Aset atau tabungan pensiun Indonesia masih berada di kisaran 6–7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), sementara Malaysia sekitar 60 persen. Bank Dunia juga mencatat kesenjangan yang serupa. Pada akhir 2022, aset program pensiun Indonesia sekitar 7 persen PDB, jauh di bawah Malaysia yang sekitar 60 persen dan Singapura sekitar 75 persen.
Dan angka itu bukan sekadar urusan statistik sektor keuangan. Ketika kita tua nanti, siapa yang membayar hidup kita? Kesadaran inilah yang kerap terlupakan di masyarakat kita.
Indonesia sedang bergerak menuju masyarakat yang menua. OJK menyebut Indonesia telah memasuki fase ageing population. Proporsi penduduk berusia 60 tahun ke atas diproyeksikan meningkat signifikan; Bank Dunia memperkirakan proporsinya dapat berlipat dari sekitar 10 persen pada 2010 menjadi 20 persen pada 2045.
Artinya, persoalan pensiun bukan persoalan “nanti saja kalau sudah tua”. Justru karena usia harapan hidup semakin panjang, kita membutuhkan uang lebih lama setelah berhenti bekerja.
Masalahnya, budaya mempersiapkan pensiun di Indonesia belum cukup kuat. Data OJK menunjukkan industri dana pensiun memang terus bertumbuh. Pada April 2026, total aset dana pensiun mencapai sekitar Rp1.690,64 triliun. Namun, program pensiun sukarela hanya sekitar Rp410,14 triliun, sementara sisanya berasal dari program wajib. Pertumbuhan tersebut tentu kabar baik. Tetapi besarnya aset belum otomatis berarti setiap orang Indonesia mempunyai dana pensiun yang cukup untuk membiayai hidupnya kelak.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak. Apakah kita betul-betul berharap anak, menantu, bahkan cucu kelak memberi “jatah bulanan” kepada kita?
Membantu orang tua tentu bukan sesuatu yang buruk. Bahkan dalam banyak keluarga, merawat orang tua adalah bentuk kasih sayang, tanggung jawab, dan dalam kondisi tertentu merupakan kewajiban moral maupun agama. Tidak ada yang salah dengan anak membantu orang tuanya.
Yang menjadi persoalan adalah ketika membantu berubah menjadi kewajiban finansial permanen karena orang tua tidak pernah mempersiapkan masa tuanya sendiri.
Anak-anak zaman sekarang pun menghadapi beban yang tidak ringan. Mereka harus membayar rumah, pendidikan anak, kesehatan, transportasi, kebutuhan sehari-hari, dan berbagai kebutuhan keluarga sendiri. Jika pada saat yang sama mereka harus membiayai orang tua yang sebenarnya masih sehat dan produktif, tekanan itu dapat menjalar ke rumah tangga mereka.
Pada titik tertentu, masalah pensiun orang tua berubah menjadi masalah keluarga anak.
Inilah lingkaran yang harus diputus. Kita sering berbicara tentang investasi saham, properti, emas, bisnis, bahkan dana pendidikan anak. Namun dana pensiun justru sering menjadi urusan paling belakangan. Padahal secara logika, anak tidak seharusnya menjadi “produk investasi” untuk membayar masa tua orang tuanya.
Kalau sejak muda kita sadar bahwa suatu hari tenaga akan berkurang, pendapatan bisa berhenti, sementara kebutuhan hidup tetap berjalan, maka persiapan pensiun seharusnya dimulai sedini mungkin. Tidak harus langsung besar. Yang penting konsisten.
Sisihkan sebagian penghasilan. Bangun dana darurat. Kelola utang. Miliki perlindungan kesehatan. Pelajari instrumen investasi dan program pensiun yang sesuai kemampuan. Jangan menganggap rumah yang ditempati otomatis sama dengan dana pensiun. Dan jangan pula menganggap anak sebagai rekening pensiun yang akan selalu tersedia.
Malaysia memberi gambaran bahwa akumulasi dana pensiun bisa dibangun dalam skala jauh lebih besar. Perbandingan Indonesia dan Malaysia memang tidak bisa dilepaskan dari perbedaan desain sistem, tingkat kepesertaan, dan sejarah kebijakan masing-masing. Tetapi justru karena itu, kita perlu bertanya: apa yang bisa diperbaiki dari sistem dan kebiasaan kita?
Sebab, persoalannya bukan sekadar berapa persen dana pensiun terhadap PDB. Persoalannya adalah apakah kita ingin menua dengan bermartabat atau menua dengan memindahkan seluruh beban hidup kepada generasi berikutnya.
Untuk generasi yang hari ini masih muda, pertanyaannya sederhana: tiga puluh atau empat puluh tahun lagi, ketika usia memasuki 60-an, apakah kita ingin anak-anak kita menghidupi kita?
Kalau jawabannya tidak, maka persiapannya bukan dimulai ketika usia 59. Dimulai sekarang. Dan bagi orang tua yang masih sehat, masih mampu bekerja, tetapi menjadikan uang bulanan dari anak sebagai sesuatu yang wajib diberikan setiap bulan, mungkin sudah waktunya bercermin. Anak memang boleh membantu. Tetapi kasih sayang anak jangan dijadikan alasan untuk mengabaikan tanggung jawab finansial kita sendiri.
Jangan sampai kita menjadi generasi yang ketika muda bergantung kepada orang tua, lalu ketika tua bergantung kepada anak. Warisan terbaik untuk anak bukan hanya rumah atau tabungan. Kadang-kadang, warisan terbaik adalah tidak meninggalkan beban finansial kepada mereka.
Baca Juga
-
Uang Negara Bukan Cek Kosong: Pelajaran dari Putusan MK soal APBN
-
Ketika Nasihat Mindfulness Bertemu Realitas yang Tidak Setara
-
Masih Dianggap Tabu, Padahal Marital Rape Diatur dalam Hukum Indonesia
-
Keracunan MBG: Antara Kelalaian, Pengawasan, dan Tanggung Jawab Pidana
-
Semangat Muda: Ketika Tan Malaka Membaca Indonesia dari Pertarungan Kelas
Artikel Terkait
Kolom
-
Jangan Tunggu Burnout: Pentingnya Ambil Ruang Jeda Sebagai Kebiasaan Rutin
-
Akun Cenblu Menjamur di X, tapi Kenapa Kontennya Justru Makin Tak Bermutu?
-
Dari Sebentar Saja Jadi Berjam-jam: Jebakan Doomscrolling Sebelum Tidur?
-
Uang Negara Bukan Cek Kosong: Pelajaran dari Putusan MK soal APBN
-
Centang Biru Mati dan Slow Reply: Menjaga Batasan atau Ruang Manipulasi Chat?
Terkini
-
Kim Young Kwang dan Lee Ju Myoung Dipastikan Bintangi The Queen of Taming
-
Review Novel Resign!: Saat Keluar dari Kantor Jadi Sebuah Taruhan
-
The Love Hypothesis: Cinta Tumbuh Karena Sering Bersama
-
Bikin Makeup Flawless dan Tahan Lama: 5 Primer Serum Pengunci Kelembapan
-
Alya Sometimes Hides Her Feelings in Russian 2 Rilis PV Baru, Tayang 2027