Istilah quiet luxury semakin sering muncul di media sosial. Bisa dibilang tren ini lebih menonjolkan kesan style yang sederhana, elegan, dan berkualitas. Ibarat kata, "mahal tanpa harus terlihat mahal" menjadi ciri khas gaya ini.
Menariknya, tren tersebut juga mulai digemari oleh banyak Gen Z. Tidak sedikit kreator konten yang membagikan inspirasi berpakaian, dekorasi rumah, hingga gaya hidup yang mengusung konsep “less is more”.
Sebenarnya quiet luxury membawa pesan positif tentang kualitas dibanding kuantitas. Namun, saat tren ini menjadi standar baru di media sosial, muncul pertanyaan: apakah ini benar-benar pilihan gaya hidup atau justru tekanan sosial dalam versi berbeda?
Dari Pamer Logo ke Pamer Selera
Jika beberapa tahun lalu barang bermerek dengan logo besar menjadi simbol status, kini trennya mulai berubah. Sesuatu yang dianggap menarik justru penampilan sederhana, tapi tetap terlihat berkelas.
Di media sosial, kita sering melihat konten bertema old money style, clean aesthetic, atau capsule wardrobe yang lekat dengan konsep quiet luxury. Sekilas, gaya ini terlihat lebih sederhana dan tidak berlebihan.
Namun, yang berubah bukan keinginan untuk terlihat baik, melainkan cara menunjukkannya. Dulu orang ingin terlihat mewah melalui logo, sekarang justru dari kesan "tidak berusaha terlihat mewah" itu sendiri.
Media Sosial Membentuk Standar Baru
Sulit dimungkiri kalau media sosial memiliki peran besar dalam menyebarkan tren quiet luxury. Algoritma terus menampilkan konten serupa hingga banyak orang merasa gaya hidup tersebut adalah sesuatu yang ideal.
Lama-kelamaan, muncul anggapan kalau tampil sederhana tapi elegan menjadi standar baru yang harus diikuti. Padahal, tidak semua orang memiliki kondisi finansial atau kebutuhan yang sama.
Masalah kemudian muncul. Tren yang awalnya hanya inspirasi berubah menjadi ukuran keberhasilan seseorang. Akibatnya, ada yang merasa perlu membeli pakaian baru, mengganti dekorasi kamar, atau mengikuti gaya tertentu hanya agar terlihat sesuai dengan tren.
Hidup Sederhana atau Tetap Konsumtif?
Yang menarik, quiet luxury sering dikaitkan dengan gaya hidup yang lebih bijak. Mengutamakan kualitas dibanding jumlah memang terdengar lebih berkelanjutan daripada membeli banyak barang murah yang cepat rusak.
Namun di sisi lain, media sosial juga membuat banyak orang tergoda membeli berbagai produk demi mendapatkan tampilan quiet luxury. Ironisnya, seseorang justru mengeluarkan lebih banyak uang demi terlihat sederhana.
Menurut saya, fenomena ini menunjukkan kalau gaya hidup apa pun tetap bisa berubah menjadi konsumtif jika motivasinya hanya untuk memenuhi ekspektasi sosial, termasuk quiet luxury.
Quiet Luxury Tidak Harus Mahal
Banyak orang mengira quiet luxury identik dengan harga yang tinggi. Padahal, esensi tren ini bukanlah tentang merek atau harga, melainkan memilih barang yang fungsional, berkualitas, dan bisa digunakan jangka panjang.
Seseorang tetap bisa menerapkan konsep tersebut dengan membeli pakaian sesuai kebutuhan, merawat barang yang dimiliki, atau memilih desain yang tidak mudah ketinggalan zaman. Sebab gaya hidup bijak justru tentang cara kita menggunakan apa yang sudah dimiliki.
Jangan Sampai Tren Menentukan Identitas
Setiap tren pasti datang dan pergi. Hari ini mungkin quiet luxury, besok bisa muncul konsep gaya hidup baru yang kembali menjadi perbincangan. Karena itu, penting bagi kita untuk tidak menjadikan tren sebagai ukuran identitas diri.
Mengikuti tren bukan sesuatu yang salah selama dilakukan karena memang sesuai dengan kebutuhan dan kenyamanan pribadi. Jangan sampai kita ikut-ikutan tren karena takut dianggap ketinggalan.
Memilih Gaya Hidup yang Sesuai dengan Diri Sendiri
Tren quiet luxury menunjukkan kalau cara anak muda memandang kemewahan mulai berubah. Fokus pada kualitas, kesederhanaan, dan penggunaan barang yang lebih tahan lama tentu memiliki banyak sisi positif.
Namun, tren ini juga mengingatkan tentang tekanan sosial di media digital. Gaya hidup yang terlihat sederhana pun bisa menjadi sumber tekanan jika dijadikan standar yang harus diikuti semua orang.
Pada akhirnya, gaya hidup terbaik bukanlah yang paling viral di media sosial, melainkan yang paling sesuai dengan kondisi, kebutuhan, dan nilai yang kita miliki. Sebab kemewahan yang sesungguhnya bukan tentang terlihat kaya, tapi merasa cukup.
Baca Juga
-
HUT ke-81 RI dan Merdeka dari FOMO: Saatnya Berhenti Mengikuti Semua Tren!
-
Merdeka dari Ekspektasi Orang Lain: Perjalanan Temukan Versi Diri Sendiri
-
Bukan Sekadar Ikut Tren: Memaknai Kemerdekaan Digital Gen Z di Tengah Gempuran FOMO
-
Gen Z dan Era AI: Merdeka Berkreasi atau Makin Bergantung pada Teknologi?
-
Generasi Muda dan Kemerdekaan Ekonomi: Ketika Lapangan Kerja Jadi Tantangan
Artikel Terkait
Kolom
-
Underemployment: Saat Keringat Sarjana Cuma Jadi Angka Formal
-
Desa Les Bekali Generasi Muda dengan Bahasa Inggris, Siap Mendunia?
-
Naturalisasi Pemain Sepak Bola: Proses Kemenangan atau Kesalahan Berulang?
-
Membaca di Ruang Publik: Gerakan Senyap Membiasakan Membaca di Mana Saja
-
Merawat Budaya, Menggerakkan Ekonomi: Perjalanan Kemiren Bersama Astra
Terkini
-
Review Juvenile Justice: Ketika Usia Menjadi Tameng bagi Pelaku Kejahatan
-
Dianggap Mitos hingga Diakui Pahlawan Nasional: Siapakah Ratu Kalinyamat?
-
5 Merek Sepatu Lokal dengan Visual Keren dan Harga Terjangkau
-
4 Clay Mask Ampuh Bersihkan Pori untuk Cegah Bruntusan pada Kulit Berminyak
-
Malam Ini! Arsenal vs Manchester City di Community Shield, Siapa Lebih Unggul?