Sebagai seorang penikmat sasta klasik sekaligus penggemar sinema, saya selalu dibuat takjub oleh bagaimana sebuah cerita dapat terus hidup dan bermetamorfosis melintasi zaman. Ketika karya fenomenal Mary Shelley, Frankenstein; or The Modern Promethus, diadaptasi kembali ke layar lebar pada tahun 2025, rasa penasaran langsung menguasai saya.
Saya tidak hanya ingin melihat visualisasi monster yang mengerikan, tetapi juga mendalami bagaimana esensi tragedi di dalamnya diterjemahkan untuk penonton modern. Setelah membaca ulang novelnya dan menonton versi film 2025, saya merasakan adanya pergeseran tragedi yang cukup mengganjal. Film ini memang berhasil menawarkan keindahan estetika visual gotik yang memikat, tetapi bagi saya pribadi, adaptasi layar lebar ini justru memangkas esensi paling kelam dan paling tragis dari mahakarya asli tulisan Mary Shelley.
Perbedaan pertama yang saya rasakan adalah pada eksplorasi rasa asing dan isolasi psikologis Sang Makhluk. Di dalam teks bukunya, Mary Shelley memberikan porsi tulisan yang sangat detail, panjang, dan puitis tentang bagaimana Sang Makhluk belajar mengenal dunia di sekitarnya. Saya selalu merasa hanyut dan tersentuh saat membaca bab demi bab ketika ia mengamati keluarga De Lacey secara sembunyi-sembunyi dari celah dinding pondok kayu, belajar bahasa manusia, memahami konsep cinta, dan mendambakan penerimaan dengan kepolosan yang murni.
Pembaca benar-benar dibawa merasakan kepedihan yang sangat mendalam saat kepolosan itu dihantam oleh penolakan berulang kali. Di dalam film 2025, tentu karena adanya keterbatasan durasi yang ketat, proses belajar dan pencarian identitas yang emosional ini terpaksa dipangkas drastis, sehingga kedalaman rasa terasing Sang Makhluk terasa jauh lebih mengendur dan kurang memukul.
Tidak hanya itu, dalam film Sang Makhluk mendapatkan sedikit bentuk penerimaan sosial, salah satunya dari Elizabeth. Di dalam novel karya Shelley, Sang Makhluk mengalami penolakan yang sifatnya mutlak dan amat dingin dari setiap manusia yang ia temui sepanjang hidupnya. Tidak pernah ada seorang pun yang memberinya ruang kasih sayang sedikit pun.
Penolakan total tanpa sisa itulah yang akhirnya memicu keputusasaan mendalam dan mendorongnya jatuh ke dalam lingkaran dendam yang menghancurkan. Ketika film 2025 memilih untuk menyelipkan momen penerimaan dari Elizabeth, rasa terisolasi yang menjadi jantung utama dari penderitaan Sang Makhluk justru kehilangan daya emosionalnya bagi kacamata saya sebagai pembaca novelnya.
Pergeseran berikutnya yang menjadi perhatian saya adalah pada pembentukan latar belakang masa kecil sang ilmuwan, Victor Frankenstein. Dalam tek buku tahun 1818, Shelley dengan tegas menggambarkan bahwa Victor tumbuh dan dibesarkan di dalam lingkungan keluarga yang amat hangat serta penuh kasih sayang. Karaketrisasi ini membuat obsesi Victor menciptakan kehidupan baru murni lahir dari kesombongan akademis dan ambisi intelektual yang melampaui kodrat manusia.
Sebaliknya, film 2025 mengubah latar ini secara signifikan dengan menghadirkan masa kecil Victor yang sarat akan trauma keluarga. Perubahan ini menggeser akar psikologis karakter secara drastis, di mana Victor tidak lagi terlihat sebagai ilmuwan arogan yang memikul dosa moral murni atas ciptaannya, melainkan sekadar sosok pria rusak yang bertindak akibat bentukan trauma serta luka masa lalunya sendiri.
Puncaknya ada pada bagian penutup. Novel Mary Shelley ditutup dengan sebuah tragedi absolut yang amat dingin di atas kapal kayu di tengah lautan Kutub Utara. Victor meninggal tanpa adanya rekonsiliasi penuh, sementara Sang Makhluk menghilang ke dalam kegelapan lautan es untuk memusnahkan dirinya sendiri, sebuah akhir cerita yang kelam, mengerikan, dan menghancurkan.
Sementara itu, film 2025 memilih resolusi sinematik yang cenderung memberi ruang bagi konfrontasi dialogis dan pengampunan emosional antar karakter, sebuah pendekatan yang jauh terlalu manis dan kompromistis bagi saya.
Bagi saya, pengalaman menonton film Frankenstein (2025) justru membuat saya semakin mengagumi ketajaman tulisan Mary Shelley. Filmnya mungkin berhasil menyajikan hiburan visual yang indah dan memanjakan mata, tetapi bagi saya pribadi, jika sejati dari tragedi Frankenstein tentang kepolosan yang dihancurkan oleh enolakan total serta ambisi dingin manusia, tetap abadi di dalam lembaran-lembaran bukunya.
Baca Juga
-
Review Film Fall (2022): Saat Ketinggian Ekstrem Membongkar Rahasia dan Trauma Terkelam
-
Mengulas Film 'Fall 2: Deadpoint' dan Ketakutan yang Tidak Selesai
-
Memahami Takdir, Keberanian, dan Kebijakan dalam Novel 'The Alchemist'
-
Memahami Trauma di Balik Ruang Bawah Tanah dalam Film Girl in the Basement
-
Harapan Hingga Kehancuran: Kesegaran Unik dalam Resident Evil (2026)
Artikel Terkait
-
Sinopsis Film Naik Level: Ambisi Davina Karamoy Bawa Salon Kampung Menembus Kelas Mewah
-
Ratusan Ton Karbon untuk Satu Film: Saatnya Industri Sinema Bergerak Lebih Hijau
-
Nana Patekar, Aktor Watak Terbaik India Meninggal Dunia di Usia 75 Tahun
-
Michelle Yeoh Sebut Ingin Bintangi Film Korea dari 3 Sutradara Ternama Ini
-
He's Just Not That Into You: Ketika Kita Terlalu Sibuk Mencari Alasan
Ulasan
-
Kenanga: Ketika Adat Bali Mengikat Cinta dan Membatasi Kebebasan Perempuan
-
Lebih dari Sekadar Hujan Peluru, One Last Shot Tutup Trilogi dengan Penuh Haru
-
Nyawa Baru di Balik 'Risalah Hati' Yura yang Bikin Pendengar Ikut Galau
-
Four Hands, Two Sonatas: Persaingan, Persahabatan, dan Ambisi Meraih Mimpi
-
Di Luar Ada Zombie, di Dalam Ada Pembunuh! Review Novel Murder at Shijinso
Terkini
-
Menanti Taisei Marukawa Berseragam Garuda: Jatuh Cinta pada Indonesia dan Siap Jadi WNI
-
Fenomena Gamer Rage: Saat Caci Maki dan Perundungan di Gim Dianggap Wajar
-
Serial Crazy Rich Asians Resmi Digarap, Michelle Yeoh Bakal Comeback
-
Ada Format Baru di MotoGP 2027, Begini Respon Marc Marquez dan Jorge Martin
-
3 Rekomendasi Drakor Netflix Oktober 2026: Dari Misteri Medis hingga Aksi Spionase