Sekar Anindyah Lamase | Oktavia Ningrum
Ilustrasi Berkabung (Pexels/Javid Hashimov)
Oktavia Ningrum

Ada satu kebiasaan yang sudah begitu lama hidup di masyarakat hingga jarang lagi dipertanyakan. Ketika sebuah keluarga sedang berduka, entah mengapa mereka justru dianggap berkewajiban menyediakan makanan bagi para pelayat dan tamu yang datang. Bukan sedikit pula yang merasa harus menyiapkan ratusan kotak makanan selama beberapa malam tahlilan, meski kondisi ekonomi mereka sebenarnya pas-pasan.

Padahal, jika dipikir dengan jernih, di mana letak logikanya?

Keluarga yang baru kehilangan ayah, ibu, pasangan, anak, atau saudara sedang berada dalam kondisi emosional yang berat. Fokus mereka seharusnya adalah mengurus jenazah, menerima belasungkawa, dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk berduka. Bukan justru dipusingkan oleh urusan belanja bahan makanan, mencari katering, menghitung jumlah tamu, hingga memikirkan apakah konsumsi yang disediakan sudah cukup.

Yang lebih mengherankan, kewajiban itu sering dibenarkan dengan alasan balas budi kepada tetangga yang telah membantu proses pemakaman.

Cara berpikir seperti ini justru keliru.

Membantu tetangga yang sedang berduka adalah bagian dari nilai kemanusiaan dan gotong royong. Pertolongan itu semestinya lahir dari empati, bukan dari harapan akan memperoleh jamuan makan. Jika bantuan baru terasa pantas setelah dibalas dengan konsumsi, maka makna kepedulian perlahan bergeser menjadi transaksi sosial. Kita seolah sedang menukar tenaga dengan nasi kotak.

Bukankah justru keikhlasan diuji ketika kita membantu seseorang yang sedang mengalami musibah tanpa mengharapkan imbalan apa pun?

Hal serupa juga tampak dalam tradisi tahlilan atau pengajian. Sebagian orang datang karena ingin mendoakan almarhum, tetapi tidak sedikit pula yang menjadikan hidangan sebagai bagian yang "ditunggu". Jika ukuran semangat menghadiri doa bersama adalah besek atau kotak makanan yang dibawa pulang, ada sesuatu yang perlu kita renungkan kembali. Nilai spiritual sebuah pertemuan semestinya tidak bergantung pada isi bungkus yang dibagikan setelah acara selesai.

Bukan berarti menyediakan makanan adalah sesuatu yang salah.

Jika keluarga yang berduka memang memiliki kemampuan finansial, merasa lapang, dan dengan sukarela ingin menjamu tamu, tentu itu merupakan bentuk penghormatan yang baik. Tidak ada yang perlu dipersoalkan. Yang menjadi masalah adalah ketika jamuan tersebut berubah menjadi kewajiban sosial yang memaksa. Demi menjaga gengsi atau takut menjadi bahan pembicaraan, keluarga akhirnya berutang, menjual harta, atau menambah beban di tengah suasana duka.

Tradisi yang baik seharusnya meringankan, bukan memberatkan.

Logika yang lebih tepat justru sebaliknya. Tetangga, kerabat, dan sahabatlah yang bergerak membantu menyediakan makanan. Mereka dapat membawa lauk, kue, minuman, atau makanan siap saji agar keluarga yang berduka tidak lagi memikirkan urusan konsumsi. Jika tidak mampu membawa makanan, membantu tenaga, mengatur parkir, menerima tamu, atau membersihkan rumah pun sudah merupakan bentuk kepedulian yang sangat berarti.

Semangat gotong royong bukan terletak pada siapa yang menjamu, melainkan pada siapa yang bersedia meringankan beban sesamanya.

Sayangnya, pola pikir bahwa setiap pertemuan harus disertai makanan tampaknya telah merambah ke banyak aspek kehidupan.

Tidak sedikit panitia kegiatan yang lebih sibuk bertanya apakah peserta akan diberi makan daripada membahas kualitas materi acara. Padahal kegiatan hanya berlangsung satu atau dua jam. Seolah-olah kehadiran seseorang tidak lagi didorong oleh manfaat ilmu, melainkan oleh menu konsumsi yang disediakan.

Cara berpikir seperti ini juga tercermin dalam birokrasi. Rapat singkat disertai kudapan. Pertemuan beberapa jam dilengkapi makan siang. Kegiatan di luar kota sering kali diikuti berbagai komponen biaya konsumsi, perjalanan, penginapan, hingga berbagai tunjangan lain yang nilainya tidak kecil. Jika dikumpulkan secara nasional, anggaran konsumsi dalam berbagai kegiatan pemerintahan mencapai angka yang sangat besar.

Tentu tidak semua konsumsi dalam kegiatan resmi merupakan pemborosan. Ada situasi tertentu yang memang memerlukannya. Namun, ketika budaya menjamu berubah menjadi kewajiban yang dilakukan tanpa mempertimbangkan kebutuhan, efisiensi, maupun konteks, di situlah pemborosan mulai tumbuh dan dianggap sebagai sesuatu yang lumrah.

Sudah saatnya kita memperbaiki cara pandang. Makanan adalah bentuk keramahan, bukan syarat penghormatan. Jamuan adalah pilihan, bukan kewajiban. Terlebih dalam suasana duka, yang paling dibutuhkan sebuah keluarga bukanlah tekanan untuk menjadi tuan rumah, melainkan kehadiran orang-orang yang tulus membantu mereka melewati masa paling berat dalam hidupnya.