Tahun ini perhelatan Piala Dunia sepak bola, kembali digelar di tanah Amerika Utara. Kali ini tiga negara yang jadi tuan rumah bersama untuk itu, Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.
Sebelumnya pada tahun 1994, Piala Dunia digelar di Amerika Serikat, yang kemudian dimenangi oleh Brasil. Saat itu mereka tercatat telah memenanginya sebanyak empat kali. Baru tahun 2002, Brasil berhasil meraih penta, atau gelar kelima Piala Dunia.
Pada tahun 1994 inilah saya mulai mengikuti kompetisi Piala Dunia sepak bola secara full. Biasanya di tahun-tahun sebelumnya, saya hanya nonton finalnya saja, tanpa mengikuti kompetisi sejak awal dari fase grup.
Waktu tahun 1994 itu, tantangannya berat karena perbedaan waktu yang jauh dengan Amerika Serikat. Kita di Indonesia harus rela begadang tengah malam sampai subuh demi menonton pertandingan demi pertandingan. Tapi dari situlah keasyikan menonton bola mulai tertanam, terutama melihat bagaimana tim-tim besar saling sikut sejak babak penyisihan grup.
Ada hal yang unik sebenarnya terkait performa tim-tim Amerika Latin di Piala Dunia.
Negara-negara Amerika Latin yang pernah memenangi Piala Dunia ada tiga, yaitu Brasil (5 gelar), Argentina (3 gelar), dan Uruguay (2 gelar).
Kalau kita lihat Uruguay, mereka memang punya sejarah besar di masa lalu dengan dua gelar juara. Tapi kalau bicara peta persaingan modern sekarang, rasanya agak sulit mengharapkan Uruguay melangkah sampai ke final. Praktis, tumpuan utama benua Amerika Latin dalam beberapa dekade terakhir ya hanya ada di pundak Brasil dan Argentina saja.
Jika dibandingkan dengan negara-negara Eropa yang pernah juara Piala Dunia, maka Amerika Latin masih kalah dalam jumlah negara dan gelar.
Jerman (4 gelar), Italia (4 gelar), Prancis (2 gelar), Inggris (1 gelar), Spanyol (1 gelar). Artinya Amerika Latin masih kalah 2 gelar dan 2 negara.
Dominasi Eropa ini memang tidak bisa dipungkiri. Mereka punya keunggulan karena liga-liga domestik mereka di sana dikelola dengan sangat profesional. Ditambah lagi, secara fisik dan kedisiplinan taktik, tim-tim Eropa seringkali merepotkan tim dari benua lain yang lebih mengandalkan bakat alam dan teknik individu.
Hal unik lain lagi adalah, performa tim Brasil dan Argentina.
Setelah Piala Jules Rimet dimenangi oleh Brasil untuk ke-3 kalinya, dan piala tersebut boleh dibawa pulang oleh Brasil, dan kemudian diganti Piala Dunia yang sekarang, boleh dikata negara peraih gelar terbanyak di Amerika Latin, adalah Argentina dengan tiga gelar. Sementara, Brasil baru dua gelar untuk Piala Dunia paska Jules Rimet.
Biasanya, jika performa Brasil tidak maksimal, jika Piala Dunia diselenggarakan di Benua Amerika, maka Argentina yang menjuarai Piala Dunia—pengecualian untuk Piala Dunia 2014, yang digelar di Brasil, dan dimenangi oleh Jerman.
Piala Dunia 1978, 1986, dimenangi oleh Argentina karena Brasil sudah terlebih dahulu tersingkir di perempat final.
Piala Dunia 1994 dimenangi oleh Brasil, setelah Argentina tersingkir di Babak Kedua setelah Maradona didiskualifikasi akibat terbukti menggunakan doping.
Piala Dunia 2002 dan 2022 adalah dua piala dunia yang dimenangi oleh dua negara Amerika Latin tersebut, tetapi diselenggarakan di benua Asia. 2002 diselenggarakan oleh Korea Selatan dan Jepang, 2022 diselenggarakan oleh Qatar.
Melihat pola tempat penyelenggaraan ini, ada mitos atau mungkin fakta tak tertulis kalau faktor lapangan dan cuaca ikut berpengaruh. Tim-tim Amerika Latin biasanya lebih cepat beradaptasi jika turnamen digelar di luar benua Eropa yang dingin.
Bagaimana dengan Piala Dunia yang sekarang?
Yang jelas saat ini, secara performa, Argentina sangat luar biasa. Khususnya Lionel Messi yang sudah memecahkan rekor 16 gol Miroslav Klose.
Dalam pertandingan kedua timnas Argentina lawan Austria, Messi mencetak dua gol, yang melampaui raihan Klose. Dengan 18 gol, maka Messi menjadi pencetak gol terbanyak di Piala Dunia sepanjang masa.
