Generasi Z sering kali dipersepsikan sebagai generasi yang lebih rentan terhadap tekanan dan persoalan kesehatan mental.
Istilah seperti stres, burnout, kecemasan, hingga depresi semakin sering muncul dalam percakapan sehari-hari di kalangan anak muda.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan anggapan bahwa Gen Z memiliki daya tahan mental yang lebih rendah dibandingkan generasi sebelumnya.
Namun, meningkatnya keterbukaan Gen Z dalam membicarakan kesehatan mental tidak serta-merta dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa generasi ini lebih lemah.
Menurut laporan yang diterbitkan American Psychological Association (APA), Gen Z merupakan kelompok generasi yang paling banyak melaporkan kondisi kesehatan mental yang buruk dibandingkan generasi lainnya.
Sebanyak 27% Gen Z berusia 15-21 tahun dalam survei tersebut menilai kesehatan mental mereka sebagai fair atau poor. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Millennials sebesar 15% dan Gen X sebesar 13%.
Selain itu, 37% Gen Z juga melaporkan pernah menerima perawatan atau terapi dari tenaga profesional kesehatan mental.
Tingginya laporan mengenai kesehatan mental Gen Z juga perlu dilihat dari kondisi lingkungan tempat mereka tumbuh.
Gen Z menghadapi berbagai tekanan, mulai dari tuntutan pendidikan, persoalan ekonomi, hubungan sosial, kekhawatiran terhadap masa depan, hingga berbagai persoalan sosial yang mereka saksikan setiap hari.
Gen Z lahir dan tumbuh di era digital sehingga akses terhadap informasi menjadi jauh lebih mudah dibandingkan generasi sebelumnya.
Kondisi tersebut membentuk cara mereka memperoleh informasi, berkomunikasi, dan memahami pengalaman pribadi, termasuk dalam memahami kesehatan mental.
Kemudahan akses informasi memungkinkan Gen Z memperoleh pengetahuan mengenai berbagai kondisi psikologis melalui internet dan media sosial.
Ketika mengalami perubahan emosi, tekanan, atau kesulitan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, mereka dapat mencari informasi mengenai gejala yang dirasakan secara mandiri.
Dalam beberapa kasus, proses ini dapat berkembang menjadi self-diagnosis, yaitu upaya seseorang mengidentifikasi kondisi kesehatan dirinya berdasarkan informasi yang diperoleh secara mandiri.
Meskipun demikian, kecenderungan untuk mencari informasi mengenai kondisi diri dapat menunjukkan meningkatnya kesadaran Gen Z terhadap kesehatan mental.
Bagi Gen Z terutama saya sendiri, platform digital tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai ruang untuk memperoleh pengetahuan dan berbagi pengalaman mengenai kesehatan mental.
Menurut pandangan saya, angka tersebut juga dapat mencerminkan meningkatnya kesadaran dan keterbukaan terhadap kesehatan mental. Gen Z memiliki kemampuan yang lebih besar untuk mengakses informasi, mengenali berbagai istilah terkait kesehatan mental, serta mengungkapkan kondisi yang mereka alami.
Pada akhirnya, persoalan yang perlu diperhatikan bukan hanya mengapa Gen Z lebih banyak melaporkan masalah kesehatan mental, tetapi juga mengapa generasi ini memiliki keberanian yang lebih besar untuk membicarakannya.
Jika generasi ini semakin berani mengenali dan membicarakan kesehatan mental, hal tersebut dapat dilihat bukan semata-mata sebagai kelemahan, melainkan sebagai bentuk meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan mental di tengah perubahan zaman.
Baca Juga
-
Bedah Makna Video Musik 'Masih Ada Cahaya': Saat Kegelapan Bertemu Harapan
-
Sering Diabaikan, 4 Kebiasaan Sepele Ini Bikin Laptop Cepat Rusak!
-
Gak Perlu Mahal! 5 Rekomendasi Smartwatch Berkualitas dan Ramah di Kantong
-
Ramai Bukan Berarti Aman: Mengapa Perempuan Masih Waspada di Malioboro?
-
Syahrini Kembali ke Dunia Musik, Rilis Lagu 'Kau yang Utama'
Artikel Terkait
-
Kontradiksi Era Digital: Mau Merdeka Finansial tapi Masih Pakai Paylater
-
Gen Z dan HUT ke-81 RI: Sudahkah Merdeka dari Tekanan Selalu Terlihat Sukses?
-
Memaknai Kemerdekaan di Dunia Kerja: Mengapa Gen Z Lebih Memilih 'Work-Life Balance'?
-
Mendikdasmen: Hard Skills Saja Tak Cukup, Ini Keterampilan Utama yang Wajib Dikuasai Gen Z!
-
Gen Z Fasih Bahasa Inggris, tapi Makin Asing dengan Bahasa Ibu, Mengapa?
Kolom
-
Career Break Bukan Penghalang, Mengapa Dunia Kerja Sulit Memahaminya?
-
Bebas tapi Cemas: Jebakan Hampa Usia 20-an setelah Lepas Almamater
-
Laki-Laki Tidak Boleh Nangis? Siapa Sih yang Buat Aturan Aneh Itu?
-
Membiayai Anak Bukan Lisensi untuk Menghapus Privasinya
-
GIIAS Ramai, Mobil Laris: Ekonomi Baik-baik Saja atau Kita Makin Timpang?
Terkini
-
Ketika Cinta Tak Bisa Dimiliki: Menelusuri Makna Kehilangan dalam The Zahir
-
Ulasan The Atypical Family, Fantasi Superhero dengan Pendekatan Psikologis
-
Kembangkan Literasi Digital Siswa, Dosen UNP Kediri Ciptakan Model Belajar Berbasis AR dan AI
-
Catat Tanggalnya! D.O. EXO Bakal Sapa Fans Indonesia Lewat Tur Asia Terbaru
-
Lusi Lindri: Perempuan yang Menolak Tubuhnya Menjadi Milik Takhta Mataram