Ada satu adegan yang mungkin akrab bagi banyak ibu yang bekerja dari rumah: laptop menyala, meeting online sudah dimulai, dan anak menarik-narik baju sambil merengek minta ditemani main.
Dalam hitungan detik, saya atau mungkin Anda juga, akan mengambil keputusan cepat, yaitu menyerahkan gadget. Bukan karena malas mendampingi, tapi karena tidak ada pilihan lain yang lebih cepat.
Setelah itu, biasanya muncul perasaan yang sama: bersalah.
Saya ingin jujur di sini. Isu screen time anak versus kebutuhan ibu bekerja dari rumah ini jarang dibahas secara terbuka, karena kita terlanjur terjebak pada satu narasi tunggal: "gadget itu buruk untuk anak, titik." Padahal, realitas ibu WFH jauh lebih rumit daripada sekadar hitam-putih semacam itu.
Mari kita bicara jujur soal konteksnya. WFH sering dibayangkan sebagai solusi ideal, bisa kerja sambil momong anak.
Tapi siapa pun yang pernah menjalaninya tahu, dua hal itu susah dilakukan bersamaan dengan kualitas penuh. Rapat butuh fokus. Anak butuh perhatian. Ketika keduanya bertabrakan di jam yang sama, sesuatu harus mengalah, dan sering kali yang mengalah adalah rasa tenang ibu itu sendiri.
Yang membuat saya gelisah bukan soal gadgetnya, tapi soal bagaimana kita, para ibu, diam-diam menanggung beban moral sendirian. Ada tekanan sosial mulai dari circle parenting, dari unggahan ibu lain di media sosial, dari nasihat yang terkesan ideal tapi tidak realistis, yang membuat kita merasa harus selalu bisa mendampingi anak tanpa layar, sambil tetap produktif secara profesional.
Dua standar tinggi tersebut dibebankan bersamaan, seolah kita punya waktu 30 jam sehari.
Pertanyaannya, apakah rasa bersalah ini sebanding dengan solusi yang selama ini ditawarkan? Saran seperti "kurangi screen time" atau "luangkan waktu berkualitas" memang benar secara teori, tapi sering terasa jauh dari kenyataan lapangan, terutama bagi ibu tanpa asisten rumah tangga, tanpa keluarga besar yang membantu, dan dengan pekerjaan yang menuntut jam kerja ketat.
Saya rasa, alih-alih terus-menerus menghakimi diri sendiri, kita perlu solusi yang lebih jujur dan realistis. Berikut beberapa hal yang menurut saya layak dipertimbangkan, bukan sebagai resep sempurna, tapi sebagai pilihan yang lebih manusiawi.
Pertama, membedakan antara screen time pasif dan screen time terarah. Menonton video edukatif yang sesuai usia anak, atau bermain aplikasi yang melatih motorik dan kognitif, tentu berbeda dampaknya dibanding menonton konten acak tanpa henti. Kuncinya bukan menghindari gadget sepenuhnya, tapi memilih konten dengan lebih sadar, meski dalam kondisi terburu-buru sekalipun.
Kedua, menetapkan "jam padat" kerja secara realistis, lalu mengomunikasikannya, baik ke atasan, rekan kerja, maupun ke pasangan. Screen time sering menjadi solusi darurat karena tidak ada sistem dukungan lain yang jelas. Jika suami, keluarga, atau bahkan tetangga bisa diajak berbagi peran meski singkat, beban ibu tidak harus ditanggung sendirian.
Ketiga, berhenti membandingkan diri dengan standar ibu ideal di media sosial. Saya percaya, rasa bersalah yang berlebihan justru sering lahir dari perbandingan yang tidak adil, kita membandingkan proses harian kita yang penuh tekanan, dengan potongan highlight kehidupan orang lain yang belum tentu mencerminkan realita mereka sepenuhnya.
Saya tidak sedang membela gadget sebagai solusi terbaik. Saya hanya ingin mengajak kita semua untuk berhenti menghakimi diri sendiri atas pilihan-pilihan yang lahir dari keterbatasan, bukan dari kemalasan. Menjadi ibu yang bekerja dari rumah bukan berarti harus sempurna di dua dunia sekaligus.
Jadi, kalau hari ini Anda terpaksa memberi gadget agar bisa menyelesaikan pekerjaan, saya rasa itu bukan kegagalan. Itu adalah bentuk bertahan hidup yang realistis, di tengah sistem yang belum sepenuhnya ramah bagi ibu bekerja.
Pertanyaannya bukan "apakah saya ibu yang baik?", tapi "sistem seperti apa yang seharusnya mendukung saya, agar pilihan ini tidak harus terus-menerus terasa seperti dilema?"
Baca Juga
-
Sekolah Negeri Katanya Gratis, Tapi Kenapa Dompet Saya Tetap Meringis?
-
Benarkah Sakit Itu Tabu? Fenomena Seorang Ibu yang Tidak Boleh Sakit
-
Seni Menolak Keinginan Anak Tanpa Harus Bikin Dompet Emak Ikut Menangis
-
Nestapa Minyak Jelantah Hitam Pekat demi Menyelamatkan Dompet yang Sekarat
-
Mimpi Buruk Saya sebagai Ibu Rumah Tangga yang Tak Punya Jaminan Hari Tua
Artikel Terkait
-
Edukasi Pencegahan KDRT: FH UNY Gandeng 'Aisyiyah Sewon Utara Perkuat Relasi Keluarga Sakinah
-
4 Sebab Ibu Hamil yang Berencana Lahiran Normal Mendadak Harus Operasi Caesar
-
Bahaya Scroll Society: Saat Anak Muda Mahir Scrolling, Lupa Berpikir
-
Bocoran HP Agustus 2026: Ada yang Punya Kamera Robot
-
Dampak Domino AI di Depan Mata: Panduan Cerdas Beli Gadget Sebelum Harga Makin 'Gila'
Kolom
-
Rahasia Sukses Horor Indonesia: Mengapa Formula Mitos Lokal Selalu Laris?
-
Sekolah Negeri Katanya Gratis, Tapi Kenapa Dompet Saya Tetap Meringis?
-
Silent Skill Gap: Bahaya Lupa Cara Mikir Akibat AI
-
Kultur Palugada di Dunia Kerja: Bekerja Lintas Bidang, Berkarier Tanpa Arah
-
Usulan Pejabat Makan MBG: Ujian Kesetaraan dan Nyali Pemerintah Terapkan Sila Kelima
Terkini
-
Ulasan Beyond the Bar: Menguji Batas Idealisme dalam Praktik Hukum
-
4 Sisi Gelap Emily dalam A Rose for Emily yang Bikin Merinding
-
UPH Festival 2026 Bekali Hampir 7.000 Mahasiswa Baru Temukan Jati Diri dan Panggilan sebagai Menemu
-
Bukan Gadget Murahan! 5 HP Mid-Range Ini Bikin Kamu Serasa Pakai Flagship
-
Dari Merubah hingga Seronok dalam Buku Remah-Remah Bahasa: Perbincangan dari Luar Pagar