Sekar Anindyah Lamase | Ukhro Wiyah
Ilustrasi Paylater (magnific/pikisuperstar)
Ukhro Wiyah

Saat produk incaran lagi diskon besar, tapi tanggal gajian masih lama, pernahkah Sobat Yoursay tergoda untuk menggunakan paylater?

Di era digital ini, berutang semakin mudah dilakukan. Jika dulu seseorang harus melewati proses yang cukup panjang untuk meminjam uang, kini hanya dengan beberapa klik saja, seseorang bahkan bisa membawa pulang barang yang diinginkan tanpa perlu memiliki uang yang cukup saat itu juga.

Kalimat “Beli sekarang, bayar belakangan.” semakin akrab terdengar di kalangan anak muda. Paylater dan pinjaman online seolah sudah menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari. Di titik ini, saya rasa ada pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama: apakah ini benar-benar kemudahan, atau justru jebakan yang dikemas secara modern?

Sebelum hadirnya fitur paylater dan berbagai aplikasi pinjaman online, seseorang yang ingin berutang harus melalui proses yang relatif lebih panjang, baik melalui koperasi maupun meminjam kepada keluarga atau kerabat. Kini, cukup dengan beberapa klik di ponsel, kredit bisa diakses dalam hitungan menit.

Berbicara tentang aplikasi pinjaman online dan fitur paylater, tidak mengherankan jika anak muda menjadi salah satu kelompok pengguna yang banyak disasar. Mereka bukan hanya aktif berbelanja online, tetapi juga terpapar tren media sosial, mudah mengalami FOMO, serta terdorong mengikuti gaya hidup tertentu dan berbagai tekanan sosial yang mendorong konsumsi.

Anak muda dengan budget pas-pasan, tetapi ingin mengikuti gaya sosialita akhirnya gampang sekali terjebak dalam lingkaran utang. Mereka memanfaatkan utang untuk memenuhi “kebutuhan” yang tidak benar-benar mendesak dan membayar cicilan untuk kebutuhan gaya hidup. Utang yang seharusnya bisa digunakan untuk sesuatu yang lebih produktif—sebagai modal usaha, misalnya—malah berakhir jadi utang konsumtif.

Sesuai dengan iklan aplikasi pinjaman online yang mungkin pernah kita jumpai, mereka membawa janji untuk memenuhi kebutuhan mendesak kita secara instan. Namun masalahnya, terkadang definisi “mendesak” ini bergeser.

Tidak semua orang benar-benar memanfaatkan pinjol untuk sesuatu yang sifatnya darurat. Dalam iklannya, kemudahan sering kali lebih ditonjolkan daripada risikonya. Hal inilah yang membuat tidak sedikit orang akhirnya tergoda hingga terjebak dalam siklus utang.

Memang, saya akui tidak semua paylater dan pinjol itu buruk. Kemudahan yang ditawarkan bisa membantu dalam kondisi darurat atau kebutuhan tertentu. Yang saya persoalkan di sini bukan tentang teknologinya, tetapi pada penggunaannya. Sebab meskipun mudah, tetap ada risiko yang perlu dipahami sebelum seseorang memilih menggunakan paylater atau pinjaman online.

Tanpa literasi keuangan yang baik, paylater dan pinjol bisa menjadi bentuk “penjajahan” baru, khususnya bagi anak-anak muda. Bukan penjajahan seperti di mata pelajaran sejarah yang dulu kita pelajari, melainkan potensi ketergantungan secara finansial.

Seperti sebuah ungkapan yang sering kita dengar: gali lubang, tutup lubang. Orang yang berutang sangat rawan terjebak dalam siklus yang sama. Mereka membayar utang lama dengan utang baru dan begitu seterusnya. Akibatnya, utang tidak kunjung terlunasi.

Selain itu, ada pula ungkapan yang menyatakan bahwa orang yang berutang itu layaknya membeli masa depan dengan harga hari ini. Di sini, kita ambil contoh sederhana.

Misalnya, si A membeli ponsel keluaran baru seharga Rp20.000.000 dengan paylater. Ia membayar dengan gaji bulanannya.

Hal ini membuat si A harus memikirkan cicilan selama beberapa bulan ke depan. Penghasilan yang ia miliki di masa depan “habis” untuk membayar keputusannya di masa lalu. Jika hanya satu cicilan, mungkin masih bisa diselesaikan dalam beberapa bulan, tetapi jika lebih akibatnya kebebasan finansial pun menjadi semakin sempit karena cicilan yang menumpuk.

Oleh karena itu, di sini kita perlu menyadari bahwa kemudahan finansial yang ditawarkan oleh paylater dan aplikasi pinjaman online datang bersamaan dengan tanggung jawab dan risiko yang harus ditanggung penggunanya. Berkaitan dengan utang, mungkin satu pertanyaan ini perlu kita renungkan sebelum mengambil keputusan: ketika sebagian pendapatan kita harus terus digunakan untuk membayar masa lalu, seberapa bebas sebenarnya kondisi keuangan kita hari ini?