Luka pertama anak perempuan sering kali berasal dari ibunya sendiri. Kalimat ini memang terdengar keras, bahkan bisa memancing penolakan. Namun, di balik kesannya yang provokatif, tersimpan ruang refleksi yang penting tentang pola pengasuhan, relasi dalam keluarga, dan bagaimana budaya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Tentu, tidak semua ibu bersikap demikian. Banyak ibu justru menjadi sumber kasih sayang, perlindungan, dan dukungan terbesar bagi anak-anaknya. Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa sebagian perempuan tumbuh dengan pengalaman menerima kritik yang lebih sering daripada apresiasi, terutama dari sosok yang paling dekat dengan mereka.
Contohnya tampak dalam kehidupan sehari-hari.
Seorang anak perempuan belajar memasak dengan penuh semangat. Ia berharap mendapat pujian atas usaha pertamanya. Yang terdengar justru, "Masakannya terlalu asin."
Ketika ia membelikan makanan untuk keluarganya, respons yang muncul bukan rasa terima kasih, melainkan, "Mama juga bisa masak yang lebih enak."
Saat ia baru saja melewati proses melahirkan, fase yang menguras tenaga, emosi, dan kesehatan. Komentar yang diterima bukan dukungan, tetapi, "Kamu sekarang gendutan. Coba perawatan."
Kalimat-kalimat seperti itu mungkin diucapkan tanpa niat menyakiti. Sebagian orang tua bahkan menganggapnya sebagai bentuk perhatian atau cara memotivasi anak agar menjadi lebih baik. Namun, psikologi perkembangan menunjukkan bahwa kritik yang terus-menerus, terutama jika tidak diimbangi dengan penghargaan, dapat memengaruhi rasa percaya diri, citra tubuh (body image), hingga kesehatan mental seseorang.
Yang membuat persoalan ini semakin kompleks adalah adanya pola yang kerap dirasakan berbeda antara anak perempuan dan anak laki-laki. Dalam banyak keluarga, anak perempuan sering kali dibesarkan dengan standar yang lebih tinggi. Mereka diharapkan pandai mengurus rumah, menjaga penampilan, bersikap sopan, dan tidak membuat malu keluarga. Kesalahan kecil mudah mendapat teguran.
Sebaliknya, anak laki-laki di sebagian keluarga justru memperoleh toleransi yang lebih besar. Bukan berarti semua anak laki-laki dimanjakan, tetapi berbagai penelitian tentang konstruksi gender menunjukkan bahwa masyarakat masih sering menerapkan standar yang berbeda terhadap anak berdasarkan jenis kelaminnya. Akibatnya, perempuan lebih sering menerima evaluasi terhadap penampilan dan perilaku, sedangkan laki-laki lebih banyak dinilai dari pencapaian atau tanggung jawabnya.
Fenomena ini bukan semata persoalan individu, melainkan warisan budaya. Banyak ibu yang hari ini tampak keras kepada anak perempuannya sebenarnya pernah mengalami pola pengasuhan yang sama ketika mereka masih kecil. Mereka dibesarkan dengan kritik, dibanding-bandingkan, atau dituntut menjadi "perempuan yang sempurna". Tanpa disadari, pola itu kemudian diwariskan kembali.
Inilah yang dikenal sebagai intergenerational transmission, yaitu perpindahan pola pengasuhan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bukan karena orang tua tidak menyayangi anaknya, melainkan karena mereka mengulang cara yang dulu mereka alami.
Kabar baiknya, setiap rantai dapat diputus.
Generasi orang tua saat ini memiliki akses yang jauh lebih luas terhadap informasi mengenai pengasuhan positif, kesehatan mental, dan perkembangan anak. Semakin banyak ayah dan ibu yang mulai memahami pentingnya validasi emosi, komunikasi yang sehat, serta memberikan apresiasi terhadap usaha, bukan hanya hasil.
Bukan berarti anak tidak boleh dikritik. Kritik tetap diperlukan agar anak belajar berkembang. Namun, kritik akan jauh lebih membangun jika disampaikan dengan empati, disertai penghargaan atas usaha yang telah dilakukan. Kalimat "Masakannya enak, mungkin lain kali garamnya bisa sedikit dikurangi," tentu akan terasa berbeda dibandingkan hanya mengatakan, "Terlalu asin."
Demikian pula kepada perempuan yang baru melahirkan. Masa nifas bukan waktu yang tepat untuk mengomentari bentuk tubuhnya. Yang lebih dibutuhkan adalah dukungan emosional, bantuan mengurus bayi, dan penghargaan atas perjuangannya melewati proses persalinan.
Pada akhirnya, rumah seharusnya menjadi tempat pertama seseorang merasa diterima, bukan tempat pertama ia belajar meragukan dirinya sendiri. Anak perempuan maupun anak laki-laki sama-sama membutuhkan kasih sayang, rasa aman, dan penghargaan agar tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara emosional.
Mungkin kita tidak bisa mengubah cara generasi sebelumnya membesarkan anak. Namun, kita selalu memiliki kesempatan untuk memilih bagaimana kita akan membesarkan generasi berikutnya. Jika rantai kritik tanpa empati dapat diputus hari ini, barangkali anak-anak kelak tidak lagi mengenang rumah sebagai tempat lahirnya luka pertama, melainkan sebagai tempat mereka pertama kali belajar bahwa dirinya berharga apa adanya.
Baca Juga
-
Membaca Doorstoot naar Djokja: Menyelami Hari-Hari Paling Genting Indonesia
-
Hansel and Gretel: Dongeng Klasik yang Berubah Jadi Aksi Berdarah
-
Dapur MBG Fiktif dan Rapuhnya Pengawasan Uang Publik: Alarm Tata Kelola Negara
-
Uang dan Kerusakan Integritas: Seberapa Murah Harga Kehormatan Kita?
-
Dapur Fiktif Makan Bergizi Gratis: Ke Mana Perginya Anggaran Raksasa Negara?
Artikel Terkait
Kolom
-
Piala Dunia 2026 dan Seni Melupakan Masalah Selama 90 Menit
-
Syarat Berpenampilan Menarik di Lowongan Kerja, Bentuk Beauty Privilege?
-
AI Sudah Jadi Teman Curhat, Apa yang Dicari Gen Z dari Hubungan Digital?
-
Identik dengan Nobar, Piala Dunia 2026 Tak Nikmat Jika Ditonton Sendirian?
-
Tragedi Tebet: Ketika Fasilitas Publik Berubah Menjadi Kuburan bagi Balita Tak Berdosa
Terkini
-
Afrika Selatan Gagal, Kanada Lolos 16 Besar Siap Lawan Belanda atau Maroko?
-
Debut Sensasional, Cape Verde Jadi Tim Anomali di Ajang Piala Dunia 2026
-
Membaca Doorstoot naar Djokja: Menyelami Hari-Hari Paling Genting Indonesia
-
Harimau Galak Pensiun Jadi Penjual Kue? Intip Menggemaskannya 'Mr. Tigers Snacks'
-
Review Film 'Obsession': Terlalu Cinta Berubah Malapetaka