Hayuning Ratri Hapsari | Fairus Farizki
Rahasia Sukses Horor Indonesia (Pengabdi Setan Poster Film)
Fairus Farizki

Kenapa film horor Indonesia seperti tidak pernah kehabisan penonton? Dari “KKN di Desa Penari”, “Sewu Dino”, “Badarawuhi di Desa Penari”, “Siksa Kubur”, sampai “Vina: Sebelum 7 Hari”, genre ini berkali-kali muncul sebagai penguasa box office.

Data Badan Perfilman Indonesia (BPI) menunjukkan betapa kuatnya posisi horor. Pada 2023, film Indonesia mencatat sekitar 51 juta penonton dengan market share 61 persen. Dari 150 film yang dirilis, hanya 20 film yang berhasil memperoleh lebih dari 2 juta penonton. Menariknya, 80 persen dari 20 film tersebut merupakan film horor. Artinya, sekitar 16 film yang menembus angka tersebut berasal dari genre horor.

Pertanyaannya, apa yang membuat horor begitu mudah diterima penonton Indonesia? Salah satu jawabannya mungkin terletak pada sesuatu yang sederhana, yaitu kita sudah mengenal ketakutannya.

Penelitian Budhi Sholeh Wibowo, Farizka Rubiana, dan Budi Hartono tentang profil film sukses di box office Indonesia menemukan bahwa story familiarity atau familiaritas cerita menjadi salah satu pembeda penting antara film yang sangat sukses dan film yang sekadar berhasil. Dengan kata lain, cerita yang sudah terasa dekat dengan penonton memiliki keuntungan tersendiri.

Dalam konteks horor, familiaritas itu bisa datang dari mitos, legenda, kepercayaan, atau cerita yang sudah hidup di tengah masyarakat.

Kita sudah mengenal desa keramat, pantangan, sesajen, kuburan, dukun, benda pusaka, santet, sampai larangan keluar malam. Ketika semua itu masuk ke layar bioskop, film sebenarnya tidak perlu menjelaskan semuanya dari awal. Penonton sudah membawa imajinasi mereka sendiri.

“KKN di Desa Penari” adalah contoh yang menarik. Film tersebut tidak memperkenalkan konsep yang sepenuhnya baru. Ia mengambil cerita tentang mahasiswa, desa, pantangan, dan sosok mistis yang sebelumnya sudah ramai dibicarakan di internet. Hasilnya luar biasa. Film ini menembus lebih dari 9 juta penonton dan menjadi fenomena budaya tersendiri. Di sinilah mitos bekerja lebih jauh daripada sekadar menghadirkan hantu.

Penelitian Achmad Nur mengenai film horor Indonesia menunjukkan bahwa film dapat mereproduksi dan memantapkan mitos sebagai representasi budaya. Artinya, ketika sebuah mitos masuk ke film, ia bukan hanya digunakan untuk membuat penonton takut, tetapi juga kembali dikenalkan, dibayangkan, dan diberi makna melalui medium baru.

Penelitian tentang pengalaman penggemar film horor Indonesia juga menunjukkan bahwa kenikmatan menonton tidak hanya berasal dari rasa takut. Ada pengalaman menonton bersama, identifikasi personal, permainan emosi antara takut dan penasaran, hingga resonansi budaya yang membuat horor terasa dekat.

Jadi, formulanya kurang lebih adalah sesuatu yang sudah dikenal masyarakat diambil, diberi bentuk baru, kemudian dikemas menjadi pengalaman emosional yang bisa dinikmati bersama.

Itulah mengapa horor lokal punya modal yang kuat. Film memang tidak menjual ketakutan dari ruang kosong. Ia menjual ketakutan yang sudah punya akar dalam ingatan budaya penontonnya.

Namun, di titik ini kita juga perlu berhati-hati. Ketika mitos semakin berhasil dijadikan bahan baku industri, ia juga semakin mudah dikomodifikasi. Kepercayaan, cerita rakyat, dan kebudayaan lokal bisa berubah menjadi sekadar “jualan hantu”.

Di satu sisi, film horor membantu memperkenalkan kembali kekayaan cerita lokal kepada generasi muda. Tetapi di sisi lain, ada risiko ketika kebudayaan hanya dipertahankan sejauh ia mampu menghasilkan tiket bioskop.

Mungkin itulah paradoks horor Indonesia, kita datang ke bioskop untuk ditakut-takuti, tetapi yang sebenarnya sedang dijual adalah sesuatu yang sudah lama hidup di dalam ingatan kita sendiri.