Pencapaian luar biasa dari Messi ini tentu membuat mental seluruh tim Argentina semakin naik. Rekor individu ini sekaligus membuktikan bahwa di usia yang tidak muda lagi, magis dan ketajaman Messi di depan gawang lawan belum habis. Dia masih menjadi momok yang sangat menakutkan bagi lini pertahanan tim mana pun.
Bagaimana dengan Brasil? Sepertinya Piala Dunia kali ini, Brasil masih butuh menentukan strategi yang tepat untuk memenangi pertandingan.
Pemain bintang banyak di Brasil, tapi persoalannya tak ada yang bisa menyatukan semua pemain dengan skill tinggi tersebut untuk memenangi pertandingan dan Piala Dunia.
Kadang-kadang, ego para pemain bintang di tim Brasil ini terlalu besar. Mereka semua ingin pamer kemampuan individu, tapi lupa kalau sepak bola adalah permainan tim. Tanpa ada kerja sama yang solid, skill individu yang tinggi sekalipun akan mudah diredam oleh pertahanan lawan yang bermain disiplin.
Pada Piala Dunia 1994 dan 2002 pemain yang berhasil menyatukan Brasil menjadi satu tim yang punya semangat untuk menjuarai Piala Dunia adalah Romario (1994) dan Ronaldo (2002).
Hal yang sama mungkin juga berlaku untuk Argentina, 1978 ada Mario Kempes yang jadi pencetak gol terbanyak dengan enam gol. 1986 ada Diego Armando Maradona, sang kapten dan inspirator tim. 2022 ada Lionel Messi, yang fungsinya mungkin hampir sama dengan Maradona.
Bedanya mungkin Messi, tidak sekontroversial Maradona. Dugaan saya, jika Messi fit terus dan tidak terkena masalah apa-apa, minimal tahun ini Argentina akan melaju ke final. Gaya bermain Messi yang lebih tenang dan fokus pada permainan membuat rekan-rekan setimnya merasa nyaman dan percaya diri di lapangan.
Jadi bagaimana? Tim Amerika Latin mana yang berpeluang?
Dalam pandangan saya, tim dari benua manapun berpeluang untuk menjuarai Piala Dunia. Akan tetapi, biasanya hanya tim dari benua Eropa dan Amerika Latin yang bisa memenanginya.
Peta kekuatan sepak bola dunia memang masih berputar di dua benua ini saja. Negara-negara dari benua lain seperti Afrika atau Asia mungkin bisa membuat kejutan di babak awal, tapi untuk urusan mental juara sampai mengangkat piala di podium final, Eropa dan Amerika Latin masih belum tertandingi.
Saat ini kalau dilihat dari performa dan mental juara, maka untuk Amerika Latin, negara yang berpeluang hanya Argentina. Sementara untuk Eropa, negara yang berpeluang, saya urutkan dari yang paling berpeluang, yaitu Prancis, Jerman, dan Spanyol. Kita lihat saja nanti, apakah dominasi Eropa ini bisa dipatahkan oleh momentum emas milik Messi dan Argentina di Amerika Utara.
Baca Juga
-
Hat-trick Messi di Piala Dunia 2026, Batas Cristiano, dan Mitos Maradona
-
Budiman Sudjatmiko dan Mahasiswa: Siapa yang Gagal Berdialog?
-
Mengapa Revolusi Tidak Lahir dari Tagar
-
Mengapa Tuduhan Amien Rais soal Teddy Mudah Dipercaya Publik?
-
Mengapa Menonton Film 'Pesta Babi' dan Membagikannya di Medsos Tidak Akan Mengubah Apa pun
Artikel Terkait
Kolom
-
Bedah Taktik: Mengapa Swiss vs Kanada Bakal Jadi Laga Paling Terbuka di Piala Dunia 2026?
-
Cek Harga Lewat DM: Praktik Janggal yang Bikin Calon Pembeli Kabur
-
Berdemokrasi dengan Sehat: Bicara Politik itu Hak Warga Negara
-
Benarkah Sakit Itu Tabu? Fenomena Seorang Ibu yang Tidak Boleh Sakit
-
Guru Selalu Dibilang Pahlawan, Tapi Tidak Dijadikan Prioritas Anggaran
Terkini
-
Piala Dunia 2026: Cetak Brace, Cristiano Ronaldo Panaskan Perburuan Topskor
-
Ketika Film Cerita Lila Menjadi Cerminan Luka Masa Kecil
-
Ulasan Drama Taxi Driver, Keadilan Hukum di Balik Taksi Mewah Misterius
-
Review Serial I Will Find You: Sebuah Misteri Pelarian Emosional Sang Ayah
-
Piala Dunia 2026: Momen Gol Kedua Portugal, Nuno Mendes Curi Tendangan Bebas Milik Ronaldo?