Lintang Siltya Utami | Dini Sukmaningtyas
Kendaraan mengantre di SPBU (pekanbaru.go.id)
Dini Sukmaningtyas

Kalau diperhatikan, antrean di SPBU itu sebenarnya cukup menarik. Beberapa kali saya lewat atau mengisi bensin, antrean Pertalite hampir selalu terlihat lebih panjang dan mengular dibandingkan Pertamax. Bahkan, kadang perbedaannya cukup mencolok. Pertalite bisa penuh sampai beberapa baris, sementara antrean Pertamax jauh lebih lengang.

Awalnya saya tidak terlalu memikirkannya. Namanya juga orang memilih bensin yang lebih murah. Tapi semakin melihat antrean yang panjang itu, saya jadi berpikir, ternyata selisih harga beberapa ribu rupiah masih sangat berarti bagi banyak orang. Kalau tidak berarti, rasanya tidak banyak orang yang mau berdiri menunggu selama itu hanya untuk menghemat uang.

Dari sini saya mulai melihat antrean SPBU sebagai sesuatu yang lebih kompleks dari sekadar pemandangan sehari-hari. Ada gambaran tentang daya beli masyarakat di sana. Pilihan antara Pertalite dan Pertamax sedikit banyak menunjukkan bagaimana orang menghitung pengeluaran dan menyesuaikan kebutuhan dengan kondisi dompetnya.

Selisih Harga yang Punya Arti Berbeda

Menurut saya, hal paling menarik dari antrean Pertalite adalah alasan di balik keputusan mereka. Selisih harga BBM beberapa ribu rupiah bisa terlihat kecil jika hanya dilihat dari satu kali pengisian. Namun, cara melihatnya tentu berbeda bagi setiap orang.

Misalnya, seseorang mengisi beberapa liter untuk kebutuhan perjalanan sehari-hari. Uang yang berhasil dihemat mungkin bisa dialihkan untuk membeli sarapan, membayar ongkos, membeli kebutuhan rumah, atau sekadar menambah sisa uang sampai akhir bulan.

Dari sini, saya jadi menyadari bahwa daya beli juga berkaitan dengan seberapa leluasa seseorang menentukan pilihan. Orang dengan kondisi keuangan yang lebih longgar mungkin bisa memilih BBM yang lebih mahal tanpa banyak pertimbangan. Sementara itu, bagi orang yang anggarannya terbatas, harga menjadi faktor penting yang tidak bisa begitu saja diabaikan.

Bahkan, kesediaan mengantre sebenarnya menunjukkan adanya pertukaran yang cukup sederhana. Waktu ditukar dengan penghematan. Kalau uang yang dihemat dianggap lebih bernilai daripada waktu yang digunakan untuk mengantre, pilihan tersebut menjadi masuk akal.

Jangan Menilai Ekonomi dari Ceruk Kecil

Hal lain yang menurut saya perlu diperhatikan adalah cara kita membaca kondisi ekonomi masyarakat. Selama ini, ukuran ekonomi yang terlihat di ruang publik sering kali berasal dari aktivitas konsumsi. Misalnya, pusat perbelanjaan ramai, restoran penuh, kendaraan baru semakin banyak, tiket konser terjual habis, atau gadget terbaru cepat terjual. Dari sana, muncul kesimpulan bahwa masyarakat masih punya daya beli yang kuat.

Namun, kita juga perlu menyadari bahwa masyarakat Indonesia terdiri dari kelompok dengan kemampuan ekonomi yang sangat beragam. Apa yang mudah dibeli oleh kelompok berpenghasilan tinggi belum tentu menjadi pilihan yang realistis bagi kelompok lainnya.

Menurut saya, media sosial juga membuat kondisi ini semakin membingungkan. Di Instagram, misalnya, kita lebih sering melihat orang membeli barang mahal, makan di restoran mewah, atau liburan. Kehidupan kelompok dengan daya beli tinggi terlihat begitu jelas, sementara perjuangan kelompok lain sering berlangsung tanpa banyak sorotan.

Itulah mengapa saya merasa antrean SPBU menarik untuk diperhatikan. Di sana, yang terlihat bukan hanya orang yang sedang membeli BBM, tetapi juga keputusan konsumsi dari berbagai kondisi ekonomi. Pilihan terhadap BBM yang lebih murah menunjukkan bahwa harga masih menjadi pertimbangan penting bagi sebagian masyarakat.

Jadi, sudah waktunya berhenti mengukur ekonomi dari siapa yang mampu membeli iPhone terbaru atau membeli tiket konser K-Pop. Coba sesekali lihat antrean Pertalite. Di sana, beberapa ribu rupiah masih cukup berharga untuk ditukar dengan waktu.