Semua Ikan di Langit karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie adalah novel yang menawarkan pengalaman membaca tidak biasa. Alih-alih mengikuti perjalanan manusia sebagai tokoh utama, cerita ini menempatkan sebuah bus Damri sebagai narator.
Bus yang sehari-hari melayani rute Dipatiukur–Leuwipanjang tersebut menjalani kehidupan sederhana hingga bertemu dengan seorang anak laki-laki misterius yang disebut “Beliau”. Di atas kepalannya terdapat seekor ikan julung-julung yang terus mengambang, menjadi awal dari perjalanan yang jauh melampaui batas kehidupan sehari-hari.
Pada mulanya, “Saya” hanyalah bus kota yang menjalankan tugasnya mengantar penumpang. Rutinitas tersebut berubah ketika kehadiran “Beliau” membuat bus itu memasuki jalur yang tidak pernah dibayangkannya.
Perjalanan mereka tidak sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi menembus berbagai zaman dan ruang. Masa lampau, masa depan, bahkan wilayah di luar bumi menjadi bagian dari petualangan mereka. Perjalanan tersebut kemudian berkembang menjadi pengalaman yang sarat dengan pertanyaan mengenai kehidupan, manusia, dan sesuatu yang jauh lebih besar daripada diri sendiri.
Salah satu daya tarik novel ini terletak pada karakter-karakternya yang tidak lazim. Ada Bastet, seekor kucing yang berasal dari sebuah kamar penuh kekacauan sebelum akhirnya diselamatkan dan dibawa menuju padang pasir.
Ada pula Nad atau Nadezhda, kecoa dari Rusia yang pernah berada di sebuah penjara luar angkasa. Kesedihannya karena kehilangan anak-anak membuat tokoh ini terasa lebih manusiawi meskipun ia bukan manusia. Selain keduanya, pembaca juga akan bertemu dengan berbagai makhluk dan benda lain, termasuk pohon chinar, yang memperlihatkan betapa luasnya dunia imajinasi Ziggy.
Bagi saya, ini merupakan novel pertama Ziggy yang saya baca setelah cukup sering melihat namanya muncul dalam pembicaraan dan ulasan buku di media sosial. Kesan pertama saya justru cukup membingungkan. Saya membutuhkan waktu untuk memahami arah cerita dan menerima cara Ziggy menyusun dunianya yang terasa ganjil sekaligus unik.
Namun, setelah berhasil melewati bagian pertengahan, rasa bingung tersebut perlahan berubah menjadi kekaguman. Saya mulai menyadari betapa liar dan luasnya imajinasi yang dimiliki Ziggy, terutama dalam menggabungkan hal-hal yang tampaknya tidak berhubungan menjadi sebuah cerita.
Dengan ketebalan sekitar 220 halaman, novel ini sebenarnya relatif singkat untuk sebuah cerita yang membawa pembaca melintasi begitu banyak tempat dan dimensi. Namun, jumlah halaman yang tidak banyak bukan berarti bukunya mudah dituntaskan. Justru konsep dan gaya penceritaannya menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Saya harus lebih sabar dalam membaca dan tidak terburu-buru mencari penjelasan dari setiap kejadian yang muncul.
Di balik keanehannya, Semua Ikan di Langit menyimpan gagasan mengenai kasih sayang yang tidak selalu membutuhkan balasan. Relasi antartokohnya memperlihatkan bahwa mencintai juga berarti bersedia hadir dan menemani tanpa banyak tuntutan. Perjalanan “Saya” bersama “Beliau” juga dapat dimaknai sebagai pencarian manusia terhadap tujuan hidup dan sesuatu yang lebih agung daripada dirinya sendiri.
Penggunaan benda mati dan hewan sebagai tokoh utama membuat cerita ini semakin menarik karena mengajak pembaca melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Kita diajak memahami bahwa rasa kehilangan, kesetiaan, kasih sayang, dan harapan tidak hanya relevan ketika dibicarakan melalui pengalaman manusia.
Pada akhirnya, bus “Saya” tetap menemani “Beliau” hingga perjalanan mereka mencapai penghujung dunia. Dari sana, novel ini meninggalkan kesan bahwa cinta tidak selalu hadir melalui percakapan panjang atau tindakan besar.
Terkadang, ketulusan justru terlihat dari kesediaan untuk tetap berada di sisi seseorang dalam diam. Semua Ikan di Langit mungkin membutuhkan kesabaran untuk dipahami, tetapi bagi saya, justru keunikannya itulah yang membuat novel ini layak untuk diselami.
Identitas Buku
Judul: Semua Ikan di Langit (Edisi Revisi)
Penulis: Ziggy Zeszyazeoviennazabrizkie
Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9786023758067
Baca Juga
-
Memoar Seorang Geisha: Mengungkap Kehidupan Geisha Sebelum Perang Dunia II
-
Moga Bunda Disayang Allah: Kisah Haru tentang Kasih Sayang dan Perjuangan
-
Tokyo Schoolgirl Karya Osamu Dazai: Potret Kecemasan Remaja yang Mengusik
-
Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak: Perlawanan Perempuan di Tengah Sunyinya Sumba
-
Ketika Lomba 17-an Kehilangan Peserta: Apakah Indonesia Sedang Memasuki Era Krisis Anak?
Artikel Terkait
-
Memoar Seorang Geisha: Mengungkap Kehidupan Geisha Sebelum Perang Dunia II
-
Dikurung sebab Berbahaya, Dicintai sebab Berbeda: Juliette dalam Shatter Me
-
Moga Bunda Disayang Allah: Kisah Haru tentang Kasih Sayang dan Perjuangan
-
Tokyo Schoolgirl Karya Osamu Dazai: Potret Kecemasan Remaja yang Mengusik
-
Paris, Luka, dan Kesempatan Kedua dalam Satu Musim Panas di Paris
Ulasan
-
Review The Price of Confession: Kisah Misteri Gelap Penjara Korea Selatan!
-
Memoar Seorang Geisha: Mengungkap Kehidupan Geisha Sebelum Perang Dunia II
-
Keindahan Haji dalam Buku Bergambar Zamzam for Everyone
-
Review Film The Ribbon Hero: Dongeng Klasik Tezuka dalam Balutan Modernitas
-
Dikurung sebab Berbahaya, Dicintai sebab Berbeda: Juliette dalam Shatter Me
Terkini
-
Ijazah Makin Tinggi, Kerja Layak Makin Langka: Siapa yang Gagal?
-
Bukan Selalu Tone Deaf, Bisa Jadi Standar Kita yang Sudah Berbeda
-
5 Sampo Khusus Rambut Berwarna Biar Awet dan Tahan Lama
-
Real Cewek Manis, Intip 5 Ide Outfit Girly dan Simpel ala Chae SooBin!
-
Sprint Race MotoGP Inggris 2026: Aprilia Tampil Dominan, Ducati Kesulitan