Ada satu ironi yang sering luput dari perhatian masyarakat. Ketika sebuah sekolah swasta mempromosikan gedung megah, laboratorium modern, ruang kelas ber-AC, hingga berbagai program unggulan, publik dengan mudah berasumsi bahwa kesejahteraan guru dan tenaga kependidikan (tendik) di dalamnya juga pasti baik.
Sayangnya, asumsi itu tidak selalu benar.
Di berbagai daerah, masih ada guru dan tenaga kependidikan yang bekerja di sekolah swasta dengan biaya pendidikan yang tidak murah, tetapi menerima gaji yang jauh dari layak. Padahal merekalah yang setiap hari memastikan proses belajar berjalan, mendampingi siswa, mengurus administrasi, hingga menjadi wajah utama sekolah di hadapan orang tua.
Pertanyaannya sederhana: jika orang tua mampu membayar biaya pendidikan yang tinggi, mengapa kesejahteraan pendidik masih tertinggal?
Tentu, tidak semua yayasan memiliki kondisi keuangan yang sama. Ada sekolah kecil yang benar-benar berjuang bertahan dengan jumlah siswa terbatas. Ada pula sekolah yang sengaja menetapkan biaya rendah demi memperluas akses pendidikan. Dalam kondisi seperti itu, keterbatasan anggaran dapat dipahami.
Namun yang sulit diterima adalah ketika sekolah memungut biaya yang relatif tinggi, terus berekspansi, membangun fasilitas baru, dan aktif melakukan promosi, sementara guru dan tenaga kependidikan masih menerima penghasilan yang tidak sebanding dengan beban kerja mereka.
Padahal, kualitas sebuah sekolah tidak pernah ditentukan oleh bangunan semata.
Orang tua memang tertarik pada fasilitas ketika pertama kali berkunjung. Namun alasan mereka bertahan adalah kualitas guru, kedisiplinan tenaga kependidikan, budaya sekolah, dan pelayanan pendidikan yang mereka rasakan setiap hari.
Dengan kata lain, aset paling berharga sebuah sekolah bukan gedungnya, melainkan manusianya.
Menariknya, banyak sekolah negeri justru menunjukkan bahwa keterbatasan biaya pendidikan tidak selalu identik dengan rendahnya kesejahteraan tenaga pendidik. Di sejumlah daerah, biaya yang ditanggung orang tua relatif ringan karena ditopang oleh anggaran pemerintah. Meski belum sempurna, berbagai tunjangan, sertifikasi, serta tambahan penghasilan membuat sebagian guru dapat memperoleh pendapatan yang lebih layak.
Perbandingan ini tentu tidak bisa disamakan begitu saja dengan sekolah swasta, karena sumber pendanaannya berbeda. Namun perbandingan tersebut memunculkan satu pertanyaan penting: jika sekolah yang membebankan biaya relatif kecil kepada orang tua masih mampu memberikan kesejahteraan yang lebih baik melalui dukungan sistem, mengapa sebagian sekolah swasta dengan pemasukan yang jauh lebih besar belum mampu menjadikan kesejahteraan guru sebagai prioritas?
Jawabannya kembali pada pilihan kebijakan.
Yayasan memang perlu menjaga keberlanjutan lembaga. Dana dibutuhkan untuk pemeliharaan gedung, investasi teknologi, pengembangan kurikulum, hingga cadangan operasional. Semua itu penting. Akan tetapi, keseimbangan harus dijaga. Jangan sampai pembangunan fisik berlangsung pesat, sementara kesejahteraan orang-orang yang menjalankan pendidikan justru berjalan di tempat.
Guru yang terus-menerus memikirkan kebutuhan hidup tentu akan kesulitan memberikan kemampuan terbaiknya di ruang kelas. Tenaga kependidikan yang merasa tidak dihargai juga akan kehilangan motivasi. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi meningkatkan pergantian tenaga kerja, menurunkan kualitas layanan, bahkan mengganggu reputasi sekolah itu sendiri.
Ironisnya, sebagian sekolah berlomba-lomba mengejar akreditasi unggul, sertifikasi internasional, dan citra sebagai lembaga pendidikan berkualitas. Semua itu memang penting. Namun kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari dokumen administrasi atau kemegahan fasilitas. Kualitas juga tercermin dari cara sebuah lembaga memperlakukan orang-orang yang mengabdikan hidupnya untuk mendidik generasi berikutnya.
Sudah saatnya yayasan memandang gaji guru dan tenaga kependidikan bukan sebagai beban operasional yang harus ditekan, melainkan sebagai investasi utama. Bangunan bisa direnovasi beberapa tahun sekali. Peralatan bisa diganti ketika usang. Tetapi dedikasi, pengalaman, dan kualitas seorang guru tidak dapat dibeli secara instan.
Sekolah yang benar-benar ingin menghasilkan lulusan terbaik harus terlebih dahulu memastikan bahwa orang-orang yang mendidik mereka hidup dengan layak. Sebab pendidikan yang bermutu tidak lahir dari tembok yang megah, melainkan dari guru dan tenaga kependidikan yang dihargai, disejahterakan, dan diberi ruang untuk bekerja dengan penuh martabat.
Baca Juga
-
Kesadaran Jaminan Hari Tua: Jangan Jadikan Anak sebagai Dana Pensiun
-
Kidung Para Pencari: Menemukan Makna di Tengah Riuh Kehidupan
-
Apa Arti Kemajuan Jika Alam Tak Lagi Bisa Bertahan?
-
Kita Bertengkar dengan Sesama, Padahal yang Harus Ditagih adalah Negara
-
Warung Bu Sastro: Ketika Bisnis Tidak Cuma Soal Menghitung Untung
Artikel Terkait
Kolom
-
POV Mahasiswa: Menjadi Agent of Change dari Bli Nyoman Desa Sejahtera Astra
-
Kesadaran Jaminan Hari Tua: Jangan Jadikan Anak sebagai Dana Pensiun
-
Ambulans Udara hingga Dokter Terbang: Salah Kaprah Pemerintah Sikapi Masalah
-
Kuliner Wisata Kemiren Meluapkan Limbah Sapi Biogas Desa
-
Bukan Sekadar Wisata, Ini Cara Kang Edai Menggerakan Kemiren
Terkini
-
Novel Celebrity Wedding, Pernikahan Kontrak Antara Akuntan Publik dan Musisi
-
1000x Ghea Indrawari, Lagu yang Bikin Saya Berhenti Membandingkan Cinta
-
Tecno Pova 8 5G Resmi di Indonesia, Bawa Baterai 8.000 mAh dan Kamera Sony
-
Flirty dan Sensual! Katseye Jadi Pusat Perhatian di Lagu Hootie Frutti
-
Ulasan Ketok Mejik: Aksi Konyol Para Mekanik Mempertahankan Rumah Warisan