“Kita tak pernah tahu, terkadang di balik senyum seseorang ada luka yang dia sembunyikan. Di balik kebahagiaan seseorang hari ini, ada perjuangan berat di masa lalunya yang tak diketahui orang lain.”
Mungkin kalimat itulah yang cocok menggambarkan sosok Aurelie Moeremans. Sejujurnya, saya pertama kali mendengar namanya ketika ia merilis buku memoar pertamanya yang dibagikan secara gratis di media sosial. Namun, banyak orang mungkin lebih dulu mengenalnya sebagai sosok aktris cantik yang murah senyum. Sebagian lainnya mungkin hanya mengenalnya melalui layar televisi. Tidak banyak orang yang tahu masa lalunya.
Dan setelah membaca memoar yang ia tulis, jujur, saya cukup terkejut. Siapa yang menyangka bahwa di masa remajanya, Aurelie pernah melewati pengalaman yang begitu berat? Pengalaman traumatis itulah yang ia ceritakan dalam buku pertamanya yang berjudul Broken Strings.
Melalui buku ini, Aurelie tidak hanya menceritakan luka yang pernah dialaminya, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sebuah hubungan yang awalnya terlihat seperti cinta perlahan dapat berubah menjadi bentuk kendali dan manipulasi.
Dalam buku Broken Strings, Aurelie mengenalkan kita dengan laki-laki bernama Bobby. Ia hadir dalam hidup sang gadis sebagai sosok yang perhatian, dekat, dan memberikan berbagai perlakuan spesial. Semua terasa realistis dan seolah tak ada yang salah dengan hubungan mereka.
Namun, semakin jauh saya membaca, rasanya semakin campur aduk. Marah, sedih, geram, prihatin, semua bercampur jadi satu. Setiap bab terasa begitu menyesakkan. Hubungan yang awalnya terlihat normal perlahan mulai menunjukkan sisi lain. Perhatian berubah menjadi tuntutan. Perasaan yang Aurelie anggap sebagai cinta perlahan bercampur dengan perasaan takut dan rasa bersalah. Pergerakannya dibatasi hingga ia kehilangan dirinya sendiri. Dan Bobby berubah menjadi laki-laki yang menakutkan, emosional, dan mulai menunjukkan sisi manipulatifnya.
Tidak ada romantisasi terhadap hubungan toxic dalam buku ini. Aurelie sebagai penulis sekaligus korban menyampaikan kisahnya sendiri dengan jujur. Tetapi menurut saya, inilah yang membuat Broken Strings menarik perhatian banyak orang. Sebab yang dia ceritakan bukan hanya kisah cintanya yang berakhir buruk, tetapi juga proses bagaimana hubungan yang awalnya tampak normal bisa berubah menjadi tidak sehat.
Lebih mirisnya lagi, semua itu terjadi di usia Aurelie yang masih sangat belia. Di masa remaja yang seharusnya menyenangkan, ia malah terjebak dalam hubungan toxic yang tidak pernah diinginkan oleh siapa pun. Saya tidak bisa membayangkan betapa tertekan, bingung, dan serba salahnya Aurelie pada saat itu. Dia yang masih belum begitu paham tentang cinta dan baru beradaptasi dengan lingkungan baru di Indonesia serta bahasa yang belum begitu familiar harus mengalami hal seperti ini.
Aurelie sendiri awalnya mengaku menulis kisah ini untuk membantu dirinya sendiri memahami semua kekacauan di masa lalunya. Namun, sang suami justru menyarankannya untuk mempublikasikannya agar bisa membantu Aurelie-Aurelie lainnya di luar sana yang mungkin sedang mengalami hal serupa dan belum menemukan jalan keluar.
Tentu, berbagi pengalaman traumatis bukan hal mudah baginya. Tetapi, kini situasi telah berubah. Jika dulu sang penulis dihakimi ketika menyampaikan ceritanya, kini ia malah memperoleh banyak empati dan dukungan dari orang-orang di luar sana. Dia juga memiliki suami yang baik dan bertanggung jawab di sisinya.
Melalui buku Broken Strings, saya seolah disadarkan bahwa hubungan yang tidak sehat ternyata tidak selalu mudah dikenali sejak awal. Sesuatu yang terlihat seperti perhatian bisa saja perlahan berubah menjadi tuntutan. Seseorang yang awalnya membuat kita merasa disayangi juga bisa menjadi orang yang membuat kita takut kehilangan diri sendiri.
Sebagai pembaca, saya merasa buku ini juga menjadi pengingat bahwa seseorang berhak mendapatkan hubungan yang membuatnya merasa aman dan dihargai. Kisah Aurelie mungkin telah menjadi bagian dari masa lalunya, tetapi keberaniannya untuk menceritakan kembali pengalaman tersebut menunjukkan bahwa luka tidak selamanya harus menjadi sesuatu yang disembunyikan. Terkadang, membagikan cerita juga bisa menjadi cara untuk membantu orang lain menemukan keberanian keluar dari luka mereka sendiri.
Baca Juga
-
Ulasan The First Responders Season 1: Kerja Sama Polisi dan Damkar di Tengah Situasi Darurat
-
Beli Barang Murah di Online Shop: Solusi Hemat atau Malah Bikin Boncos?
-
Review Confidence Queen: Ketika Penipuan Menjadi Cara Menghukum Penjahat
-
5 Rekomendasi Drakor Investigasi Beragam Profesi dengan Kasus yang Seru
-
Kepergok Ngomong Sendiri saat Berimajinasi, Pernah Mengalaminya Juga?
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ulasan Doctor Slump: Memaknai Kegagalan di Tengah Tuntutan Kesuksesan
-
Ulasan Film Toko Perlengkapan Mayat: Kisah Tragis Keluarga Tumbal Penglaris
-
Untukmu yang Akan Menikah: Pernikahan Ternyata Bukan Cuma Soal Jatuh Cinta
-
Review Bumi Manusia Extended: Versi yang Akhirnya Lebih Utuh dan Emosional
-
Chernobyl: Kisah Tragis Bencana Nuklir dan Perjuangan Mengungkap Kebenaran
Terkini
-
4 Padu Padan Outfit Stripe ala Jisoo BLACKPINK, Buat yang Suka Gaya Preppy!
-
GIIAS Ramai, Mobil Laris: Ekonomi Baik-baik Saja atau Kita Makin Timpang?
-
Pasar Modal Serok Rp125 Triliun: Pesta Raksasa yang Lupa Mengundang UMKM
-
Raup Rp19,6 T, The Odyssey Jadi Film Nolan Terlaris Sepanjang Karier
-
Pemerintah Bakal Rombak Buku Pelajaran: Seberapa Mendesak bagi Pendidikan?