawasan, pendidikan, dan prestasi.

Namun, di sisi lain, mengapa kecerdasan perempuan masih perlu ditegaskan melalui sebuah label khusus? Mengapa menjadi cantik dan pintar seolah menjadi kombinasi yang dianggap istimewa?

Label yang Mengungkap Cara Masyarakat Melihat Perempuan

Jika ditelusuri lebih jauh, kemunculan istilah "beauty with brain" tidak hanya berkaitan dengan cara seseorang memberikan pujian. Istilah ini juga mencerminkan bagaimana masyarakat selama ini membentuk gambaran ideal tentang perempuan.

Perempuan sering kali dinilai melalui lebih banyak aspek secara bersamaan. Mereka tidak hanya diharapkan memiliki kemampuan dan pencapaian, tetapi juga dituntut untuk memenuhi standar tertentu dalam hal penampilan.

Sementara itu, laki-laki lebih sering dinilai berdasarkan kompetensi, keberhasilan, atau kemampuan yang mereka miliki tanpa perlu dikaitkan dengan penampilan fisik.

Masalahnya, istilah "beauty with brain" secara tidak langsung menunjukkan bahwa kecantikan dan kecerdasan perempuan masih sering ditempatkan sebagai dua hal yang terpisah, seolah-olah perempuan biasanya hanya dikaitkan dengan penampilan, sementara kemampuan berpikir, wawasan, dan prestasi menjadi nilai tambahan yang membuat mereka lebih menonjol.

Padahal, kecerdasan bukanlah kualitas luar biasa yang harus dirayakan sebagai pengecualian ketika dimiliki oleh perempuan.

Berbeda dengan perempuan, laki-laki cenderung tidak menghadapi tuntutan yang sama. Seorang laki-laki yang sukses, berpendidikan, atau memiliki kemampuan tertentu biasanya cukup diapresiasi melalui pencapaiannya. Penampilan fisik memang bisa menjadi nilai tambah, tetapi jarang menjadi bagian utama dari bagaimana masyarakat mendefinisikan kualitas dirinya.

Hal ini menunjukkan bahwa sebuah istilah tidak muncul begitu saja. Ada nilai sosial yang membentuk mengapa suatu label lebih sering diberikan kepada kelompok tertentu.

Ketika Pujian Membawa Ekspektasi Tersembunyi

Tidak semua penggunaan istilah "beauty with brain" memiliki maksud negatif. Banyak orang menggunakannya dengan niat tulus untuk menghargai perempuan yang memiliki kemampuan dan pencapaian.

Dalam banyak konteks, istilah ini menjadi bentuk apresiasi terhadap perempuan yang berhasil menunjukkan bahwa mereka tidak hanya memiliki daya tarik, tetapi juga kapasitas intelektual.

Namun, sebuah pujian tetap dapat memiliki makna yang lebih kompleks daripada sekadar niat orang yang mengucapkannya. Terkadang, bahasa yang terlihat positif justru dapat memperlihatkan ekspektasi tertentu yang sudah lama berkembang di masyarakat.

Ketika seorang perempuan dipuji karena "cantik sekaligus pintar", ada kemungkinan muncul pesan tersirat bahwa kedua hal tersebut adalah kombinasi yang tidak biasa. Padahal, perempuan tidak seharusnya dianggap istimewa hanya karena mampu memenuhi dua standar yang sejak awal memang tidak perlu dipisahkan.

Menghargai Perempuan Tanpa Terjebak dalam Label

Setiap orang memiliki cara berbeda dalam memberikan apresiasi, dan tidak semua pujian memiliki tujuan untuk merendahkan. Namun, penting bagi kita untuk memahami konteks di balik sebuah istilah.

Perempuan memiliki banyak identitas yang tidak bisa dirangkum hanya melalui dua kata. Mereka dapat menjadi cerdas, kreatif, berani, pekerja keras, penuh empati, dan memiliki berbagai kualitas lain tanpa harus selalu dikaitkan dengan penampilan fisik.

Mungkin tantangan terbesar kita bukan mencari istilah baru untuk menggantikan "beauty with brain", melainkan mengubah cara kita memberikan penghargaan.

Seorang perempuan yang berprestasi tidak perlu disebut luar biasa hanya karena ia juga memiliki penampilan menarik. Prestasinya sudah cukup menjadi alasan untuk dihargai.